DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 281 - Apakah Dia Baik-Baik Saja?


__ADS_3

Malampun tiba, Berli tinggal seorang diri di rumah. Ia hanya terbaring lemas dan sakit. Setelah David membawanya ke klinik, ia memang langsung di antar ke rumah nya. Meskipun masih dalam keadaan canggung, David tak segan untuk memberikan kepedulian nya.


Berli memijat tipis kepala nya. "Rasanya kepalaku pusing sekali".


Berli mengedarkan pandangan nya ke sekeliling, ia melihat benda itu di nakas.


"Cepat sembuh Berli. Aku tahu, ini tidak mudah untuk di terima. Aku hanya ingin mengucapkan semoga cepat sembuh untukmu. Dan segera membaik untuk pertemanan kita:)"


Isi secarik kertas yang David tulis dan tinggalkan disana bersama obat-obatan yang ia dapatkan dari dokter tadi.


Berli hanya menghela nafas tanpa ekspresi. Ia tak ingin menanggapi apa-apa yang berhubungan dengan David. Meskipun ada rasa terimakasih di hatinya.


Sementara, di kamar yang megah itu seorang pria masih bergelut dengan keputusan nya.


Felix mengacak tipis rambutnya. "Aku tidak bisa seperti ini terus. Ini menyiksaku, aku harus memastikan keadaannya. Entah bagaimana akhirnya, aku hanya ingin memastikan bahwa ia baik-baik saja sekarang"


Ia menyambar jaket yang tergantung di kamar nya, tak lupa ia melenggang dengan sebuah kunci mobil untuk datang ke rumah Berli. Entah bagaimana ia merasa sangat gelisah malam ini. Ia benar-benar khawatir tentang keadaan Berli.


Felix melenggang dengan cepat, membuat Bu Inez bertanya-tanya tentang hal yang membuat nya terburu-buru.


"Nak, kau ingin pergi kemana?. Ini sudah malam, mengapa kau terburu-buru"


Felix menoleh dan berhenti. "Aku harus mengurus beberapa urusan"


Bu Inez mengernyit. Ia tahu persis Felix akan menemui Berli. Tak ada hal lain yang membuatnya terburu-buru, selain wanita itu.

__ADS_1


"Menemui Berli?". Ucap Bu Inez penuh selidik.


Felix menganggukan sedikit kepalanya lalu pergi. Ia tak ingin terlalu banyak menjawab pertanyaan ibunya, karena ia akan terus mencerca nya.


Bu Inez hanya memandang punggung Felix yang berlalu dengan perasaan geram. "Wanita itu ternyata masih berusaha untuk meyakinkan anakku. Jadi, sepertinya mereka sudah kembali bersama. Aku tidak akan membiarkan ini terjadi. Lihat saja nanti".


Setelah beberapa saat Felix melakukan perjalanan, akhirnya ia sampai di tempat yang tak jauh dari kediaman Berli. Ia memperhatikan lingkungan rumah Berli yang sunyi. Ia belum memutuskan untuk turun, ia hanya mengintai diluar. Banyak pertimbangan ketika ia memutuskan untuk datang.


"Untuk apa aku mencari tahu?. Ini sama sekali tak berguna untukku. Rasa khawatirku tidak kan mengubah apa yang telah terjadi". Gumam Felix, meskipun perkataan nya tak sesuai dengan isi hatinya.


Tak berselang lama, Felix melihat pemandangan di depan nya. Seorang wanita paruh baya, datang menghampiri rumah Berli dengan membawa buah tangan. Jarak nya tidak terlalu jauh, sehingga Felix bisa mendengar apa yang ia katakan.


Wanita itu mengetuk pintu rumah Berli.


"Berli, buka pintunya. Ini aku.."


Berli memegang pelipis nya yang masih pusing untuk bangun. "Sebentar". Ia berusaha beranjak untuk membuka pintu.


Sesampainya di ambang pintu, ia tersenyum ramah. Seorang tetangga datang untuk menemuinya.


"Ibu? Silahkan masuk". Ucap Berli ramah.


"Tidak nak, aku datang kesini hanya untuk mengantar ini". Ia memberikan kantung kresek yang ia bawa untuk Berli.


"Kau pasti tidak bisa memasak karena sakit kan?. Tadi aku melihatmu pulang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Nak, apa kau sakit?. Kau bisa menginap di rumahku jika kau mau. Setidaknya kau mempunyai teman kan". Ibu tetangga itu sangat simpati padanya.

__ADS_1


Berli tersenyum. "Sebelumnya terimakasih, tetapi aku tidak ingin merepotkan siapapun. Seharusnya kau juga tidak perlu repot-repot memasak untukku, besok aku akan kembali pulih. Aku hanya butuh istirahat saja".


"Nak, perasaan seorang ibu itu kuat. Kau memang bukan anakku, tetapi aku mempunyai anak yang seumuran denganmu. Menjalani hidup sendirian terkadang sulit bukan?. Aku tahu itu". Ia mengelus lengan Berli perlahan.


Berli terharu. "Terimakasih banyak, kau sangat baik, semoga kalian selalu bahagia"


Ibu itupun tersenyum, lalu berkata. "Nak Berli, pria itu bukankah kekasihmu?. Mengapa kalian tidak memutuskan untuk menikah saja?. Kau harus membuka lembaran baru dengan seseorang, kau akan lebih bahagia jika kau memiliki keluarga. Dan di saat seperti ini, kau tidak akan sendirian lagi"


Deggg, Hati Berli berdesir. Ia tahu pria yang di maksud Ibu ini adalah David. Namun ingatan nya hanya tentang Felix.


Berli mencoba untuk tak terbawa suasana. "Itu.. Sebenarnya pria tadi bukan kekasihku, ia hanya teman biasa. Kekasihku sedang sibuk bekerja, jadi ia tidak tahu bahwa aku sakit. Aku juga selalu berpikir begitu, suatu saat nanti mungkin aku akan membangun sebuah keluarga dengan orang yang tepat. Dengan begitu aku tidak akan sendirian lagi. Tetapi, saat ini rasanya tidak mungkin. Aku masih butuh beberapa proses untuk mencapai semua itu bu, doakan saja ya.. "


"Jangan berkata tidak mungkin nak, kau anak yang baik, tentu kau akan bertemu dengan jodoh yang baik juga. Suatu saat nanti hidupmu pasti akan sangat bahagia. Kekasihmu sangat beruntung karena mengenalmu"


Berli tersenyum, ia berharap ucapan itu akan benar-benar terjadi.


"Terimakasih, terimakasih banyak bu.. Kau sangat baik".


"Bukan apa-apa. Ah iya, nak aku harus pamit pulang. Habiskan makananmu ya. Beristirahatlah yang cukup. Jika kau butuh bantuan kau bisa menelponku, aku pasti akan membantu sebisaku".


"Terimakasih banyak, sekali lagi aku ucapkan bu"


"Baiklah, sampai nanti.. ". Ibu itupun melenggang pergi.


Tanpa mereka sangka, sejak tadi Felix mendengar percakapan itu. Ada sedikit terbesit di hatinya. Ternyata Berli masih begitu mengharapkan hidup bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2