
"Jadi teman mu itu mengharapkan pria yang sudah ia sakiti agar kembali bersamanya?". Tanya Felix seraya menyantap hidangan di hadapan nya itu. Sejak tadi sepasang kekasih itu sudah berada di sebuah cafe sederhana untuk kencan nya sore ini.
"Ya.. Begitulah. Bagaimana menurutmu?". Berli menjawab dengan pemikiran yang tak memungkinkan.
Kini Berli tampak cantik menggunakan kemeja dan celana panjang berwarna soft nude. Kecantikan nya bertambah saat ini memoles sedikit make up di wajah cantiknya. Tak lepas dari kerudung yang senada dengan pakaian nya.
"Jika aku menjadi pria itu, aku tidak akan pernah mau kembali bersamanya. Aku pikir aku bisa menemukan yang lebih baik darinya". Jawab Felix enteng dengan nada dingin nya
"Kau benar. Emm.. Lalu bagaimana jika aku menyakitimu?". Berli bertanya dengan nada gurau nya
"Aku tidak akan pernah menyakitimu kembali. Bagiku kau segalanya. Aku akan pergi jika kau yang meminta". Balas Felix yang membuat Berli terharu
"Aku beruntung memilikimu". Gumam Berli tersenyum sambil menatap lekat wajah tampan Felix
"Aku lebih beruntung memilikmu". Balas Felix
"Ah.. Sudah, ayo makan.. ". Berli berusaha mengendalikan perasaan nya yang kasmaran.
"Sini. Aku akan menyuapimu". Felix menyodorkan sendok berisi makanan ke arah mulut Berli
"Felix.. Tidak usah. Aku malu". Berli menolak dengan pipinya yang merona
"Kenapa? Tidak ada yang melihat kita. Ayo, buka mulutmu". Felix menyodorkan makanan itu dengan lembut
Tanpa menunggu lama Berli langsung menuruti permintaan kekasih hatinya itu. Aura cinta bersemi di antara mereka.
"Kau juga harus makan. Ayo, sekarang giliranku". Berli membalas dengan menyodorkan sendok berisi makanan
Felix yang mengalami itu hanya bisa menerima perlakuan manis dari kekasihnya itu. Dengan senang hati ia menerima suapan lembut dari Berli.
......................
"Tante. Jovanka pamit pulang ya. Lagipula sepertinya Felix sedang sibuk. Aku akan kembali besok". Ucap Jovanka yang sejak tadi menunggu kedatangan Felix namun tak kunjung datang. Ia sudah merasa bosan berada di rumah itu.
"Maafkan Felix ya nak. Tante akan memintanya menemuimu besok ya". Ucap Bu Inez penuh iba
"Tidak apa. Jovanka pulang.. Dahh tante.. ". Jovanka berlalu pergi
__ADS_1
"Dahh sayang". Balas Bu Inez dengan senyuman
"Lagi lagi rencanaku gagal. Felix seperti sudah mengerti kapan aku akan datang". Jovanka membatin penuh kekesalan.
......................
"Lalu kita akan kemana lagi tuan putri?". Ucap Felix sambil tertawa renyah di atas motor matic nya itu
Hari memang sudah mulai malam. Setelah menjalankan ibadah shalat magrib di sebuah masjid, mereka memang memutuskan untuk melanjutkan kembali waktu kebersamaan mereka dengan mengelilingi kota mengenakan motor matic kesayangan Felix itu.
"Emm.. Kemana ya..". Berli bingung. Pasalnya ia tak terbiasa keluar malam hari. Meskipun waktu malam ini masih dekat dengan waktu magrib, yang artinya belum larut malam.
"Sepertinya ada pasar malam disana. Kau ingin kesana?". Tanya Felix. Sebenarnya Felix pun bingung akan pergi kemana, namun dari kejauhan ia melihat keramaian pasar malam.
"Ide bagus. Ayo.. ". Berli semangat
Setelah melajukan motornya beberapa meter, mereka langsung sampai di pasar malam itu. Lampu berkilauan, riuh orang yang datang benar benar membuat malam ini menjadi indah.
"Wah.. Felix.. Ini bagus sekali". Berli terkagum melihat pasar malam itu. Pasalnya pasar malam ini terlihat begitu indah dan rapi di bandingkan pasar malam seperti biasanya. Wahana tiap wahana di penuhi banyak orang yang mengantri, namun sangat tertib dan teratur.
"Kau suka?". Felix tersenyum melihat senyuman yang terpancar dari wajah cantik Berli
Mereka masuk ke dalam pasar malam itu dengan hati yang berbunga. Sebenarnya bukan tentang pasar malam nya, namun tentang kebersamaan mereka yang begitu indah. Sementara sejak tadi Felix tak melepaskan tangan Berli dari genggaman nya. Tangan mungil itu seolah sudah menjadi candu untuk di genggam erat.
"Felix lihat. Disana ada mini foto box. Kau mau kan mencobanya? Sepertinya itu menarik. Dan untuk kenang kenangan juga..". Berli menunjuk ke arah tempat foto box mini yang berada di area pasar malam itu. Sebenarnya ia tertarik untuk membuat kenangan bersama Felix.
"Apapun yang tuan putriku inginkan. Hamba akan kabulkan". Felix tertawa renyah
"Sayang.. ". Berli tersipu malu sambil membenamkan wajahnya di lengan kekar Felix
"Baiklah.. Ayo.. Kita akan berfoto". Ucap Felix lembut penuh senyuman
Berli hanya tersenyum keindahan sambil berjalan menuju tempat itu. Sungguh pasangan yang serasi.
Setelah selesai berfoto di tempat itu, kini tanpa menunggu lama foto itu bisa langsung di cetak dalam sebuah lembaran. Lembaran itu di buat menjadi dua untuk masing masing mereka simpan.
"Jadi.. Ini foto pertama kita?". Berli tertawa renyah namun begitu berbunga dihatinya. Ia menatap setiap gambar yang berada di foto itu.
__ADS_1
"Iya. Kau harus menyimpan nya baik baik. Jangan sampai hilang". Felix tersenyum sambil mencubit gemas hidung Berli
"Kau ini. Tentu aku akan menyimpan nya. Ini lucu sekali.. ". Berli tersenyum menepis lengan Felix karena ia mencubit hidungnya.
"Ya sudah. Simpan fotonya, lalu kita berkeliling lagi". Ucap Felix yang gemas karena sejak tadi Berli tak henti hentinya memandang foto yang mereka buat barusan.
"Baik Bos.. ". Berli bersemangat sambil memasukan foto itu ke dalam tasnya.
Felix hanya tersenyum mengusap kepala wanita yang begitu ia cintai itu. Ia terlihat begitu bahagia.
Mereka menghabiskan waktu malam ini dengan berjalan jalan di pasar malam itu. Felix si pria yang terkenal dingin itu kini terlihat begitu manis saat berada di samping Berli. Tanpa rasa malu mereka memainkan mini game di pasar malam itu. Di mulai dengan tangkap boneka, Felix memenangkan nya dan memberikan boneka itu pada Berli. Sampai pada akhir permainan, mereka membeli sedikit kenangan di pasar malam itu.
"Felix.. ini bagus tidak?". Berli memperlihatkan kalung hiasan yang terlihat begitu etnic
"Itu bagus sayang.. Ambilah jika kau mau". Jawab Felix lembut
"Emm.. Kau ini". Berli tersenyum keindahan sambil memilah milih. Karena banyak sekali barang barang unik dan menggemaskan disana
"Wah nona cantik dan tuan tampan ini sangat serasi ya. Semoga hubungan kalian langgeng ya". Sahut pedagang barang barang itu. Ibu itu begitu terharu melihat mereka berdua
"Aamiin.. Terimakasih banyak ya bu". Berli membalas
"Ah coba lihat ini, ini bagus sekali untuk hiasan di kamar. Nona bisa menulis nama nona, dan juga tuan disini. Setelah itu, jika kabel nya di hubungkan dengan listrik, ini akan menyala. Lihat". Ucap pedagang sambil memperagakan hiasan kamar itu. Hiasan itu menyala begitu indah dan membuat kagum siapapun yang melihatnya.
"Wahh.. Indah sekali". Berli kagum
"Kami ambil dua ya bu. Berikan nama kami disana. Felix dan Berliani". Sahut Felix yang seketika memesan nya tanpa mempertanyakan harganya.
"Baik tuan. Sebentar saya buatkan". Pedagang itu segera membuatnya
"Felix.. Kita belum tahu harganya. Bagaimana jika itu mahal?". Berli terkejut saat Felix mengatakan itu
"Apa aku tidak boleh membuat kenangan sepertimu juga? Aku juga ingin menghias kamarku dengan kenangan bersamamu. Sudahlah". Felix tersenyum manis
"Baiklah. Kau simpan kalung ini. Jadi kita impas bukan?". Berli tersenyum sambil memberikan kalung etnic yang sudah ia beli. Ia sengaja membelinya dua pasang.
"Baiklah. Terimakasih tuan putri.. ". Felix tertawa renyah
__ADS_1
"Ishh.. Felix.. ". Berli merajuk keindahan.