DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 81 - Penentangan Bram


__ADS_3

"Indra, jika kau tetap bersih kukuh untuk mengatakan semua ini kepada gadis itu, aku tidak akan segan segan untuk mengakhiri hidupku". Ancam Kartika kepada suaminya


"Aku mohon jangan lakukan itu Kartika. Itu hanya menambah dosa". Jawab Indra


"Kalau kau berbicara tentang dosa, bahkan kau penyebab nya. Sekali lagi kau mencoba mencari gadis itu, aku tidak akan segan segan untuk pergi dari hidup mu selamanya. Kita sudah beberapa kali membicarakan ini Indra, tetapi pikiran mu selalu saja berubah ubah. Kau tinggal pilih saja. Kau pilih aku tetap hidup atau kau mengatakan nya tapi kita akan sengsara selamanya?". Jawab Kartika


"Kartika aku mohon". Ucap Indra memohon kepada istrinya


Sudah beberapa hari ini Indra selalu berniat untuk mencari keberadaan Berli. Namun niat nya selalu urung karena keraguan yang selalu Kartika katakan. Sampai hari ini, saat Indra memutuskan untuk mencari keberadaan keponakannya itu, ia justru mendapat ancaman dari istrinya.


......................


"Baiklah Inez, sepertinya aku harus pamit. Aku rasa sudah cukup hari ini, aku harap kau akan berusaha lagi membujuk Felix. Aku ingin sesegera mungkin anak kita bertunangan. Bahkan jika perlu, mungkin lebih baik kita langsung nikahkan saja mereka". Ucap Bu Delli hendak pulang


"Tentu aku akan membujuk Felix. Kau tenang saja, secepatnya semua itu akan terlaksana". Jawab Bu Inez sambil tersenyum


"Baiklah, kalau begitu aku dan anakku pulang ya. Senag bertemu dengan mu". Ucap Bu Dellu sambil cipika cipiki dengan Bu Ine


"Baiklah, kau hati hati ya". Balas Bu Inez


Bu Delli dan Jovanka akhirnya berlalu pergi

__ADS_1


"Banyak sekali keuntungan jika aku berhasil mempersatukan Jovanka dan Felix". Gumam Bu Inez sambil tersenyum bahagia


"Kau tidak bisa menentukan hidup seseorang hanya karena ego mu Inez". Ucap Pak Bram dengan lantang nya. Ternyata sedari tadi ia mendegar apa yang di bicarakan Bu Inez


"Kau tidak berhak mencampuri urusan keluargaku. Aku benar benar kesal Bram, sejak tadi kau sepertinya berusaha menentangku". Balas Bu Inez penuh penekanan


"Tentu saja Felix dan Romi adalah urusanku. Dia keponakan ku, anak dari kakak ku. Aku bertanggung jawab untuk mereka. Aku pengganti sosok ayahnya yang pergi. Sekali lagi aku tegaskan kepadamu Inez. Jangan pernah menentukan hidup Felix hanya karena keegoisan mu. Kau hanya akan menghancurkan nya!. Aku pulang". Ucap Pak Bram yang berlalu pergi kembali ke kota nya. Ia meninggalkan rumah itu dengan penuh kemarahan


......................


"Jangan lupakan yang aku katakan tadi. Tunggu aku sepulang nanti, dan jangan lupakan malam nanti". Ucap Felix tersenyum tipis kepada Berli. Mereka memang sudah menyelesaikan makan siang nya dan hendak kembali ke tempat nya bekerja.


"Baiklah". Jawab Berli sambil tersenyum


......................


"Sepertinya hari ini tidak akan ada mata kuliah lagi. Aku harus ke rumah Adelard untuk membicarakan masalah Prianka. Mungkin dia juga akan ikut melayat". Ucap Neel yang mulai bergegas keluar untuk pergi ke rumah Adelard. Tak lupa membawakan tas milik Romi yang tertinggal


"Ohh singa tuan Alshar rupanya hanya tinggal seorang diri sekarang". Ucap Bryan sambil tersenyum menyeringai. Lagi lagi ia menghalangi jalan Neel.


"Apa mau mu Bryan?". Jawab Neel tegas

__ADS_1


"Kemana tuan mu?, bukankah kau budak nya sampai sampai kau harus membawakan tas nya?". Ucap Bryan memancing amarah Neel


"Aku sama sekali tidak ada waktu untuk melayani mu pengecut!". Tegas Neel


"Kau berani padaku Fataq?". Ucap Bryan sambil mengepal kerah baju Neel


"Tentu. Aku tidak melakukan apa apa. Kau yang menggangguku! Dan ingat baik baik, jangan pernah mencari masalah dengaku ataupun Romi bahkan Adelard. Kami bisa melakukan apapun yang tidak akan kau duga jika kesabaran kami sudah habis!". Jawab Neel tegas.


Ia menepis tangan Bryan yang masih berada di kerah baju nya dan langsung berlalu pergi. Ia tidak ingin emosinya terpancing oleh Bryan, karena Bryan akan merasa senang saat berhasil membuat masalah.


"Dasar ba***gan. Kalian semua akan habis di tanganku!". Ucap Bryan tidak terima. Neel sama sekali tidak menghiraukan nya.


......................


"Aku harus mengabari mama tentang ini. Prianka, aku ingin mengabari ibuku untuk memberitahukan kabar duka ini. Boleh kan?". Ucap Romi yang masih berada di rumah sakit. Jenazah nya memang belum di bawa ke kediaman nya


"Tentu saja Rom". Jawab Prianka dengan tangis yang yang masih bembendung


"Halo ma?". Ucap Romi yang berhasil menghubungi ibunya


"Halo, ada apa sayang?". Jawab Bu Inez di sebrang telpon

__ADS_1


"Ma, sekarang Romi sedang berada di rumah sakit. Ayah Prianka meninggal dunia". Ucap Romi


"Inalillahiwainailahirojiun... Mama segera kesana sayang". Ucap Bu Inez panik dan segera bersiap untuk menyusul Romi di rumah sakit


__ADS_2