
"Jangan terlalu memikirkan hal ini. Kau fokus lah belajar, jangan sampai hal ini mempengaruhi pendidikanmu". Ucap Felix yang hendak pergi dari cafe itu. Kali ini ia berniat untuk menemui Berli
"Baiklah Kak. Aku yakin semua pasti akan baik-baik saja. Keluarga kita akan tetap utuh". Balas Romi penuh senyuman. Ia juga berniat untuk kembali ke kampus.
"Baiklah, aku pergi Rom. Sampai nanti.. ". Felix menepis pundak Romi. Ia bergegas mengendarai motornya untuk menemui Berli di pabrik. Ia ingin menjelaskan tentang kesalahpahaman tadi.
"Sampai nanti Kak". Ucap Romi. Namun ia masih belum beranjak dari tempat itu. Ia masih butuh waktu untuk menenangkan diri.
......................
"Bagus. Perjanjian nya sudah lengkap. Besok aku akan menemui Inez untuk menandatangani semua ini. Dan setelah itu, semua harta miliknya akan menjadi milik kita". Ucap Bu Delli tersenyum puas kepada seseorang di sebrang telpon yang tak lain adalah Smith, suaminya sendiri.
"Bagus, lakukan dengan rapih". Balas Smith
"Tentu saja". Bu Delli menyeringai sambil menutup telpon. Ia benar-benar sudah tidak sabar
__ADS_1
"Sedikit lagi Inez, sedikit lagi kau akan jatuh". Gumam Bu Delli penuh kepuasan
Dokumen berbahaya itu kini telah lengkap, hanya tinggal satu langkah saja, semua harta Bu Inez akan jatuh ke tangan keluarga Smith.
......................
"Kenapa Felix tega membohongiku?. Kenapa ia tidak jujur padaku?. Kenapa aku harus mendengar kebenaran nya dari orang lain?. Terlebih wanita itu, sepertinya mereka sudah pernah begitu dekat. Kenapa kebenaran acap kali datang di saat yang tidak tepat?. Kenapa Felix mempermainkan perasaanku?". Berli termenung di balik mesin yang menemaninya hari-harinya. Ya, sejak tadi ia menahan tangis nya agar tidak pecah kembali. Meskipun selalu saja ada setitik air mata yang lolos, namun ia berhasil menyekanya. Ia tidak ingin menangis lagi, rasanya lelah jika harus seperti itu.
"Laura.. Kau dimana?. Aku membutuhkanmu". Berli membatin. Ia merasa Felix membohonginya selama ini.
......................
"Bagus, aku menemukan jalan. Aku harus segera sampai sebelum Berli pulang". Felix melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Tanpa memperhatikan keadaan jalan, seolah fokus nya adalah menemui Berli.
Sampai pada akhirnya, dari arah berlawanan mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Mobil itu menabrak sepeda motor yang Felix kendarai.
__ADS_1
Brugg,, Felix tersungkur ke tanah. Motornya ringsek di hantam mobil mewah itu. Namun Felix masih beruntung karena masih sadarkan diri, meskipun kini luka sudah mewarnai wajah, tangan dan kakinya.
"Berli.. ". Gumam Felix yang sudah lemas. Ia hampir saja pingsan, namun ia berusaha menahannya.
Sepersekian detik kejadian, orang-orang yang berada dekat di lokasi kejadian langsung mengerubungi Felix yang terkapar di jalanan dalam kondisi mengenaskan.
"Carikan ambulan..". Teriak salah satu warga
"Mobil yang menabraknya melarikan diri Pak.. ". Sahut seorang saksi mata
"Kita harus membawanya ke rumah sakit. Cepat.. ". Teriak warga yang mulai khawatir
Felix di larikan ke rumah sakit terdekat oleh warga. Keadaannya begitu lemah, meskipun matanya sedikit terbuka. Sejak tadi ia hanya bergumam menyebut nama Berli. Namun warga setempat tak menghiraukan nya, mereka hanya fokus untuk mengantar Felix ke rumah sakit.
"Coba hubungi keluarganya". Ucap salah satu warga yang ikut mengantar Felix ke rumah sakit
__ADS_1
"Saya tidak menemukan ponselnya Pak, tetapi saya menemukan dompetnya. Mungkin disini ada data data terkait". Jawab seorang warga yang berhasil menemukan dompet Felix.
"Baiklah, simpan itu. Kita akan menghubungi keluarga nya setelah beliau mendapat perawatan".