DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 205 - Nyaman


__ADS_3

"Ayo, Jovanka. Kau harus bersiap. Kita akan menjemput kejayaan kita". Ucap Bu Delli dengan penuh kepuasan. Hari ini adalah puncak perjuangan nya. Jika Bu Inez berhasil menandatangani berkas itu, maka perjuangan nya akan berhasil.


"Ya.. Ya. Aku sudah siap. Tapi aku lapar. Bisakan kita mampir ke restoran dulu?". Ucap Jovanka santai.


"Apa yang kau katakan? Kita harus datang lebih awal. Kau bisa makan di cafe nanti. Sekarang pikirkan harta itu". Ucap Bu Delli penuh obsesi.


"Ya, ya.. Terserah". Ucap Jovanka melenggang mendahului Ibunya. Mereka segera bergegas pergi menuju tempat tujuan nya hari ini.


......................


"Baiklah, aku akan datang. Kita bertemu di restoran ya". Ucap Ozcan yang hendak menemui klien bisnisnya. Mereka membuat janji di sebuah restoran yang cukup mewah.


"Semoga saja Tante Inez lupa, dan tidak menghubungiku lagi. Jika tidak, apa jawaban yang akan ku beri saat aku tidak bersama Felix". Gumam Ozcan yang mengarahkan mobilnya ke arah restoran yang ia maksud.


......................


"Hallo.. Delli, kau dimana?". Tanya Bu Inez di sebrang telepon


"Ah iya, aku menuju kesana. Satu jam lagi aku sampai". Balas Bu Delli bersemangat. Ia mulai mengendarai mobilnya, bersama Jovanka yang hanya duduk di sampingnya tanpa semangat.


"Baiklah, kau masih jauh. Jadi aku akan mampir ke salon. Aku sudah lama tidak melakukan perawatan. Ya sudah, kabari aku jika sudah dekat ya". Ucap Bu Inez yang memutuskan untuk mampir ke salon sebelum menemui Bu Delli


"Baiklah Inez, selamat bersenang-senang. Smith juga akan datang. Ia sedang di bandara, menuju tempat tujuan kita". Ucap Bu Delli.


"Baiklah, sampai bertemu nanti". Ucap Bu Inez menutup telepon

__ADS_1


"Dahhh". Balas Bu Delli di sebrang telepon.


"Ya, nikmati saja perawatanmu hari ini Inez. Sebentar lagi, jangankan perawatan, untuk makan pun kau akan kesulitan". Gumam Bu Delli puas.


"Penuh obsesi". Gumam Jovanka hampir tak terdengar


"Apa katamu!". Bentak Bu Delli


"Tidak ada Nyonya, menyetir saja. Nyonya bisa celaka nanti". Balas Jovanka meledek Ibunya.


"Dasar anak aneh". Celetuk Bu Delli


......................


"Kau mau tidur?. Aku akan membawakan selimut untukmu". Tanya Berli. Mengingat Felix masih butuh banyak istirahat.


"Baiklah, tapi kau tidur disini saja ya. Aku tidak boleh membawamu ke kamarku". Ucap Berli. Ia merasa tidak enak jika membawa Felix ke kamarnya, namun ia juga tidak tega jika Felix tidur di sofa rumahnya.


"Tidak apa. Aku mengerti". Balas Felix lembut.


Berli melenggang memgambil bantal dan selimbut yang Felix butuhkan.


Tak berselang lama, ia kembali.


"Ayo, tidurlah. Kau harus beristirahat. Setelah bangun nanti, kau makan dan minum obat ya. Sementara kau tidur, aku akan memasak untuk nanti". Ucap Berli membenahkan sofa itu. Ia merawat Felix dengan sangat telaten

__ADS_1


"Jika begini, sepertinya aku tidak akan pulang ke rumahku lagi". Ucap Felix tersenyum


"Hmm? Kenapa?". Berli tersenyum heran


"Kau membuatku betah sayang". Ucap Felix menggoda


"Ishh, kau ini. Ayo, baringkan dirimu. Kau harus tidur". Ucap Berli yang sudah menyelesaikan berbenah nya.


Tanpa basa-basi Felix membaringkan tubuhnya di sofa yang sudah disiapkan oleh Berli.


"Terimakasih". Felix tersenyum ke arah Berli saat tengah berbaring.


"Sama sama. Ya sudah, tidur yang nyenyak ya". Berli tersenyum hendak melenggang, namun seketika langkah nya terhenti saat Felix menahan tangan nya.


"Hmm? Ada apa?". Berli menoleh mengerutkan alis nya.


"Temani aku". Perkataan Felix membuat Berli terkejut.


"Apa?". Berli membelalak


"Maksudku, duduk lah disini. Tapi tidak usah ikut tidur. Tapi kalau kau mau, silahkan. Dengan senang hati". Ucap Felix terkekeh. Ia hanya bermaksud menggoda.


"Ishh kau ini, tidak. Aku tidak mau tidur denganmu sebelum halal. Aku temani saja duduk disini ya". Berli kembalu duduk tepat di samping Felix.


"Lagipula aku hanya bercanda. Aku tidak akan pernah merusakmu. Kau terlalu berharga untuk itu". Balas Felix kembali membuat Berli terharu.

__ADS_1


"Ya sudah, tidurlah.". Berli mengusap usap lembut rambut Felix. Sampai Felix terlelap, Berli masih betah disana membelai rambut hitam berkilau itu.


Rasanya begitu nyaman.


__ADS_2