
"Hai Romi. Sudah lama kita tidak bertemu ya". Ucap Bryan yang tiba tiba menghadang laju mobil Adelard yang di tumpangi Neel dan Romi.
Setelah mobil Adelard di hadang, Bryan langsung meminta Romi turun. Hal itu tak luput dari Adelard dan Neel yang ikut turun untuk menemani Romi.
"Apa yang kau inginkan?". Ucap Romi kesal Tatapan nya begitu tajam.
"Lihat, apa kau mengenal wanita itu?. Dia milikku sekarang". Ucap Bryan sambil menunjuk ke arah mobilnya. Yang di dalam nya terdapat Prianka tengah duduk di samping kemudi.
Romi menatap tajam ke arahnya. Tatapan nya penuh kecewa.
"Lalu?. Untuk apa kau memberitahuku lagi?. Aku sudah tahu semuanya". Ucap Romi mengalihkan pandangan nya dari Prianka.
"Lalu?. Apa kau tidak ingin kembali dengan nya?. Kau tidak akan berusaha mengambil mainan itu dariku?. Bagiku dia hanya mainan yang bisa ku atur semauku, dan bisa ku buang semauku". Ucap Bryan yang membuat darah Romi mendidih. Memang itu tujuan Bryan menghadang jalan Romi.
"Dasar ba**ngan". Romi hampir melayangkan pukulan nya ke wajah Bryan. Namun langsung di tahan oleh Neel dan Adelard. Sementara Prianka di dalam mobil, ia sangat risau. Ia tak bisa turun karena Bryan mengunci nya di mobil.
__ADS_1
"Romi, tahan. Dia memang sengaja membuatmu dalam masalah". Ucap Neel menenangkan sambil menahan lengan Romi agar tidak memukul Bryan. Karena hal ini bisa saja menimbulkan masalah baru.
"Aku tidak terima kau berkata seperti itu!". Ucap Romi penuh penekanan. Meskipun kedua lengan nya tengah di tahan oleh teman nya.
"Berarti kau masih mencintai nya kan?. Ambil saja kalau begitu. Aku baru saja ingin membuangnya". Ucap Bryan menyeringai. Ia merasa puas melihat emosi Romi hari ini.
"Apa yang kau inginkan pengercut?. Kenapa kau hanya bisa membuat masalah?. Apa kau tidak punya urusan lain dalam hidupmu?". Sahut Adelard yang ikut kesal.
"Lihat. Temanmu sepertinya sangat kepanasan. Jangan lupa, setelah ini beri dia minuman dingin ya. Senang bertemu kalian.. ". Ucap Bryan menyeringai puas dan kembali masuk ke mobil.
"Sudah Rom, ayo. Kita pergi dari sini". Ucap Neel yang mengajak Romi untuk kembali masuk mobil.
Mereka akhirnya kembali masuk mobil dengan perasaan kesal.
"Dia memang sengaja membuatmu emosi Rom. Aku harap kau tidak mudah terpancing". Ucap Adelard yang tengah menyetir.
__ADS_1
"Aku tahu. Tetapi entah mengapa, jika aku mendengar seseorang membicarakan hal buruk tentang Prianka, aku tidak bisa menahan diriku". Ucap Romi.
"Aku tahu kau sangat mencintainya. Tetapi kau juga harus bisa mengendalikan emosimu". Ucap Adelard kembali.
"Rom, apa kau pernah berpikir, bahwa kita harus menyelamatkan Prianka?". Sahut Neel yang sedari tadi berpikir.
"Maksudmu?". Romi tak bisa berpikir jernih.
"Seperti yang kita tahu, Prianka melakukan ini pasti karena terpaksa. Maka dari itu, apapun alasan nya kita harus menyelamatkan nya kembali dari genggaman Bryan". Ucap Neel yang membuat Romi berpikir.
"Kau benar, tetapi bagaimana caranya?. Setelah menikah dengan nya, aku tidak pernah bertemu Prianka dengan sengaja. Bahkan, nomor ponsel nya seolah tidak bisa di gunakan lagi". Ucap Romi.
"Jelas, Bryan pasti merampas ponsel nya". Sahut Adelard.
"Aku punya rencana". Ucap Neel
__ADS_1