
"Valerie, kau bercanda kan? Tempat apa ini?. Dan mengapa kau bersama dia?". Ucap Prianka penuh ketakutan sambil menatap ke arah Bryan.
"Kenapa kau takut?. Kau belum terbiasa ya?. Aku akan membuatmu terbiasa dengan suasana seperti ini". Balas Valerie tersenyum mengancam.
"Apa maksudmu?. Kita akan ke pesta kan?. Apa maksud semua ini?". Bantah Prianka yang tetap mencari kebenaran.
"Dan ini pesta nya. Kau tidak menyadarinya?. Mari bergabung bersama kami. Bersulang Bryan". Balas Valerie santai sambil memegang minuman keras di tangan nya. Ia benar benar membuat Prianka cemas.
"Aku ingin pulang, ku mohon.. ". Ucap Prianka yang ketakutan nya sudah memuncak.
"Kenapa buru-buru sayang?. Bukankah kau ingin berpesta?". Sahut Bryan yang tiba tiba mendekat ke arah Prianka. Ia tersenyum menyeringai penuh arti.
"Lepaskan aku bajin*an!". Ucap Prianka penuh penekanan yang berhasil membuat Bryan naik pitam.
Plakk,,,
"Beraninya kau!". Bryan naik darah saat mendengar ucapan Prianka. Ia memukul Prianka hingga tersunggur. Sementara Valerie hanya tersenyum menyeringai.
Prianka mulai menangis kesakitan dan ketakutan.
"Apa maksudmu Valerie?. Kau menjebakku untuk datang ke tempat ini bukan?. Apa maumu hah?. Ternyata kau wanita yang picik!". Ucap Prianka di tengah tangisnya.
"Ya. Itu memang tujuanku. Apa masalahmu?, kau yang datang kemari bukan?". Balas Valerie menyeringai.
"Lepaskan aku Valerie!. Aku bisa melaporkan tindakanmu ini!". Ancam Prianka.
__ADS_1
"Laporkan saja, kau tidak punya bukti apapun. Kau tahu? Aku melakukan semua ini karena aku membencimu dan kau selalu lebih unggul dariku!".
"Lalu apa masalah nya? Kita berteman. Kita bisa membicarakan semuanya baik-baik". Balas Prianka.
"Baik-baik katamu? Seorang Valerie bisa melakukan apa saja agar dirinya bahagia haha". Ucap Valerie penuh kebencian.
"Dan kau, kau sudah menggiringku ke penjara, sekarang kau harus menebus itu semua". Sahut Bryan penuh balas dendam.
"Apa katamu?. Kau menuai apa yang kau tanam Bryan!. Kau membunuh ayahku! Kau pantas mendapat semua itu!". Balas Prianka yang lagi lagi membuat Bryan naik pitam.
"Tapi kau membuatku tersiksa di penjara. Maka kau juga harus merasakan itu semua!". Ucap Bryan penuh penekanan sambil mencekik erat leher Prianka, sampai sampai ia kesulitan bernafas.
"Dasar ja**ng!". Bryan melepas kasar genggaman nya pada leher Prianka.
"Bawa dia ke kamar!". Valerie memerintah kedua ajudan nya untuk membawa paksa Prianka.
"Tidak, lepaskan aku!. Dasar wanita ba*ingan!". Prianka meronta. Namun dekapan kedua pria kekar itu sama sekali tak membuat Prianka lepas.
"Cihh.. ". Valerie menggelik.
"Lepaskan aku!". Prianka masih meronta
"Diam kau!". Ucap ajudan itu sambil mengikat kedua lengan Prianka. Mereka tak membiarkan Prianka lepas..
Sesaat setelah kedua ajudan itu pergi, kini Bryan masuk mendatangi Prianka di kamar itu untuk melakukan apa yang menjadi tujuan nya.
__ADS_1
"Sudahlah, tidak akan ada yang bisa menolongmu disini, termasuk kekasih tercintamu itu". Ucap Bryan menyeringai.
"Lepaskan aku Bryan. Apa maumu?. Uang?. Akan aku berikan.. ". Kini Prianka menyerah. Rasanya ia hanya ingin pulang.
"Bukan uang yang aku inginkan, aku hanya ingin kau menderita. Bagaimana? Kau mau memenuhi keinginanku anak manis?". Ucap Bryan penuh ancaman sambil mengelus pipi Prianka.
"Aku mohon Bryan, lepaskan aku.. ". Kini Prianka menangis. Sejak tadi ia merogoh ponsel di sakunya namun tak kunjung dapat. Mungkin ponsel nya terjatuh saat ia di gusur kemari.
"Sudah bercakap ria nya?. Sekarang giliranku". Ucap Valerie sambil memberi isyarat kepada Bryan untuk pergi meninggalkan mereka berdua.
"Baiklah". Bryan langsung mengerti apa yang di maksud Valerie. Ia melenggang meninggalkan kamar yang menjadi tempat Prianka di kurung itu.
"Kau harus merasakan akibat dari perbuatanmu!". Valerie membawa kamera dan sebuah gunting di tangan nya.
Ia mengkoyak habis pakaian yang di gunakan Prianka untuk menutupi tubuhnya.
Dengan tanpa rasa sesama wanita, Valerie mempermalukan seluruh tubuh Prianka di depan kamera. Ia tertawa riang saat melihat Prianka menangis karena malu. Prianka hanya bisa menangis karena kini tubuhnya tak bisa bergerak karena di belenggu.
Vidio yang tak sepatutnya itu kini menjadi senjata kuat Valerie, agar Prianka tidak bisa lagi melawannya. Ia selalu mengancam akan menyebarluaskan rekaman itu jika Prianka berani melawannya.
Kini, Prianka harus mengikuti apa yang menjadi keinginan Valerie dan Bryan. Termasuk menikah dengan Bryan yang hanya ingin mempermainkan nya. Kini, Prianka tak berdaya. Ia seolah hanya suatu objek yang bisa di permainkan mereka berdua kapan saja.
FLASHBACK OFF
"Aku menyesal Romi.. ". Gumam Prianka di tengah tangisnya saat mengingat kejadian malam itu. Ia menyesal mengapa ia mengambil langkah egois yang justru membawa dirinya ke dalam kegelapan. Kini, ia hanya bisa berharap keajaiban datang membawanya pergi dari tempat ini.
__ADS_1