
"Kerjakan semua itu sekarang. Jika sudah selesai pergilah ke gudang dan cek barang persediaan minggu ini". Ujar Sherly yang kini tengah memberi arahan pekerjaan kepada Berli dengan Profesional
"Baik bu, tapi saya rasa persediaan masih ada. Karena kemarin adam sudah pergi kesana untuk mengecek persediaan". Ujar Berli lembut kepada Sherly. Ia merasa tidak perlu kembali mengecek gudang, karena baru saja kemarin di cek oleh rekan kerja nya yang lain
"Saya kan nyuruh nya kamu, sekarang. Bukan yang kemarin". Bentak Sherly kepada Berli
"Baik bu, tapi saya akan selesai kan ini terlebih dahulu. Setelah selesai saya langsung ke sana". Ujar Berli. Ia benar benar pasrah dengan hari ini, ini pasti akan menjadi hari yang melelahkan baginya
"Bagus, kerja yang becus". Ketus Sherly sambil berlalu pergi. Berli hanya bisa bersabar dengan situasi yang menimpanya saat ini. Karena pekerjaannya benar benar menumpuk dan sepertinya ia tidak akan sempat untuk makan siang
......................
"Sayang, kamu mau ya menerima perjodohan ini". Ujar Bu Inez kepada Felix yang kini tengah menemani nya di rumah sakit
"Felix gabisa ma". Jawab Felix singkat
"Tapi kenapa sayang?". Ucap Bu Inez memelas
"Felix punya pilihan sendiri. Jika waktunya sudah tiba, Felix akan memperkenalkan nya pada mama". Jawab Felix yang kini perasaan nya benar benar tak karuan karena permintaan ibu nya ini
"Baiklah, mama akan menunggunya". Ujar Bu Inez penuh harap. Sebenarnya ia hanya memgharapkan Felix menerima perjodohan nya dengan Jovan, namun Bu Inez memilih untuk menunggu Felix yang berkata demikian.
Tak berselang lama, seorang wanita yang Bu Inez idam idam kan untuk menjadi menantunya kini sudah berada di ambang pintu. Siapa lagi jika bukan Jovanka Alleta
"Selamat pagi tante". Sapa Jovan yang baru saja menapakkan kaki nya di ruangan itu
"Selamat pagi juga sayang, sini duduk cantik". Jawab Bu Inez ramah menyambut kedatangan Jovan
__ADS_1
"Felix keluar dulu ma. Aku menitipkan ibuku kepadamu, tolong jaga dia. Jika butuh sesuatu panggil saja aku". Ujar Felix berpamitan kepada ibu nya dan meminta Jovan untuk menjaga Bu Inez. Ia tidak betah jika harus berlama lama di tempat yang sama dengan Jovan
"Felix mau kemana nak?". Ujar Bu Inez sambil menatap kepergian Felix
"Gapapa tante, biar Jovan temani tante". Ujar Jovanka manis kepada Bu Inez. Namun lain di hati nya
"Terimakasih sayang". Jawab Bu Inez penuh kasih sayang
Felix bergegas pergi keluar ruangan Bu Inez karena ia memang tidak betah dengan keberadaan Jovanka. Ia tahu persis apa yang akan di bahas ibunya ketika tengah berada dengan wanita itu.
Namun betapa terkejut nya ia saat retina nya menangkap sosok pria yang tidak begitu ia kenali tengah berada di tempat yang sama dengan nya menapakkan kaki. Ia adalah David, Felix tahu bahwa David adalah orang kepercayaan ibu nya, namun Felix tetap memilih untuk tetap merahasiakan identitasnya sebagai pewaris kekayaan Bu Inez kepada siapapun
"Dia kesini pasti untuk menjenguk mama, aku harus segera pergi sebelum ia melihatku". Ujar Felix dalam hati dan langsung bergegas pergi menghindari pertemuannya dengan David. Felix bergegas pergi untuk menengkan diri di sebuah taman di belakang rumah sakit tempat ibunya di rawat.
"Assalamualaikum". Ucap David yang kini sudah berada di ambang pintu ruangan Bu Inez di rawat
Jovanka hanya terdiam membisu saat kedua matanya menangkap sosok masa lalu nya yang kini tengah berada di tempat yang sama dengannya
"K-k kamu?". Sahut Jovanka terbata bata terkejut melihat kedatangan David. David hanya membalas pertanyaan Jovanka dengan senyuman sinis di bibir nya
"Kalian saling kenal?". Tanya Bu Inez penuh selidik
"T-t tidak tan, aku tidak maksud nya aku ga kenal tan". Jawab Jovanka gugup. Tak lepas dari pandangan tajam David. Tersirat wajah penuh kekesalan David saat ia melihat Jovanka
"Kami tidak saling kenal bu. Bagaimana kabar ibu? apa sudah baikan". Jawab David sama sekali tidak menghiraukan Jovanka. Jovanka hanya terdiam seribu bahasa
"Sudah baikan nak, terimakasih selalu ada untuk membantu saya mengurus perusahaan". Jawab Bu Inez ramah. Tentu penuturan nya membuat Jovanka semakin terkejut, ternyata orang kepercayaan Bu Inez adalah David. Jovanka benar benar tidak menduga itu
__ADS_1
......................
"Hari ini aku tidak akan bertemu dengan nya, hah rasanya aku akan merindukan nya". Gerutu Felix dalam hatinya. Ia kini tengah duduk di bangku taman belakang rumah sakit. Ia sedang mengingat ngingat pertemuan nya dengan Berli, gadis kecil yang mulai bertengger di hatinya.
Tiba tiba seorang pria paruh baya datang dan menghampiri Felix yang kini tengah duduk sendirian di bangku taman
"Nak". Ujar pria paruh baya itu sambil menepuk pelan pundak Felix dan duduk di samping Felix. Betapa terkejut nya saat Felix melihat keberadaan pria yang sudah tak asing baginya itu. Lamunan indah nya seketika buyar saat pria itu datang dan mengejutkan Felix
......................
Waktu terus berjalan dan hari mulai siang, namun gadis cantik itu masih sibuk dengan pekerjaannya yang masih menumpuk
"Cape banget hari ini, padahal baru setengah hari tapi udah secape ini. Huh mana lembur lagi". Ujar Berli pelan pada dirinya. Ia benar benar sudah lelah dengan pekerjaan yang di berikan Sherly. Seolah olah pekerjaan itu tidak akan ada habisnya karena Sherly memberikan begitu banyak tugas kepadanya.
"Anii, ayo sebentar lagi makan siang. Kita akan makan siang bersama bukan?". Ujar Abian yang entah sejak kapan berada di tempat Berli bergelut dengan pekerjaan nya. Hari sudah mulai siang, dan sebentar lagi jam makan siang akan segera di mulai, namun sama sekali tidak ada tanda tanda pekerjaan Berli akan selesai
"Ah Bian, maaf sepertinya aku tidak akan makan siang bersama hari ini. Pekerjaan ku benar benar banyak, aku makan sendiri saja nanti". Ujar Berli, ia benar benar tidak enak kepada Bian karena tadi pagi sudah menyetujui akan makan siang bersama namun ternyata ia tidak bisa memenuhi perkataannya itu.
"Biar pekerjaan nanti aku akan membantu, sekarang istirahat lah dulu ayo". Jawab Bian lembut
"Ya sudah ayo". Sahut Berli, ia merasa memang sudah seharusnya ia beristirahat sekarang.
Sherly yang menyaksikan kejadian itu benar benar geram. Bagaimana tidak, Berli beristirahat tanpa memberitahukan nya terlebih dahulu. Namun Sherly mencoba menahan diri karena ada Bian di sana, ia tidak ingin kelakuan buruk nya kepada Berli terbongkar
......................
"Nak, aku tahu persis apa yang anakku lakukan kepadamu di masa lalu memang tidak bisa di maaf kan, tapi aku mohon. kembalilah kepadanya, ia sungguh sangat membutuhkan penyemangat untuk kembali bersemangat melanjutkan hidupnya". Ujar pria paruh baya penuh harap kepada Felix. Ia tak lain adalah ayah dari mantan kekasih Felix yaitu Lathesia arrora
__ADS_1
"Maaf aku tidak bisa". Ujar Felix sambil berlalu pergi, ia sama sekali tidak ingin kembali berhubungan dengan orang yang ada sangkut pautnya dengan Lathesia. Sungguh meskipun terkadang ia masih merindukannya, namun ia belum bisa memaafkan kesalahan nya. Hal ini membuat Felix mati rasa. Namun saat bertemu Berli, entah apa yang ia rasakan hingga sampai saat ini ia merasa kagum pada sosok Berli.