
"Kenapa angkutan umum sulit sekali di dapatkan, bagaimana aku bisa pulang.. ". Gumam Berli. Sejak tadi ia menunggu angkutan umum yang lewat, namun sulit sekali mendapatkan nya.
Tiiidddd,,,, mobil yang melintas tepat di depan Berli memberi klakson dan berhenti di hadapan nya.
"Siapa pemilik mobil ini.. ". Gumam Berli
Tak berselang lama, jendela mobil itupun terbuka, dan menunjukan wajah yang tidak begitu asing baginya.
"K.. Kau?". Ucap Berli tak menyangka akan bertemu seorang pria yang pernah menolong nya tempo hari.
"Masuklah, aku akan mengantarmu". Ucap Ozcan di dalam mobil, hendak mengantar Berli untuk pulang.
"Tidak, terimakasih. Aku bisa pulang sendiri. Lagipula aku sedang menunggu angkutan umum, sebentar lagi pasti datang". Berli menolak dengan lembut. Rasanya, ia tidak ingin merepotkan orang asing ini untuk kedua kalinya.
"Kau akan menunggu sampai kapan?, Angkutan umum saat ini sangat sulit di dapat. Kalaupun ada, pasti akan penuh. Sudahlah, aku akan pergi ke suatu tempat, kebetulan searah dengan rumahmu. Ayo..". Ucap Ozcan kembali membujuk Berli. Karena ia tahu, angkutan umum mungkin saja tidak akan di dapatkan nya.
"Apa itu tidak masalah..?". Tanya Berli ragu, namun setidaknya ini bukanlah mobil David yang mungkin saja bisa menimbulkan masalah dengan Felix.
"Tidak apa apa, masuklah.. ". Ucap Ozcan membukakan pintu dari dalam
"Baiklah, terimakasih". Ucap Berli. Ia duduk di samping Ozcan. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Di dalam mobil, mereka sedikit berbincang untuk memecah kecanggungan.
__ADS_1
"Kau terbiasa pulang sendiri? Menaiki angkutan umum, begitu?". Tanya Ozcan
"Tidak, biasa nya aku bersama seseorang. Hanya saja hari ini tidak ada". Balas Berli, ia menatap ke arah samping, melihat pemandangan dari jendela, kembali ia mengingat Felix.
"Kekasihmu?". Tanya Ozcan membuat Berli tertegung
"Hmm, iya.".
"Baiklah, undang aku ke pernikahan mu nanti ya". Ucap Ozcan terkekeh. Ia tidak ingin suasana tegang ini.
"Kau bisa saja, lagipula aku tidak tahu kapan itu akan terjadi". Berli tertawa tipis.
"Ya.. Itu bisa kapanpun kan..". Ucap Ozcan
"Ah ini, temanku sedang di rawat di rumah sakit. Ia mengalami kecelakaan tadi siang. Aku hendak menjenguknya". Jawab Ozcan. Entah mengapa perkataan nya ini membuat Berli khawatir dan gelisah
"Kenapa saat ia mengatakan hal itu, aku jadi khawatir pada Felix. Ada apa ini". Berli membatin
"Ada apa? Kau baik baik saja?". Tanya Ozcan saat melihat keanehan pada Berli.
"Tidak, saat mendengar kabar teman mu mengalami kecelakaan, entah mengapa aku menjadi khawatir dan mengingat seseorang. Tidak apa, mungkin ini hanya perasaanku saja". Jawab Berli. Ia menutupnya dengan senyuman.
__ADS_1
"Atau mungkin kau mengenalnya juga?". Tanya Ozcan
"Tidak, aku tidak mengenalnya. Dia kan temanmu, bagaimana bisa aku mengenalnya". Berli menjawab. Rasanya tidak mungkin teman Ozcan di kenal oleh Berli, melihat penampilan Ozcan seperti orang luar negeri, membuat semua terasa tidak mungkin. Padahal, orang yang Ozcan maksud adalah Felix.
"Begitu ya. Kau suka makanan Turki?". Ucap Ozcan saat melihat kemana arah Berli menatap. Berli melihat ke arah restoran khas Turki yang pernah ia datangi dengan Felix. Kebetulan saat itu jalanan sedikit terhambat kemacetan.
"Ah iya, aku pernah datang ke tempat itu dengan seseorang, hanya itu". Balas Berli. Lagi lagi ia mengingat Felix
"Sejak tadi kau menyebut seseorang. Kau sedang merindukan nya?". Ucap Ozcan tersenyum
"Ah, tidak begitu". Berli merasa malu dengan Ozcan
"Tidak apa, itu hak mu bukan?. Aku rasa dia bukan hanya teman, bukan juga hanya sekedar pacar. Dia calon suamimu bukan?". Ucap Ozcan yang entah mengapa berkata demikian.
"Untuk saat ini, dia bukan sepenuh nya milikku. Dan mungkin saja tidak akan menjadi milikku. Aku berada di dalam ambang harapan yang bisa saja terjadi atau tidak. Aku hanya sedang bersiap dengan kemungkinan buruk yang akan terjadi. Takdir yang menentukan bukan?". Berli membalas dari lubuk hati yang terdalam. Seolah ia mengeluarkan sedikit keluh kesahnya.
"Aku mengerti masalahmu, aku bisa melihat itu dari matamu. Apapun itu, semoga kau mendapatkan yang terbaik menurut hatimu. Kau orang baik, tentu akan bertemu dengan orang yang baik juga". Balas Ozcan memberi semangat.
"Ah, maaf aku membuat suasana menjadi canggung. Maafkan aku, aku tidak bermaksud mengeluarkan keluh kesahku". Ucap Berli yang seketika menyadari perkataan nya.
"Tidak apa apa. Itu adalah hal yang normal, aku sama sekali tidak keberatan". Jawab Ozcan tersenyum
__ADS_1
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, sedikit lagi, Berli akan sampai pada tujuan nya yaitu "Rumah".