DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 123 - Tentang Kita


__ADS_3

"Terkadang apa yang membuat kita bahagia, justru belum tentu akan di persatukan. Sama hal nya aku dengan Felix, kami tidak akan pernah bisa bersama. Aku mencintainya, aku mencintai kekasih orang lain. Ya, seharusnya tidak seperti ini. Andai aku tidak terjebak terlalu dalam oleh harapan harapan kosong itu, mungkin hari ini tidak akan pernah terjadi. Aku bahkan harus melupakan hal yang belum pernah menjadi miliku". Ucap Berli saat menatap bayang dirinya di cermin. Ya, hari sudah gelap yang menandakan waktu beristirahat insan di bumi


Perasaan itu, sakit itu, ia benar benar menumpahkan nya malam ini dengan tangisan


FLASHBACK ON :


"Hai tante, apa kabar?". Suara nyaring itu terdengar di sebrang telpon. Suara itu kembali terdengar setelah beberapa saat menghilang. Ya, siapa lagi jika bukan Jovanka yang menanyakan kabar Bu Inez lewat telpon


"Tidak ada yang baik baik saja. Tetapi tante sedang berusaha menjadi baik baik saja". Jawab Bu Inez


Sejak tadi Prianka memang sudah berpamitan untuk pulang. Hingga tiba saatnya Bu Inez mendapat pangggilan telpon dari Prianka. Dengan segera ia langsung mengangkatnya.


"Maksud tante? Apa terjadi sesuatu?". Tanya Jovanka panik


"Romi baru saja mengalami kecelakaan, dan belum sadarkan diri hingga saat ini sayang". Jawab Bu Inez yang begitu berat mengatakannya


"Apa? Kenapa tidak memberitahuku? Lalu bagaumana sekarang?". Tanya Jovanka yang semakin panik di sebrang telpon


"Tante baru saja pulang ke rumah. Felix bersihkeras meminta tante untuk pulang. Dan sekarang Felix masih menunggu adiknya di rumah sakit". Ucap Bu Inez


"Baiklah, tante yang sabar ya. Jovan akan menemani Felix disana. Tante jangan khawatir". Ucap Jovanka di sebrang telpon. Ini akan menjadi kesempatan emas untuknua mendekati Felix


"Baiklah sayang, temani Felix. Terimaksih banyak ya nak". Ucap Bu Inez


"Sama sama tante". Ucap Jovanka dan segera bergegas menuju rumah sakit


......................


'Apa Berli sengaja melakukan itu? Apa ia benar benar ingin menunjukan bahwa ia tidak mencintaiku?' Ucap Felix dalam hati saat melihat wanita yang di cintainya itu sedang menggenggam erat pria di sampingnya. Felix benar benar kecewa dengan semua itu, namun ia sadar bahwa ia sama sekali tidak memiliki hak apapun. Dan ini bukan saatnya untuk berdebat dengan David.


"Assalamualaikum". Ucap Berli yang kini sudah sampai di tempat tujuannya. Ia langsung berhadapan dengan Felix di luar ruangan itu


"Waalaikumsalam". Jawab Felix


"Bagaimana keadaan adikmu? Apa sudah baikan?". Tanya Berli yang tak lepas dari keberadaan David di sampingnya


"Sampai sekarang dia belum siuman". Jawab Felix yang menyimpan begitu kecemburuan di hatinya

__ADS_1


"Apa keluargamu sudah di beritahu?". Sahut David memecah suasana kaku itu


"Sudah, mereka sudah pulang. Aku yang berjaga disini". Jawab Felix singkat.


"Dan aku ingin mengucapka banyak terimakasih padamu. Aku tidak tahu bagaimana membalas jasamu yang begitu besar untuk adikku". Ucap Felix yang mengalihkan pandangannya kepada Berli. Ia berusaha untuk baik baik saja


"Tidak apa apa, bukankah kita harus saling tolong menolong? Maka jangan berterimakasih terus". Jawab Berli tersenyum


"Kau benar benar wanita baik. Aku tidak salah memilihmu". Ucap David yang tiba tiba saja nyaring terdengar. Tentu ucapannya benar benar mengejutkan Berli dan Felix. Felix kini semakin menahan gemuruh di dadanya


"Sayangg.. ". Teriak wanita yang tiba tiba saja datang dan langsung berhambur ke pelukan Felix. Felix yang perasaan nya begitu kecewa, ia sama sekali tidak menghiraukannya. Kini ia berada di dalam lamunan hebat yang mencerca pikirannya


'Jadi wanita ini benar benar kekasih Felix? Berarti selama ini kebersamaan kami hanya mengisi waktu luang semata. Felix juga tidak marah saat wanita itu memeluknya, jadi selama ini perasaanku? Kebersamaanku dengan Felix? Apa semua ini hanya hal yang sia sia saja?'. Gumam Berli dalam hati. Pemandangan itu benar benar membuat hati Berli begitu runyam


'Apa Berli menerima perasaan David sampai sampai David mengatakan bahwa ia pilihannya? Lalu untuk apa selama ini aku mencintai Berli jika pada akhirnya wanita yang aku cintai selalu saja menjadi milik orang lain'. Gumam Felix dalam hati yang membuat ia tidak sadar dengan kedatangan Jovanka yang tiba tiba memeluknya


"Kau? Sejak kapan kau datang?". Ucap Felix yang sudah menyadari kedatangan Jovanka


"Baru saja sayang. Apa kau tidak merindukan aku hm?". Ucap Jovanka yang kembali memeluk Felix


"Hmm". Gumam David yang berhasil membuyarkan situasi canggung itu


"Apa aku boleh melihat keadaan adikmu? Setelah itu kami akan pulang". Ucap Berli yang menahan sesak di dadanya


"Tentu saja. Ayo, aku akan mengantarmu". Ucap Felix yang segera bergegas untuk mengantar Berli menemui Romi


"Sekarang aku tahu apa tujuanmu nyonya Jovanka". Ucap David menyeringai saat Berli dan Felix sudah beranjang dari tempat itu


"Tentu saja kau tahu itu". Jawab Jovanka sinis


"Lakukan apapun yang kau suka. Tetapi jangan pernah menyakiti wanitaku". Ucap David


"Untuk apa? Bahkan aku tidak mempunyai urusan apapun dengannya. Tapi jika dia menghalangi hubunganku dengan Felix aku tidak akan segan segan untuk menyingkirkan nya". Jawab Jovanka menyeringai sambil ikut menyusul Felix dan Berli


"Berli harus menjadi milikku". Gumam David


......................

__ADS_1


"Felix, aku ikut senang atas hubunganmu. Kalian terlihat sangat serasi". Ucap Berli saat hendak memasuki ruangan itu


"Apa maksudmu?". Tanya Felix heran


"Kau dengan wanita tadi. Dia sepertinya sangat mencintaimu. Selamat ya". Ucap Berli kembali yang sebenarnya ia sangat cemburu


"Terimaksih, kami memang pasangan serasi". Ucap Jovanka yang tiba tiba datang dan bersandar di lemgan Felix. Entah sejak kapan Jovanka mendengar perbincanga mereka


"Apa yang kau lakukan". Ucap Felix menyangkal ucapan dan tingkah Jovanka. Namun Berli benar benar sudah tidak tahan lagi melihatnya, sehingga ia memutuskan untuk segera membesuk Romi dan pulang. Rasanya ia ingin cepat cepat menumpahkan air matanya di kamar sederhana miliknya


"Apa aku bisa masuk sekarang?". Tanya Berli


"Ya, silahkan". Ucap Felix yang membuka jalan untuk Berli


Setelah beberapa menit Berli membesuk Romi, ia segera keluar dari ruangan itu. Namun ia sama sekali tak mendapati keberadaan Felix maupun David


"Siapa yang kau cari? Felix?". Ucap Jovanka yang berhasil membuat Berli terkejut. Sedari tadi Berli memang mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Felix


"Tidak.. Aku.. ". Jawab Berli bingung


"Apa kau tahu? Kami akan segera bertunangan, dan setelah itu kami akan menikah. Sepertinya aku melihat tatapan cinta di matamu untuknya. Apa itu benar? Jika benar maka kau harus melupakannya, dan aku harap kau tidak perlu menemuinya lagi jika itu bukan urusan yang mendesak. Sekali lagi, dia adalah calon suamiku.". Ucap Jovanka yang benar benar membuat hati Berli teriris


"Tidak, kenapa kau berpikir seperti itu? Aku tidak mencintainya. Kau pasangan yang serasi untuknya. Jadi aku tidak mempunyai perasaan apapun padanya, percayalah.". Jawab Berli berusaha meyakinkan Jovanka. Meskipun itu hanyalah jawaban dusta semata. Namun ia tidak mungkin berterus terang bahwa ia mencintai Felix


"Baguslah kalau begitu". Ucap Jovanka tersenyum sinis


'Tentu saja Berli tidak mencintaiku. Sekarang ia sudah menjadi milik David'. Gumam Felix yang baru saja mendengar ucapan Berli. Ia memang baru saja kembali dari kamar kecil. Sehingga ia hanya mendengar sebagian dari ucapan Berli


"Kita pulang sekarang?". Tanya David yang langsung menggenggam tangan Berli. Entah sejak kapan David datang, dan entah darimana David datang. Yang jelas sepertinya David tidak suka saat melihat Berli dan Jovanka berbincang


"Aku akan berpamitan kepada Felix, setelah itu kita pulang". Ucap Berli


'Dan semua ini harus terjadi. Kita harus saling melupakan. Aku tidak akan menemuimu lagi'. Gumam Felix yang mematung di tempat itu tanpa menemui Berli saat hendak berpamitan untuk pulang.


'Mungkin Felix tidak ingin menemuiku lagi. Tentu saja, sekarang kekasih Felix sudah ada bersama nya.Untuk apa dia menemuiku'. Ucap Berli dalam hati saat berjalan di koridor menuju perjalanan pulangnya. Tak lepas dari keberadaan David yang setia berada di sisinya, meskipun sedari tadi Berli hanya melamun. Namun sebenarnya, Felix dan Berli sama sama menyimpan kesalahfahaman yang mencerca perasaan keduanya


FLASHBACK OFF

__ADS_1


__ADS_2