DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 134 - Permintaan Maaf Lathesia


__ADS_3

"Saya ingin hari ini pelaku itu di tangkap. Saya ingin ia di hukum seberat beratnya. Saya ingin ia merasakan apa yang saya rasakan". Ucap seorang wanita penuh amarah di sebrang telpon. Kini Prianka sudah mengetahui siapa sebenarnya pelaku kematian ayahnya


"Kami akan melakukan apa yang seharusnya kami lakukan. Nyonya bersabar saja, ada imbalan di setiap perbuatan". Jawab inspektur itu di sebrang telpon pagi ini


"Baik, terimakasih banyak pak". Jawab Prianka sambil menutup telpon


"Aku benar benar tidak akan mengampunimu pria pengecut!". Kecam Prianka penuh amarah


......................


"Neel. Kapan kau datang?". Ucap Adelard yang terkejut saat melihat sahabatnya tiba tiba berada di sampingnya. Ia kini tengah berada di bangku koridor kampus


"Baru saja. Sepertinya kau sedang melamun, sampai sampai tak menyadari keberadaanku". Jawab Neel tertawa renyah sambil ikut bergabung ke bangku itu


"Tidak. Aku hanya memikirkan apa yang akan terjadi pada hidupku selanjutnya". Ucap Adelard mengarahkan pandangannya ke sembarang arah

__ADS_1


"Apa yang kau cemaskan? Biarkan semua mengalir apa adanya". Ucap Neel


"Andai kau tahu, hidupku tak semudah apa yang kau bayangkan Neel". Jawab Adelard tersenyum tipis seolah menahan beban


"Apapun itu. Aku dan Romi akan selalu ada untukmu". Ucap Neel sambil merangkul pundak Adelard guna memberi semangat


"Terimakasih. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kalian tidak ada di dalam hidupku". Ucap Adelard membalas Neel.


......................


"Nyonya Inez..". Gumam Lathesia


"Nyonya, aku.. Kebetulan kita bertemu disini, aku ingin membicarakan sesuatu dengan nyonya". Ucap Lathesia yang kini tanpa sengaja bertemu dengan Bu Inez di area luar rumah sakit.


Memang sejak tadi Bu Inez sudah menapakkan kakinya di rumah sakit itu. Entah bagaimana Lathesia berada di tempat yang sama dengan nya pagi ini. Perpisahan yang terbilang lama itu membuat Lathesia menjadi canggung saat hendak berbicara dengan Bu Inez.

__ADS_1


"Apa yang ingin kau bicarakan?". Tanya Bu Inez bernada sinis.


"Bisa kita duduk sejenak? Banyak sekali yang ingin aku sampaikan. Jika Felix tidak ingin mendengarku, setidaknya nyonya berkenan untuk mendengarku". Pinta Lathesia


"Baiklah". Ucap Bu Inez sinis sambil menepi untuk menempati bangku di luar rumah sakit itu.


"Aku.. Nyonya, aku benar benar ingin meminta maaf atas semua kesalahanku pada kalian di masalalu. Aku benar benar menyesal. Aku tahu, penyesalan ku saat ini tidaklah berguna. Akan tetapi aku tidak ingin menanggung beban yang teramat berat saat kalian sama sekali tidak memaafkanku". Ucap Lathesia penuh penyesalan


"Apa kau tahu? Perbuatan bejatmu itu membuat anakku menderita. Kau membuat semuanya hancur berantakan. Seharusnya kau tidak melakukan itu pada anakku. Sampai sekarang aku tidak mengerti apa sebenarnya mau mu!". Ucap Bu Inez penuh penekanan


"Aku tahu nyonya. Akan ku katakan seribu kali pun, aku mengakui dosaku di masalalu. Aku tahu apa akibat dari semua perbuatanku. Aku menyesal, dan itu tidaklah berguna sekarang. Tetapi aku mohon, bukakan pintu maaf untukku". Ucap Lathesia berderai air mata penuh permohonan


"Baiklah. Aku memaafkan mu. Dan untuk anakku Felix, aku tidak bisa menjamin bahwa dia akan memaafkan mu. Jaga dirimu". Ucap Bu Inez yang kini menurunkan nada bicaranya dan berlalu pergi. Ia tak sanggup berlama lama berhadapan dengan Lathesia.


'Berat rasanya menjalani hidup di atas bayang dosa masalalu'. Lathesia membatin sambil menyeka air matanya yang berhasil lolos

__ADS_1


__ADS_2