DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 55 - Nyamuk


__ADS_3

"Ani, sudah selesai?. Ayo". Ajak Laura yang kini sudah menyelesaikan pekerjaan nya dan mengajak Berli untuk makan siang karena memang sudah waktunya


"Iya, ayo. Sudah lama aku tidak makan siang denganmu". Jawab Berli semangat


Mereka berdua pun begegas pergi untuk makan siang di kantin yang menjadi andalan mereka berdua


"Ani, aku ingin menanyakan sesuatu". Ucap Laura yang kini sudah duduk di bangku kantin


"Tanyakan saja, sejak kapan kau sungkan seperti ini hahah". Jawab Berli terkekeh


"Apa kau memaafkan Abian?". Tanya Laura ragu membuat Berli terkejut


"Kau sudah mengetahui masalah ini?". Tanya Berli penuh selidik


"Iya, Abian yang menceritakan semuanya padaku. Dia benar benar merasa bersalah". Ucap Laura menjelaskan


"Aku mungkin bisa memaafkan nya Laura, tapi aku butuh waktu untuk kembali menerima dia sebagai teman baik seperti sebelumnya". Jawab Berli


"Aku mengerti, mungkin jika aku menjadi dirimu aku juga tidak bisa memaafkan nya. Tapi menurutku, cobalah memaafkan nya. Aku pikir setiap manusia pasti punya kesalahan, bahkan Allah pun bisa memaafkan kesalahan hambanya. Kenapa kita yang hanya manusia biasa tidak bisa kan?". Ucap Laura menjelaskan


"Itu benar La, tapi bagaimana lagi. Aku butuh waktu untuk melupakan perkataan nya". Jawab Berli sambil mengalihkan pandangan nya ke arah lain untuk menghindari kesedihan yang mungkin saja datang tiba tiba


"Baiklah, aku juga akan berbicara kembali dengan Abian. Dia pasti akan mengerti". Jawab Laura


"Abian memintamu untuk bicara padaku?". Tanya Berli penuh selidik


"Iya, awalnya aku marah. Tapi bukan kah sudah menjadi tugas ku sebagai sahabatmu untuk mengingatkan, saat kau lupa pentingnya memaafkan?". Jawab Laura sambil tersenyum


"Terimakasih banyak La, aku benar benar terharu. Ternyata Laura yang sekarang sudah jauh menjadi lebih bijaksana". Ucap Berli sambil tersenyum


"Hmmm". Ucap Laura sambil mengerucutkan bibirnya lalu tertawa


"Aku beruntung memiliki sahabat sepertimu". Ucap Berli tersenyum

__ADS_1


"Aku juga sangat beruntung, kau juga selalu mengingatkan aku jika aku salah. Terimakasih banyak". Jawab Laura


-Sebaik baik nya teman adalah yang mampu menasehati kita di saat kehilangan arah-


"Kau?". Ucap Berli yang terkejut saat seseorang tiba tiba duduk di samping nya. Siapa lagi jika bukan Felix, Laura pun tak kalah terkejut di buatnya


"Apa aku mengganggu?". Balas Felix sambil melahap camilan yang ada di meja


"Kenapa ka tiba tiba datang kesini?". Tanya Berli penuh penekanan


"Waduh, ternyata sekarang aku jadi nyamuk toh. Yaudah aku gaakan ganggu". Sahut Laura sambil tersenyum


"Eeeee jangann.. Ayo duduk lagi". Ucap Berli sambil menarik tangan Laura yang hendak pergi


"Sedang apa kau disini?". Tanya Berli penuh penekanan


"Kau tidak lihat aku sedang makan?". Ucap Felix dingin sambil tersenyum menyeringai. Laura hanya tersenyum melihat mereka berdua


"Kau mengganggu, tahu tidak". Rengek Berli


"Tidak, dia bukan paca......". Ucap Berli belum meyelesaikan ucapannya karena langsung di sambar Felix


"Ya, pindah saja. Kau kan sudah lama bersamanya". Sahut Felix kepada Laura


"Baiklah, selamat membucin hahaha, aku sendiri ternyata yang belum memiliki pasangan huhu". Jawab Laura sambil berlalu ke bangku sebelah


"Laaa... Siniii". Ucap Berli menahan


"Ayolah Ani, pacarmu ada disana. Nikmati saja waktu kalian berdua". Jawab Laura sambil tertawa. Ia sama sekai tidak keberatan


"Dia saja menerima, kenapa kau yang repot?". Ucap Felix sambil melahap makanan nya


"Huhhh, kau mengganggu". Ucap Berli menepis lengan Felix. Felix hanya tersenyum melihat tingkah Berli

__ADS_1


......................


"Bagaimana kabar ibu dan ayah mu sayang?". Tanya Bu Inez kepada Jovanka yang masih setia menemaninya


"Mereka baik baik saja tan". Jawab Jovanka


"Lain kali, ajaklah mereka kesini sayang". Ucap Bu Inez ramah


"Iya tan, nanti Jovan akan membicarakan nya pada mereka". Jawab Jovanka sambil tersenyum


'Lagi lagi aku harus membuat drama baru'. Batin Jovanka


"Kak Jovan, apa tidak bekerja?. Atau kuliah?, atau kegiatan apapun?". Sahut Romi yang juga ada di sana


"Aku sudah menyelesaikan study ku di Perth Romi, sebenarnya ayah ku sudah memberikan aset kepadaku. Jadi untuk apa aku bekerja lagi". Jawab Jovanka


"Tapi aset itu kan akan habis jika terus di gunakan tanpa di ganti jumlah nya". Jawab Romi yang merasa aneh dengan pemikiran Jovanka


"Romi, kau jangan seperti itu pada calon kakak ipar mu nak. Tidak seharusnya kau berkata seperti itu". Sahut Bu Inez


"Romi kan hanya menyampaikan pendapat ma". Jawab Romi, ia seperti sudah tahu gelagat Jovanka. Makan nya ia berusaha menyindirnya


"Tidak apa apa tante, itu tidak masalah bagiku". Jawab Jovanka menahan kesal di hatinya


"Tuh kan, kak Jovanka saja tidak masalah". Ucap Romi sambil tersenyum menyeringai penuh arti


"Lalu kau tidak pergi kuliah Rom?". Tanya Jovanka yang ingin kembali menyindir Romi


"Tidak, aku ingin menemani ibuku hari ini". Jawab Romi


"Pendidikan lebih penting, ayolah ibumu akan bersamaku". Jawab Jovanka sambil tersenyum


"Ibuku lebih penting dari apapun". Jawab Romi singkat sambil tersenyum tipis menatap lekat Jovanka

__ADS_1


'Menyebalkan, dia berusaha memojokanku'. Batin Jovanka


Bu Inez hanya tersenyum bahagia mendengar kepedulian anaknya. Ia sama sekali tak menduga apa yang terjadi pada Romi dan Jovanka


__ADS_2