
"Sudah sampai. Nak Ozcan, ayo.. Masuklah terlebih dahulu". Ucap Bu Inez saat sudah sampai di halaman rumahnya. Ia hendak mengajak Ozcan untuk mampir terlebih dahulu, terlebih Bu Inez merasa berhutang budi padanya.
"Iya Ozcan, masuklah dulu.. ". Sahut Felix
"Baiklah.. ". Balas Ozcan menyetujui dan ikut masuk bersama Ibu dan anak itu.
Mereka masuk begitu saja ke dalam rumah, tanpa menyadari keberadaan Lathesia yang sejak tadi menunggu Felix.
Felix berjalan lurus menuju anak tangga yang akan mengantarnya naik ke kamarnya. Namun langkah nya terhenti saat Lathesia memanggil.
"Felix.. ". Ucap Lathesia penuh semangat.
Seketika Felix mengarahkan pandangan nya ke arah sumber suara, begitu juga dengan Ozcan dan Bu Inez.
__ADS_1
"Kau?". Ucap Felix dengan raut wajah tak suka.
"Lathesia, sejak kapan kau datang?". Bu Inez bersemangat sambil menghampiri Lathesia dan memeluknya, seolah bahagia melihat kedatangan nya.
"Belum terlalu lama tante". Jawab Lathesia tersenyum manis sambil membalas pelukan Bu Inez.
Felix mulai muak dengan pemandangan itu, ia hendak melenggang ke kamarnya bersama Ozcan, namun lagi lagi langkahnya terhenti.
"Felix, tunggu.. ". Lathesia menghentikan langkah Felix. Karena memang tujuan kedatangannya hanya untuk menemui pria ini.
"Felix, duduklah. Kita bicara baik baik ya.. ". Sahut Bu Inez.
"Aku lelah, aku ingin beristirahat". Balas Felix singkat sambil berlalu pergi ke kamarnya di buntuti Ozcan.
__ADS_1
"Maafkan Felix ya Lathesia.. Wajar saja, ia baru saja pulang dari rumah sakit bukan?". Ucap Bu Inez menenangkan penuh kasih sayang.
"Tidak apa tante. Aku mengerti". Balas Lathesia kecewa namun tetap bersemangat.
......................
"Apa benar semua ini hanya fiksi?. Apa benar aku hanya berharap pada suatu kebohongan?. Mengapa dunia begitu kalut bagiku?. Siapa kau sebenarnya?. Mengapa aku merasa bahwa kita terlalu rumpang untuk selalu bersama?. Mengapa kau membuatku begitu jatuh ke dalam perasaan ini?. Perasaan yang egois, dimana aku hanya ingin denganmu. Tetapi dunia berkata bahwa aku bukanlah orang itu, aku bukanlah seseorang yang akan bersamamu di atas altar kebahagiaan itu?. Apa yang sedang kau lakukan?. Dan siapa dirimu? aku tidak tahu. Yang aku tahu adalah, aku hanya ingin denganmu". Gumam Berli menatap nanar gambar dirinya bersama pria yang sudah membuatnya benar-benar jatuh cinta.
Pertanyaan dan keraguan mulai berputar lagi ke kepala nya. Mengapa di saat ia merasa yakin, keraguan itu selalu datang begitu nyata di hadapan nya. Mengapa hubungan ini begitu misterius baginya?. Padahal, rasa yang ia berikan adalah nyata adanya. Bukan sekedar fiksi.
......................
"Aku tidak tahu rencanamu. Yang aku tahu, sekarang aku begitu hancur. Sangat hancur. Aku akan membuang semua kenangan tentang kita. Tidak ada lagi kita, yang ada hanyalah kekecewaan. Maafkan aku". Ucap Romi yang matanya mulai berkaca kaca. Di tangannya, ia menggenggam korek api gas yang siap membakar kenangan yang pernah ia ukir bersama Prianka.
__ADS_1
Satu persatu, lembaran foto itu mulai menjadi abu yang berjatuhan di lantai. Kekecewaan dan kesedihan bercampur menjadi satu. Tidak ada lagi rasa cinta yang untuh melainkan kekecewaan yang mendalam. Jauh di relung hatinya, ia menangis tanpa arah. Apa yang harus ia tangisi?. Wanita itu, wanita yang ia percaya sebagai dambaan hatinya, kini memilih pergi bersama pria yang menjadi musuh ya.
"Aku mungkin akan membencimu". Ujar Romi menatap nanar abu yang berjatuhan itu. Tanpa terasa, air matanya menetes begitu saja.