DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 261 - Gadis Mulia


__ADS_3

"Sudah sampai. Kalau begitu, aku masuk ya". Ucap Berli, yang kini sudah sampai di halaman rumah nya. Ia hendak membuka pintu mobil, namun Felix langsung mencegah nya.


"Tunggu". Felix melenggang, dan membukakan pintu untuk Berli.


Berli tersenyum. "Aku bisa melakukan nya sendiri sayang".


Felix hanya tersenyum.


Berli turun, dan melangkah beberapa langkah.


"Kalau begitu, pergilah. Semoga semua nya berjalan lancar ya".


"Terimakasih. Kau selalu mendukungku".


Berli tersenyum


"Aku pergi". Ucap Felix, sembari mengecup kepala Berli.


Degg, jantung Berli berdegup begitu kencang. Meskipun ini bukan yang pertama kali, tetapi Berli selalu saja terkejut saat Felix tiba-tiba begitu.


Berli terdiam seri bahasa.


"Sampai bertemu nanti..". Felix tersenyum sambil melenggang.


Berli tersadar "Ah, i..Iya. Sampai nanti". Berli tak karuan.


Felix pergi, dan Berli masih disana. Ia tersenyum berbunga-bunga, seperti layaknya pertama kali jatuh cinta.


"Felix, kau ini.. "


......................


Hari berlalu begitu cepat. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.


toktotkok,, suara ketukan pintu terdengar di rumah Bu Yuni.


"Assalamualaikum.. ". Suara itu mendominasi dari luar.

__ADS_1


Pak Yuni dan Pak Yudi bertukar pandang. "Siapa yang datang?". Ucap Pak Yudi.


Bu Yuni beranjak, dan menghampiri ambang pintu. "Biarku lihat"


"Berli?". Bu Yuni cukup terkejut dengan kedatangan Berli, di saat putri nya dalam keadaab seperti ini.


Berli tersenyum, tak lupa ia juga membawa buah tangan untuk di berikan kepada keluarga Lathesia. "Tante, sudah lama kita tidak bertemu". Berli langsung menyambar tangan Bu Yuni dan menyalami nya.


Bu Yuni menatap heran, dan enggan. "Berli?".


Berli mengernyit. Tidak biasanya Bu Yuni menunjukkan raut wajah ini. "Ada apa tante?. Apa kedatanganku mengganggu?".


Bu Yuni berusaha biasa saja. "Tidak, Berli. Ayo masuk"


Berli yang di persilahkan masuk, ia masuk ke rumah Bu Yuni dengan sikap nya seperti biasa. Ia menghampiri Pak Yudi dan menyalami nya juga.


"Berli, kau datang kemari nak?". Ucap Pak Yudi.


"Ah iya, aku datang kemari untuk menemui Lathesia. Apa Lathesia ada di rumah?. Sejak tadi aku menghubungi nya, tetapi Lathesia sama sekali tidak menjawabku". Ucap Berli. Pasalnya, ia memang sudah menghubungi Lathesia sebelum nya. Namun, tak kunjung mendapat jawaban.


Pak Yudi berusaha bersikap biasa. Karena memang ini bukan kesalahan Berli.


Pak Yudi tersenyum. "Lathesia ada di kamar nya nak, tapi sepertinya beliau sedang tidak enak badan".


Bu Yuni menatap ke arah Pak Yudi. Namun Pak Yudi memberikan sinyal, agar tidak memberitahu nya terlebih dahulu.


"Ah iya, Lathesia sedang tidak enak badan nak.. ". Sahut Bu Yuni.


"Begitu ya?. Apa aku boleh menemuinya?. Atau mungkin Lathesia sedang beristirahat?". Ucap Berli. Ada sediki kecewa di hati nya.


"Mungkin untuk saat ini, beliau sedang tidak bisa di temui nak. Maaf ya, mungkin kau bisa menemuinya lain waktu". Ucap Bu Yuni dengan nada menyesal.


Berli memberikan kantong yang berisi buah tangan dan syal milik Lathesia. "Begitu ya?. Kalau begitu, ini.. Aku titipkan saja pada tante. Aku membawa sedikit buah tangan. Dan juga, ini.. Syal milik Lathesia tertinggal di rumahku kemarin. Aku berniat untuk mengembalikan nya".


Pak Yudi semakin heran. "Jadi, kemarin Lathesia datang ke rumahmu?".


Berli menatap ke arah Pak Yudi. "Iya. Kemarin Lathesia sempat mengunjungiku. Kami berbincang-bincang. Tante, aku tahu yang Lathesia alami mungkin sulit untuknya.". Ucap Berli sembari memegang lengan Bu Yuni.

__ADS_1


"Tapi aku yakin, Lathesia akan baik-baik saja. Dia pasti akan menemukan seseorang yang terbaik. Andai aku bisa membantu, aku akan lakukan. Tetapi.. Lathesia masih berlarut dengan masalalu nya. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk nya. Dan, Tante.. katakan padanya setelah keadaan nya lebih baik, tolong kabari aku ya. Aku akan selalu ada untuk nya". Tambah Berli


Deg,


Hati Bu Yuni dan Pak Yudi begitu terbesit. Mereka berpikir, mengapa putri nya begitu membenci wanita yang jelas sangat menyayanginya.


Bu Yuni berhambur, memeluk Berli dengan tiba-tiba.


Berli yang terkejut, ia membalas pelukan Bu Yuni dengan heran. "Tante, ada apa?".


Bu Yuni terenyuh. "Kau wanita yang begitu baik nak. Terimakasih, kau adalah sahabat Lathesia yang terbaik. Semoga kau selalu bahagia".


Pak Yudi tersenyum, menahan air mata. Ada rasa sedih di hatinya.


"Tante tidak usah seperti itu. Aku tidak melakukan apapun. Bahkan di saat seperti ini, aku belum bisa membuat Lathesia bangkit".


Bu Yuni melepas pelukan nya. Dan menyapu lembut pipi Berli.


"Kau gadis yang mulia. Semoga kau selalu beruntung".


Berli tersenyum, tak mengerti dengan apa yang terjadi.


"Aamiin.. "


"Kalau begitu, aku pamit ya. Om, Tante.. Aku akan kembali jika Lathesia sudah sembuh. Sekarang, aku tidak ingin mengganggu istirahat nya. Terimakasih ya.. Assalamualaikum".


"Waalaikumsalam.. "


Berli melenggang, untuk pulang ke rumah nya, tanpa menemui Lathesia. Setidaknya Berli sudah bertemu dengan orangtua Lathesia setelah sekian lama.


"Dia gadis yang baik.. ". Gumam Bu Yuni.


"Aku pikir Berli sama sekali tak mengetahui apa yang terjadi". Sahut Pak Yudi.


"Aku juga berpikir begitu. Seharusnya Lathesia tidak perlu membencinya". Bu Yuni begitu menyayangkan sikap putri nya.


"Dia bahkan sangat peduli. Padahal.. Disini, putri kita sudah menghina nya habis-habisan"

__ADS_1


__ADS_2