DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 241 - Kebenaran


__ADS_3

"Kenapa malu-malu?. Ayo, makan makanan nya". Ucap Bu Inez yang melihat Berli mengambil makanan yang hanya ada di dekat nya saja. Tentu ia hanya mengambil makanan terdekat nya saja, karena itu juga bagian dari tata krama.


"Ah iya ma..". Ucap Berli.


"Oh ya, kakak.. Apakah kakak punya adik?". Tanya Romi di sela makan nya.


"Sebenarnya aku punya adik laki-laki. Tetapi adikku hilang setelah ibu dan ayahku mengalami kecelakaan beberapa tahun silam". Balas Berli. Yang membuat Bu Inez terkejut.


"Maksudnya hilang bagaimana kak?. Memang nya saat itu kakak tidak tahu?". Ucap Romi yang heran sekaligus terkejut.


"Tidak Rom. Saat itu aku memang masih kecil. Ibu dan Ayahku tengah menyebrang, sembari membawa adik kecil ku. Menurut beberapa saksi, ada mobil yang menabrak mereka. Tak lama dari kecelakaan itu Ibu dan Ayahku menghembuskan nafas terakhirnya. Sedangkan, sampai sekarang tidak ada yang tahu kemana adikku hilang. Bahkan jika adikku tidak selamat, jasad nya sampai saat ini tidak di temukan". Balas Berli yang membuat Bu Inez terbelalak.


"Sungguh kak?". Romi pun terkejut mendengar pernyataan Berli. "Kakak kuat sekali, selama ini kakak menanggung beban sendiri. Bahkan kakak pasti sangat merindukkan adikmu kan?". Tambah Romi.

__ADS_1


"Tentu saja Rom. Aku dan Felix selalu berusaha mencarinya. Tetapi mungkin takdir belum mempertemukan kami". Balas Berli tersenyum, menahan luka.


Felix yang refleks, ia mengusap lembut pundak Berli menguatkan.


"Sayang, sudahlah.. ". Ucap Felix lembut. Ia tidak ingin Berli bersedih.


'Jangan-jangan, anak laki-laki yang dia maksud adalah anak yang aku ambil saat itu'. Bu Inez membatin. Ia mengingat masalalu nya.


"Ma?. Kenapa mama melamun?". Ucap Felix yang heran. Saat tiba-tiba Bu Inez menghentikan makan nya.


"Baiklah.. ". Ucap Felix.


......................

__ADS_1


"Kenapa tante Inez belum mengabariku juga?. Sejak tadi aku menunggu. Tetapi tidak ada kabar sama sekali. Atau aku yang harus menelpon nya?". Ucap Lathesia gelisah saat Bu Inez tak kunjung memberinya kabar. Padahal, ia sudah bersiap.


"Aku akan menelpon nya". Lathesia merogoh benda pipih yang ada di nakas. Ia menekan tombol telepon dan hendak melakukan panggilan kepada Bu Inez, berharap kabar baik datang padanya.


"Tidak di angkat. Bagaimana Tante Inez ini.. ". Ucap Lathesia yang sama sekali tak mendapat jawaban dari Bu Inez. Setelah melakukan beberapa kali panggilan, dan tak kunjung mendapat jawaban, ia pun merasa kesal


"Lebih baik aku langsung datang saja. Masalah Felix ada atau tidak, itu urusan nanti". Ucap Lathesia. Ia langsung menyambar kunci mobil dan tas yang ia bawa.


......................


"Maafkan aku Lathesia, aku sedang tidak ingin bicara denganmu". Gumam Bu Inez yang melihat ponsel nya mendapatkan banyak panggilan telepon dari Lathesia. Perasaan nya begitu kalut dan gusar setelah mendengar cerita Berli tadi.


Ia hanya termenung, menatap bayang dirinya yang memantul di cermin. Ya, saat itu juga ia pergi ke kamar mandi yang berada di dalam kamar nya guna menenangkan diri. Sambil sesekali membuka keran air untuk membasahi tangan dan wajahnya.

__ADS_1


"Apa yang Berli maksud adalah tentang ku?. Jika itu benar, dan jika memang semua bukti adalah tentang orangtua nya, maka aku lah yang bertanggung jawab. Aku lah yang dulu menabrak sepasang suami istri yang membawa seorang anak laki-laki. Aku lah yang membawa anak laki-laki itu, aku lah yang membesarkan nya sampai saat ini. Dan anak itu adalah Romi". Ucap Bu Inez sambil menatap cermin. Ia menatap bayang dirinya yang dulu khilaf.


"Tetapi, aku tidak akan membiarkan siapapun tahu tentang semua ini. Romi adalah anakku, dan sampai kapanpun akan menjadi anakku. Sementara, aku membenci Berli. Romi anakku, dan Berli adalah gadis yang ku benci. Mereka berbeda, dan aku tidak akan membiarkan dia menjadi bagian dari keluargaku". Ucap Bu Inez penuh penekanan. Setelah menyadari kesalahan nya, kebencian nya justru semakin menggebu.


__ADS_2