
"Ma, ada apa?". Ucap Felix saat baru saja tiba di sebuah bank. Memang Bu Inez tengah menangani kejadian yang baru saja menimpa nya.
"Felix, ada seseorang yang membobol rekening mama. Uang yang tersisa di dalam rekening hanya tinggal dua puluh persen saja. Entah siapa yang melalukan semua ini". Balas Bu Inez gusar.
"Apa?. Mengapa bisa begini?. Sebelumnya apa yang mama lakukan?". Felix terkejut tak karuan. Pasalnya, banyak sekali nominal yang mereka raup.
"Mama tidak tahu.. ". Ucap Bu Inez sambil merenung.
"Ya sudah, kalau begitu mama tenang saja. Kita akan laporkan masalah ini ke polisi". Ucap Felix menenangkan Ibunya.
......................
"Apakah Felix tidak akan mengajakku makan siang?. Mengapa aku tidak melihatnya sejak tadi?". Ucap Berli sembari mengedarkan pandangan nya ke sekitar.
"Berli.. ". Ucap David yang tiba-tiba saa datang membuyarkan lamunan Berli.
"Pak David, ada apa?". Berli seketika menoleh.
"Kau tidak pergi makan siang?". Ucap David seolah memanfaatkan keadaan.
"Ah iya. Aku sedang menunggu Felix Pak". Balas Berli segan.
__ADS_1
"Begitu ya". Ucap David lesu.
"Berli, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu. Bisakah kita membicarakan nya sembari makan siang bersamaku?". Ucap David penuh permintaan.
"Maaf Pak, aku tidak bermaksud untuk menolak ajakan Bapak. Tetapi, mungkin Felix akan mencariku nanti". Ucap Berli segan menolak.
"Kali ini saja, aku mohon..". Ucap David penuh permohonan.
"Bagaimana ya..". Gumam Berli bingung. Ia takut hal ini akan menjadi masalah untuk ia dan Felix.
"Ku mohon..". Ucap David kembali.
"Baiklah, jika itu sangat penting". Ucap Berli menyetujui permintaan David. Meskipun pandangan nya masih mencari sang kekasih.
......................
"Tempat ini.. Rasanya semua terlalu singkat". Gumam Romi saat ia tengah berada di bangku kampus yang dulu selalu ia duduki bersama Prianka.
Ia mengingat kembali kejadian yang pernah ia lewati bersamanya. Tangis dan tawa yang dahulu mereka alami bersama, kini enyah entah kemana. Rasanya terlalu singkat kebersamaan ini.
"Rom.. ". Seseorang menepis pundak Romi, membuat lamunan nya buyar.
__ADS_1
"Neel?. Duduklah". Ucap Romi mempersilahkan Neel bergabung.
"Rom, kau termenung sendiri disini. Ada apa?". Ucap Neel khawatir.
"Tidak apa Neel. Aku hanya.. Ya, tiba-tiba saja aku mengingat Prianka. Ah tidak, tidak.. Lupakan.. Oh ya, ngomong-ngomong kau darimana?". Ucap Romi gugup. Namun ia berusaha menyembunyikan perasaan nya dan mengalihkan pembicaraan. Neel pun tidak ingin membawanya pembahasan nya larut.
"Aku baru saja pulang dari bank. Aku hendak mengambil tabunganku". Balas Neel.
"Mengambil uang?. Tapi untuk apa Neel, sampai kau menggunakan uang tabunganmu?". Tanya Romi
"Aku ada sedikit keperluan. Entah itu untuk kuliah, dan lainnya. Ya.. Pada akhrinya kita akan menggunakan uang yang telah kita simpan kan". Ucap Neel tersenyum.
"Iya. Kau benar". Balas Romi.
"Rom. Apa mungkin kita harus menemui Prianka, lagi?. Aku pikir kau masih mengkhawatirkan nya". Ucap Neel pelan, penuh selidik.
"Tidak Neel. Itu sama sekali tidak perlu". Ucap Romi namun berat di hatinya.
"Bukankah kita harus meminta penjelasan tentang semua yang terjadi?. Rom, ku mohon.. Jangan siksa batinmu seperti ini". Ucap Neel yang mengerti perasaan Romi.
"Baiklah Neel. Aku akan menemuinya besok. Aku pikir, hari ini bukanlah hari yang tepat. Hari ini ia pasti sedang bersama si baji**an itu". Ucap Romi menyembunyikan perasaan nya.
__ADS_1
"Baiklah Rom, jika itu mau mu". Balas Neel.