DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 260 - Sel


__ADS_3

"Sepertinya hari ini Berli tidak datang. Aditya, apa kau melihatnya?". Tanya David kepada Aditya.


Aditya mengangguk. "Saya tidak melihatnya juga pak. Saya pikir Kak Berli sedang cuti".


David terdiam, seolah berpikir.


"Memang nya, ada apa pak?". Tambah Aditya.


David langsung tersentak. "Tidak. Aku hanya bertanya saja". Ia kembali terdiam.


......................


"Baiklah Tuan, Nyonya. Kami akan membuat yang terbaik untuk kalian berdua. Kami akan menyelesaikan nya dalam kurun waktu sesingkat mungkin. Kalian adalah prioritas kami". Ucap desainer tersebut. Saat Berli dan Felix hendak berpamitan.


Berli tersenyum. "Terimakasih Nona Zaynap".


"Kalau begitu kami pamit, terimakasih banyak". Sahut Felix sembari merangkul pinggang Berli.


"Terimakasih kembali, Tuan. Sampai jumpa nanti. Semoga semuanya lancar".


Setelah berbincang, Felix dan Berli melenggang untuk pulang.

__ADS_1


"Felix, terimakasih. Aku sangat bahagia". Ucap Berli


Felix menatap Berli. "Itu sudah tugasku".


"Lalu Nona, kita akan pergi kemana lagi?. Apa kita akan pergi makan siang?". Tambah Felix, sembari berjalan menuju lift untuk turun. Ia tak melepaskan genggaman nya di tangan Berli walau hanya sedetikpun.


"Aku rasa hari ini sudah cukup, Kita pulang saja". tiba-tiba Berli teringat. "Ah iya, bagaimana kalau kita pergi ke rumah Lathesia untuk mengembalikan syal nya?. Kau harus berkenalan dengan nya, dia sangat baik". Ucap Berli antusias.


Mereka kini sudah turun dari lift, dan hendak berjalan ke arah mobil.


"Sayang, tapi.. "


Ucapan Felix terpotong. Ponsel nya berbunyi di saat yang tepat.


Berli hanya terdiam mendengarkan percakapan Felix dan seseorang di sebrang telepon.


"Baiklah. Aku datang sekarang". Ucap Felix di akhir pembicaraan nya. Ia menutup telepon.


Berli mengernyit. "Siapa yang menelpon?".


"Ozcan. Dia memintaku menemui nya sekarang. Ia bilang ada sesuatu yang harus aku tanda tangani".

__ADS_1


Berli menghela nafas dan tersenyum. "Baiklah kalau begitu, aku akan pergi ke rumah Lathesia sendiri".


Felix merasa tidak enak, namun satu sisi ini adalah masalah pekerjaan.


"Sayang, kita pergi lain waktu saja. Nanti aku akan menemanimu". Ucap Felix, meskipun ia tidak yakin akan benar-benar melakukan nya nanti.


Berli tersenyum. "Tidak apa sayang. Aku tidak marah dan keberatan sama sekali. Pergilah, lagipula aku sudah lama tidak bertemu dengan keluarga Lathesia. Kau tahu? Ibu dan Ayahnya selalu menyambutku dengan ramah. Itu sebab nya aku merindukan mereka. Aku akan pergi sendiri sore nanti. Lagipula rumah nya tidak begitu jauh dari rumahku".


"Baiklah kalau begitu".


'Berli, maafkan aku. Aku tidak ingin kau tahu semua ini. Aku takut kau akan pergi dariku setelah mengetahui masalaluku dengan Lathesia. Terlebih kau begitu dekat dengan nya, dan Lathesia masih mengharapkan ku'. Felix membatin


"Ayo, kita pulang. Kau bisa terlambat". Berli membuka pintu mobil. Ia takut Felix akan terlambat menemui Ozcan.


......................


"Kau puas sekarang?!". Ucap Bryan penuh penekanan. Ia masih menyimpan dendam kepada Romi. Bahkan sampai saat ini, meskipun ia berada dalam sel dan Romi menjenguknya, ia tetap berkata kasar.


"Aku tidak pernah menginginkan ini, tetapi kau memaksaku untuk membawa mu kemari. Semua yang kau lakukan, pasti ada balasan nya. Dan inilah kenyataan nya. Mulai sekarang, jadilah pria sejati dan belajarlah untuk lebih baik. Bryan!". Ujar Romi tenang.


"Apa kau merasa dirimu lebih baik, hah?. Kau hanya sok suci!". Ucap Bryan. Sambil meludah ke samping Romi.

__ADS_1


"Aku tidak mengatakan diriku lebih baik dari siapapun. Tetapi meskipun begitu, aku tidak pernah melakukan apa yang bahkan iblis pun tidak mampu lakukan". Ucap Romi. Ini benar-benar membuat Bryan skakmat, ia hanya bisa menelan saliva. Romi melenggang pergi, sebelum emosi nya kembali naik.


Bryan hanya menatap tajam ke arah Romi, penuh kebencian.


__ADS_2