DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 251 - Menunggu Waktu


__ADS_3

"kak Felix.. Kak Felix mungkin bisa membantuku". Ucap Romi yang langsung merogoh ponsel miliknya di dashboard.


Sementara itu..


"Bryan. Kau akan membawaku kemana?". Ucap Prianka yang badan nya di bawa paksa oleh Bryan.


"Kau ingin siksaan mu berakhir kan?. Maka inilah akhirnya". Tegas Bryan.


"Bryan, ku mohon.. Lepaskan aku". Ucap Prianka, saat Bryan menuntun langkah nya mendekati jurang yang dalam itu.


"Kita lihat, apakah pria yang kau dambakan itu akan menolongmu di saat seperti ini?. Atau bahkan dia tidak akan pernah datang, sampai kau benar-benar tiada di dunia ini". Ucap Bryan meyeringai.


"Bryan, ku mohon.. Kali ini saja, jangan lakukan". Ucap Prianka, yang sudah mulai kehabisan tenaga untuk menangis.

__ADS_1


"Tidak nona, permainan baru saja di mulai". Ucap Bryan. Ia mengikat pergelangan tangan, dan kedua kaki Prianka. Ia sengaja membuat Prianka dalam posisi berbaring agar tidak bisa kabur. Ia juga menutup mulut Prianka dengan kain yang sangat tebal.


"Kita lihat, seberapa besar cinta kalian berdua". Ucap Bryan menyeringai. Ia mengeluarkan senjata api yang ia bawa di saki celana nya. Ia menembakkan nya ke atas, untuk membuat Prianka semakin ketakutan.


'Seseorang tolong aku.. Jangan biarkan Romi datang kemari'. Prianka membatin.


Peluh mulai keluar dari badan nya. Nafas terpenggal, dan tangis yang mulai mengering itu, menjadi saksi derita nya. Ia hanya terbaring di atas bebatuan yang mulai menyakiti raga nya. Dengan tangan dan kaki yang terikat, ia hanya bisa berpasrah. Mungkin hidupnya akan berakhir sampai disini.


"Ya Allah.. Lindungilah Romi. Jangan biarkan ia datang kemari. Biarkan saja aku yang menanggung semua ini. Karena ini adalah salahku". Batin Prianka.


"Kalau saja hari itu aku tidak mengikuti perkataan Valerie, semua ini tidak akan pernah terjadi. Jika aku memiliki kesempatan untuk kembali ke kehidupanku yang normal, aku akan menuntut keadalian padanya. Aku akan menghukum orang-orang jahat ini". Kembali Prianka membatin, sembari menatap lekat ke arah Bryan yang kini tengah menggenggam pistol.


......................

__ADS_1


"Rom?. Apa kau tidak salah?. Untuk apa uang sebanyak itu?". Ucap Felix heran. Saat ini Romi memang tengah berada di ruangan kerja Felix. Karena, setelah menghubunginya tadi, Felix memintanya untuk datang ke kantor nya.


"Kak, aku mohon.. Aku akan menggantinya nanti". Ucap Romi penuh permohonan.


"Tidak Romi, aku tidak sedang membicarakan uang ganti. Bahkan jika kau tidak menggantipun tidak masalah. Yang aku khawatirkan adalah dirimu. Apakah ada jaminan, setelah kau menyerahkan uang itu, Bryan tidak akan mencelakakanmu?. Kenapa harus di tepi jurang?. Tidak adakah tempat lain untuk bernegosiasi?. Terima atau tidak, aku akan ikut bersamamu Rom". Ucap Felix tegas.


"Kak, aku mohon.. Bryan memintaku datang sendirian. Itu artinya, jika aku membawa siapapun di belakangku, maka dia akan mencelakainya". Ucap Romi kalut.


"Baiklah, pergilah". Ucap Felix sembari menyodorkan koper berisi uang. Semudah itu Felix mengambil keputusan.


"Kakak, terimakasih.. Kau sangat baik. Doakan aku agar berhasil ya kak". Ucap Romi tersenyum, dan memeluk Felix. Romi yang tak ingin menunggu lebih lama lagi, ia langsung bergegas membawa koper berisi uang itu.


"Tentu aku tak sepercaya dirimu Romi. Kau dalam bahaya, dan aku tidak akan membiarkanmu celaka". Ucap Felix. Yang tentu ia punya cara lain untuk menyelamatkan adik satu satunya ini.

__ADS_1


__ADS_2