
Plakkk,,
Suara tamparan itu mendominasi kamar yang seharusnya menjadi kebahagiaan sepasang pengantin baru.
"Apa yang kau lakukan jal*ng?. Kau memanggil nya untuk datang kemari dan memukuliku?. Lalu kau berusaha lari dariku hah?". Ucap Bryan penuh emosi dan kasar
Prianka yang tersungkur, ia menangis kesakitan. Ia berusaha bangkit dan melawan perkataan Bryan yang menyalahkan nya.
"Aku tidak mengundang nya. Kau yang memaksaku untuk memamerkan foto kau dan aku. Wajar saja jika Romi datang kemari, karena kau yang memancing nya. Lalu mengapa kau menyalahkan aku jika dia memukulimu pengecut!". Prianka berteriak tegas. Lagi lagi tamparan keras yang ia dapatkan
Plakk,,,
Kembali Prianka tersungkur. Bryan mendekatinya dan mendekap leher Prianka sampai ia kesulitan untuk bernafas.
"Turunkan nada bicaramu sebelum aku menurunkan kesempatan kau hidup di dunia ini!. Jangan pernah berteriak kepadaku, atau aku akan melakukan hal yang lebih kasar daripada ini!". Ucap Bryan penuh ancaman. Ia melepas kasar kepala Prianka dari dekapan nya.
Bryan berlalu begitu saja dan mengunci pintu dari luar. Prianka menangus sejadinya
"Romi, tolong aku.. ". Gumam Prianka di tengah isakan nya.
"Andai saja hari itu aku tidak pergi, semua ini tidak akan pernah terjadi.. ". Prianka menyandarkan kepala nya di dinding. Ia benar-benar menyesal.
__ADS_1
*Flashback on*
"Prianka, bisakah kau ikut bersamaku?. Aku hendak menghadiri pesta. Aku ingin kau menemaniku disana. Lagipula sudah lama kita tidak bersenang-senang bukan?". Ucap Valerie di sebrang telepon. Valerie adalah teman lama Priaka yang sudah lama tidak ia jumpai.
"Maafkan aku Lerie, aku tidak bisa. Aku harus mengerjakan tugas kampusku yang menumpuk. Dan juga, kekasihku mungkin tidak akan mengizinkanku untuk pergi". Balas Prianka menolak, mengingat ia harus mengerjakan tugas, dan Romi sudah pasti tidak akan mengizinkan nya pergi, apalagi Valerie sudah bersahabat dengan dunia malam.
"Satu kali saja. Lagipula apa kau tidak bosan dengan buku-buku itu?. Dan juga kekasihmu, kau kan belum tentu akan bersamanya. Kenapa dia melarangmu untuk bebas bukan? ayolah, kali ini saja.. ". Valerie terus saja berusaha.
'Valerie ada benarnya. Lagipula Romi tidak menghubungiku. Aku gengsi untuk menghubunginya terlebih dahulu. Lebih baik aku ikut dengan Valerie, disana aku bisa have fun bukan'. Prianka membatin
"Ya sudah, aku ikut. Aku menginap di rumahmu kan?". Ucap Prianka setuju. Karena ia berpikir bahwa hubungan nya dengan Romi sedang slek
"Baiklah, kalau begitu aku akan bersiap. Sampai bertemu nanti". Ucap Prianka bahagia, menutup telepon
"Sampai nanti.. ". Balas Valerie tersenyum puas penuh arti.
'Bawa perbekalanmu untuk datang ke neraka anak manis'. Gumam Valerie saat menutup telepon itu.
"Lebih baik aku berkemas. Lagipula Romi tidak akan tahu". Gumam Prianka yang hendak mengemasi separuh barang nya.
Dan sesampainya kedua pria utusan Valerie menjemput, tidak ada keramahan di antara mereka. Mereka terkesan menakutkan dan misterius. Membuat Prianka khawatir, namun ia tetap berpikir positif.
__ADS_1
'Tidak apa, ini hanyalah sopir Valerie. Mungkin memang hanya tipe orang yang kaku sehingga tidak mengatakan apapun'. Prianka membatin saat mobil itu membawanya pergi. Senyap. Itulah yang ia rasakan di dalam kendaraan roda empat itu.
"Turun!". Ucap salah seorang pria teman sopir Valerie. Ia mengatakan itu dengan tegas seolah sedang kesal.
"Baik, terimakasih.. ". Prianka turun saat pintu mobil sudah di bukakan olehnya.
Bingung dan takut kini mulai mendominasi saat Prianka justru di turunkan di sebuah tempat yang terbilang menyeramkan dan sepi. Ia di turunkan di sebuah gedung pabrik tua yang terbengkalai.
"Pak, apa alamat nya tidak salah?. Aku hendak pergi ke rumah temanku, Valerie". Ucap Prianka mencari pembenaran.
"Masuk!". Balas pria itu yang justru membuat Prianka takut.
"Tidak, aku ingin pulang saja. Alamat nya pasti salah, ini bukan rumah Valerie. Tolong antarkan aku pulang, aku akan mengganti uang bensin nya". Ucap Prianka yang ketakutan nya sudah full mendominasi
"Aku bilang masuk!". Bentak Pria itu sambil menarik paksa Prianka untuk masuk.
"Lepaskan aku. Tolong.. ". Prianka mulai berteriak namun seolah tidak ada siapapun yang mendengarnya.
Prianka meronta berusaha melepas dekapan kokoh kedua pria itu yang memaksa nya untuk masuk ke tempat itu. Namun, tenaga nya tak cukup kuat untuk itu.
"Selamat datang nona manis.. ". Prianka membelalak saat melihat kedua insan yang menyambutnya dengan penuh wajah mengancam.
__ADS_1