
Jalanan mulai sepi, tidak ada tanda tanda adanya angkutan umum. Namun malam semakin larut
"Aku coba telpon laura kali ya, ah tapi pasti mengganggu, dia pasti lagi istirahat". Ucap Berli dalam hati
Akhirnya Berli memutuskan untuk berjalan kaki sedikit demi sedikit berharap ada angkutan lewat di tengah perjalanan nya. Namun nahas, bukan angkutan yang ia temui melainkan segerombol pemuda yang sedang berpesta dengan minuman keras di tangan mereka. Mereka berjalan mendekati Berli dengan berjalan sempoyongan tak sadarkan diri. Mereka bisa melakukan apa saja pada Berli, mereka berjumlah banyak Berli benar benar ketakutan. Hingga akhirnya mencoba melarikan diri.
Namun sayang, saat hendak melarikan diri, tangan Berli sudah lebih dulu di tarik oleh salah satu pemuda yang sedang mabuk itu. Hingga Berli jatuh ke dalam dekapan pemuda itu.
"Tolong lepaskan saya, saya mau pergi". Ucap Berli gemetaran sambil menangis ketakutan
"Mau kemana sayang, kita akan merayakan malam ini hahaha". Ucap pemuda itu
"Lepaskan saya, tolong... siapapun tolong aku". Teriak Berli sambil meronta
"Kita di sini sayang, kita siap melayani mu, ayo sini bergabung, kami akan membuatmu puas". Lagi lagi pemuda itu membuat Berli benar benar ketakutan
"Tolongg... ". Berli berdoa dalam hati sambil beristigfar mengingat Allah, ia benar benar berharap ada yang datang untuk menolongnya
'Brukk'. Pemuda yang telah mendekap begitu erat nya kini tersungkur di tanah
Satu tinjuan keras mengenai si penolong tersebut dari belakang hingga sang penolong itu pun ikut tersungkur ke tanah. Namun tak lama ia bangkit kembali, menghajar siapa saja yang berusaha melawannya, tubuh kekar dan gagah nya siap melawan siapa saja, ia terlihat sangat beribawa.
Siapa lagi jika bukan Felix Fiswanata Martin, pemilik wajah rupawan yang gagah. Malam itu Felix tengah berkelana mencari angin dengan motor matic miliknya. Ia memang terbilang sederhana, siapa sangka ia adalah anak pemilik pabrik sekaligus anak dari pengusaha terkenal. Ya, almarhum ayah Felix memang seorang pengusaha. Namun sayang, ia telah lama berpulang. Meski begitu harta yang orangtua Felix punya bahkan tidak akan habis 7 turunan.
Terlihat luka memar mewarnai wajah tampan Felix, bagaimana tidak? Mereka banyak dan Felix hanya seorang diri. Meski begitu, Felix tetap bisa mengalahkan mereka karena mereka tidak sadarkan diri dan untung nya mereka tidak membawa senjata apapun. Sehingga Felix bisa dengan mudah mengalahkan mereka.
"Ayo cepat lari". Ajak Felix sambil menarik lengan Berli
Mereka pun berlari, bergegas menuju motor Felix yang terparkir. Saat Felix hendak menyalakan motor, tanpa di sadari sebuah batu meluncur begitu saja mengenai kepala Berli. Batu itu di lempar oleh salah satu pemuda mabuk tadi.
'Brugg'. Benda keras itu mengenai kepala Berli hingga mengeluarkan darah
"Auuww". Ringis Berli sambil memegang kepala nya dan terkejut melihat ada darah di tangannya
"Astagfirullahaladzim". Kejut Berli saat melihat darah
"Bertahanlah, kamu kuat kan? aku akan mengantar mu pulang, berpegangan!". Ucap Felix sambil melajukan motor nya dengan kecepatan tinggi agar ia cepat cepat mengantar Berli pulang
Tanpa di sadari, tangan Berli melingkar di pinggang Felix saat berada di atas motor menuju rumah Berli. Namun Felix tidak menghiraukan itu, ia khawatir Berli akan pingsan dan terjatuh. Tangan kiri Felix pun ikut memegang tangan Berli yang melingkar agar tidak terjatuh. Berli yang lemas hanya bisa bersandar di punggung Felix, mata nya berkunang kunang, ia hampir tidak sadarkan diri namun berhasil menahannya.
"Ya allah sakit". Ucap Berli
"Bagaimana ini?, bertahan lah, apa kita ke rumah sakit saja?". Tanya Felix khawatir
"Aku mau pulang saja, tolong antar kan aku". Pinta Berli sambil mata nya tak kuasa menahan untuk tetap sadar
"Kita ke rumah sakit saja ya". Pinta Felix
__ADS_1
"Tidak tidak, ini luka nya pasti tidak begitu parah, luka di kepala meskipun sedikit darah nya akan keluar banyak, aku pulang saja, aku bisa obati sendiri". Ucap Berli tidak mau ke rumah sakit
"Kita ke rumah sakit, biar aku yang bayar". Ucap Felix
"Kalo begitu turunkan aku disini, aku tidak mau ke rumah sakit, aku takut jarum suntik". Ucap Berli ketakutan
"Pfttt, begitu ya". Ucap Felix menahan tawa
"Kemana jalan rumah mu?". Tanya Felix
"Belok kanan, lurus, sebentar lagi sampai". Ucap Berli sambil menahan sakitnya, ingin sekali rasanya Berli pingsan, ia tak kuasa membayangkan betapa banyak darah yang keluar dari kepala nya. Ia memang takut saat melihat banyak darah.
"Apa disini?". Tanya Felix saat sudah berada di depan rumah yang terbilang sederhana. Mereka memang sudah sampai di kost an tempat Berli tinggal.
"Iyaa". Jawab Berli sambil turun dari motor, saat hendak melangkah Berli pun oleng, karena kepalanya benar benar pusing
"Sudah ku bilang, kita ke rumah sakit, tapi kamu keras kepala". Ucap Felix
"Tidak apa apa, duduk dulu, aku mau ambil obat buat kamu". Ucap Berli, mengajak Felix duduk di bangku teras kost an nya
Felix pun setuju, ia memilih untuk mengobati luka nya dulu. Bagaimana bisa ia pulang dengan keadaan wajah memar, yang ada ia akan di wawancara habis habisan oleh ibu nya.
Selang beberapa menit, datang lah Berli yang sudah membersihkan luka dan mengobati sendiri luka di kepala nya. Ia membuka hijab nya karena rambut nya basah. Rambut nya yang terurai menambah kecantikan pada dirinya. Berli memang sudah membersihkan luka nya, ternyata benar, luka nya tidak begitu besar. Hanya darah nya saja yang begitu banyak.
Berli keluar membawa kotak P3K miliknya, ia hendak mengobati luka Felix, namun Felix terpesona oleh kecantikan Berli. Ternyata gadis yang ia tolong sekarang adalah gadis yang selalu ada dalam pikirannya minggu minggu ini. Felix benar benar baru menyadari, karena ketegangan tadi, Felix tidak memperhatikan wajah nya.
"Sini aku bisa sendiri". Ucap Felix sambil mengambil kotak P3K yang di pegang Berli. Sebenarnya ia tidak tahu perasaan apa yang ada pada dirinya, ia merasa gengsi jika di tolong wanita
Haha Felix malu malu kochengg😶😶
"Hmm terimakasih banyak tuan, saya sangat tertolong olehmu, saya tidak bisa bayangkan jika tadi tuan tidak ada". Ucap Berli berterimakasih pada Felix
"Tidak usah formal seperti itu, lagi pula umur kita mungkin tidak berbeda jauh". Ucap Felix dingin sambil meringis kesakitan saat mengobati luka nya.
"Lalu aku panggil apa? ". Tanya Berli yang kini duduk di bangku sebelah Felix
"Bebas". Jawab Felix singkat
"Hahaha kamu itu lucu, aku kan tidak tahu nama kamu, mana bisa aku panggil semauku". Jawab Berli sambil terkekeh
"Manis". Ucap Felix sangat pelan sehingga Berli tidak mendengarnya dengan jelas. Dari tadi Felix memang memperhatikan Berli, ia benar benar terpesona.
"Kamu bilang sesuatu?". Tanya Berli
"Tidak". Ucap Felix. Felix benar benar ingin menghilangkan perasaan yang entah perasaan apa dalam dirinya,makan nya ia bersikap cuek
"Ya sudah, saya ucapkan banyak banyak terimakasih sudah menolong saya". Ucap Berli formal sambil tersenyum
__ADS_1
"Ohh iyaa apa mau minum? aku ambilkan ya? ".Berli bertanya sambil pergi mengambil air minum
"Dasar aneh, belum di jawab udah ambil duluan" . Gerutu Felix
Selang beberapa menit, Berli kembali dengan segelas air putih hangat di tangannya.
"Ini, ayo di minum dulu, maaf tadi aku lupa, dan aku gapunya makanan enak buat di suguhkan hehe". Ucap Berli terkekeh
"Tidak perlu". Ucap Felix dingin
"Bener nih gamau minum?". Tanya Berli menyelidik
"Ya sudah sini aku minum, lagian belum di jawab udah main ambil aja". Ucap Felix. Sebenarnya dalam hatinya ia sangat senang namun entah kenapa perasaan nya bisa senang saat dalam keadaan seperti ini.
"Karena kamu bilang terserah, aku panggil kamu es batu ya hahaha". Ucap Berli sambil tertawa
"Terserah saja, dasar wanita aneh". Balas Felix
"Aneh? apanya yang aneh?". Balas Berli heran
"Tadi seperti mau pingsan, sekarang bugar, apa nama nya kalo bukan aneh?". Ucap Felix dingin
"Tadi aku hanya takut liat darah banyak, makannya lemas". Balas Berli sambil manyun
"Lain kali, jaga diri baik baik, malah keluyuran malam malam". Ketus Felix peduli
"Siapa yang keluyuran, aku kan kerja". Balas Berli
"Ohh". Jawab Felix singkat
"Hmmm". Gerutu Berli
"Ya sudah aku pulang. Terimakasih, air nya enak". Ucap Felix dan hendak pergi
"Ehh tunggu..". Ucap Berli
"Apa?". Ucap Felix sambil berbalik
"Terimakasih banyak es batu". Ucap Berli sambil tersenyum ngeyel
"Hmm itu.... hati hati". Tambah Berli sambil tersenyum
"Hmm". Ucap Felix singkat dan langsung bergegas pergi tanpa mengucapkan salam.
.
.
__ADS_1
Di episode ini aku memang buat bahasa nya itu beda kaya kadang "kau" kadang "aku". jadi memang aku pikir setiap keadaan beda bahasa hihi