DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 190 - Kecewa


__ADS_3

"Benarkah Felix ada disini?". Lathesia mengedarkan pandangan nya ke sekitar. Gedung yang menjulang tinggi itu membuat ia terkesan


Ia begitu cantik dengan riasan di wajahnya, ia datang untuk menemui Felix dengan sangat gembira.


"Permisi Nona, ada yang bisa kami bantu?". Tanya seorang petugas keamanan saat melihat kedatangan Lathesia yang tampak bingung


"Saya ingin pergi ke lantai lima, ruangan utama Bu Inez". Ucap Lathesia. Ia hanya mengikuti arahan Bu Inez yang mengarahkan nya untuk pergi ke sana. Meskipun mungkin Felix tidak berada disana, namun Bu Inez bermaksud untuk mendorong Felix menemui Lathesia disana melalui telpon seluler.


"Ruangan utama, Nona bisa naik lift dari sini. Tetapi mungkin saat menuju kesana, Nona harus sedikit berjalan. Karena ruang utama tidak bisa di lalui oleh sembarang orang. Saya bisa mengantar Nona jika mau". Ucap petugas itu ramah


"Baiklah, terimakasih Pak, tidak perlu repot, saya bisa sendiri". Ucap Lathesia ramah


"Baiklah Nona, silahkan..". Petugas itu mempersilahkan Lathesia masuk


......................

__ADS_1


"Bagaimana bisa mesin nya macet. Sepertinya aku harus memperbaikinya. Ya, mungkin ini butuh sedikit oli. Aku akan mengambilnya di gudang bawah". Gumam Berli saat kini mesin nya tidak bekerja seperti semestinya. Ia beranjak dan berniat untuk memgambil pelumas mesin di gudang.


"Kenapa lift nya berhenti disini? Ini bahkan baru saja lantai tiga". Gumam Lathesia saat lift yang ia naiki berhenti di tempat yang tak semestinya. "Lebih baik aku keluar saja, sepertinya lift nya macet". Lathesia keluar dari lift dan mengedarkan pandangan nya ke sekitar. Ternyata ini adalah lantai tempat produksi. Ia berjalan dengan bingung tanpa arah


"Sial. Lift nya macet. Aku harus menuruni anak tangga. Ini bisa membuatku terlambat". Ucap Felix saat menekan tombol lift yang tak berfungsi. Ia memang buru-buru kembali ke rumahnya sebelum Ibunya pergi entah kemana. Ia hanya ingin memastikan kebenaran tentang flashdisk ini.


Dengan segera, Felix berlari menuju tangga dan menuruni satu persatu anak tangga itu.


"Ya, akhirnya aku menemukannya. Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku, sebentar lagi Felix pasti akan mengajakku makan siang". Gumam Berli saat hendak kembali dari gudang itu. Karena ia memang sudah menemukan benda yang di maksud. Ia kembali menaiki anak tangga untuk kembali.


"Felix, akhirnya kita bertemu". Ucap Lathesia yang enggan melepaskan pelukannya


"Apa yang kau lakukan?. Ini tempat umum, apa kau tidak tahu malu?. Lepaskan aku!". Ucap Felix tegas sambil berusaha melepaskan dirinya. Namun Lathesia memeluknya begitu erat


"Aku merindukanmu Felix.. ". Ucap Lathesia yang semakin erat memeluknya

__ADS_1


Saat itu juga, Berli yang hendak menuju ke tempat itu benar benar merasa terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya. Ia melihat Felix tengah berada dalam pelukan wanita lain yang tak terlihat oleh matanya. Memang, posisi Lathesia membelakangi Berli, sehingga Berli hanya bisa melihat wajah Felix.


"Felix.. ". Berli terenyuh tak percaya


Hati berkecambuk, matanya yang mulai berkaca, dan tangan yang gemetar. Itu yang di rasakan Berli saat ini. Sepersekian detik, Felix menyadari bahwa Berli melihat semua ini. Ia langsung tersentak, ini pasti akan membuat Berli sakit, pikirnya.


"Ber.. ". Felix hampir berteriak. Seketika ia mendorong Lathesia. Berli yang merasakan perih di hatinya, ia berlari sejadinya menjauh dari pemandangan yang tak mengenakan itu.


"Kau membuatku dalam masalah. Sekarang, pergilah dan jangan lakukan hal bodoh seperti ini lagi". Ucap Felix yang langsung meninggalkan Lathesia begitu saja. Ia berlari mengejar Berli yang pergi entah kemana.


"Berli pasti sudah salah faham dengan yang baru saja ia lihat. Aku tidak akan membiarkannya Pergi". Gumam Felix dengan perasaan tak karuan. Ia mencari Berli di setiap lorong.


"Felix membiarkanku.. Itu artinya, dia tidak senang aku ada disini". Ucap Lathesia yang kembali berputus asa. Ia pergi dengan perasaan kecewa.


"Berli.. Kau dimana sayang.. ". Ucap Felix saat matanya sama sekali tak menemukan keberadaan wanita pujaan hatinya itu. Ia benar benar khawatir.

__ADS_1


__ADS_2