DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 226 - Rembulan


__ADS_3

Rembulan malam kian menyapu gelap nya langit, bintang di langit seperti enggan menampakkan diri. Malam ini, terasa gelap dan sunyi. Hanya rintik hujan di luar yang membalut dingin nya malam ini. Waktu yang baik untuk beristirahat para insan di bumi datang. Dan aku, aku merenungi nasib ku yang entah, kemana hidup akan membawaku. Aku membatin di setiap keadaan. Kecemasan kian datang berlarut, seolah malam ini adalah akhir dari ketenanganku.


"Apa lagi yang harus aku lakukan?. Apa ini adalah akhir dari rahasia yang selama ini aku simpan?. Bayi-bayi itu kini tumbuh dewasa, dan membalaskan dendam nya kepadaku. Apa yang harus aku lakukan, sementara hidupku selalu di ambang oleh ancaman?". Bu Inez bergumam lirih di balik jendela. Ia menatap nanar ke arah luar. Pikiran nya berputar, tentang kedua pria yang ia hadapi hari ini.


"Tapi aku tidak akan pernah membiarkan anak-anakku membenciku. Mereka sangat menyayangiku, dan aku tidak akan membiarkan mereka pergi dari hidupku. Aku hanya ingin hidup tenang, dan menikmati harta-harta yang aku miliki". Lirih Bu Inez kembali, seolah mengadu.


Kringg,,, Ponsel miliknya berbunyi. Entah siapa yang mengacau keluh nya malam ini.


Bu Inez merogoh benda pipih itu yang tak jauh dari tempat duduknya.


"Iya. Ada apa David?". Ucap Bu Inez saat mengangkat telepon dari David, yang tak lain adalah orang kepercayaan nya.

__ADS_1


"Sebelumnya, saya minta maaf jika mengganggu istirahat nyonya". Ucap David di sebrang telepon.


"Tidak, bukan masalah. Oh ya, ada apa kau menelponku?". Balas Bu Inez.


"Sebelumnya saya minta maaf nyonya. Saya rasa, saya butuh bantuan nyonya untuk mengelola keuangan perusahaan. Begini, data perusahaan sepertinya sudah di bobol oleh oknum tak bertanggungjawab. Sehingga, aset dan pesanan seolah di gerogoti oleh seseorang. Jujur, selama saya bekerja disini bertahun-tahun. Ini baru terjadi kali ini". David menjelaskan.


"Apa?. Mengapa masalah ini berlarut?. Apa ada seseorang yang mencurigakan?. Apa kau tidak tahu, bagaimana semua ini bisa terjadi?. Hah.. Aku benar-benar tidak habis pikir". Ucap Bu Inez penuh kesal, karena masalahnya semakin menumpuk.


"Kau masih disana kan?". Tanya Bu Inez tegas.


"Ah iya. Maafkan saya nyonya. Maka dari itu, saya rasa saya butuh bantuan nyonya. Mungkin jika nyonya turun tangan, masalah ini akan segera teratasi. Itupun jika nyonya tidak keberatan. Maaf jika saya lancang".

__ADS_1


"Baiklah. Besok aku akan datang ke perusahaan. Siapkan berkas-berkas yang harus aku periksa, sebelum aku datang. Aku tidak ingin membuang waktu dengan menunggu". Ucap Bu Inez tegas.


"Baik nyonya. Saya akan melalukan nya". Balas David di sebrang telepon.


Bu Inez menutup telepon tanpa berpamitan. Perasaan nya kini berkecambuk. Masalah selalu datang bertubi-tubi seolah tak menemukan tepi.


"Apa lagi yang harus aku lakukan". Lirih Bu Inez, kesal.


......................


"Sepertinya Bu Inez akan terbebani dengan kabar ini. Tetapi, apalagi yang harus aku lakukan. Bu Inez sukar untuk di temui, terpaksa aku berbicara di telepon. Meskipun sebenarnya aku menyimpan kecurigaan pada seseorang, rasanya aku tidak perlu memberitahukan nya terlebih dahulu sebelum ada bukti. Ya, aku akan mencari bukti". Gumam David, kalut. Ia berniat untuk mencari bukti untuk memperkuat dugaan nya.

__ADS_1


__ADS_2