DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 185 - Muram


__ADS_3

"Ada apa? Kau terlihat cemas". Ucap Berli saat melihat raut wajah kekasihnya yang muram. Felix memang sudah sampai di kediaman Berli. Waktu memang masih terlalu pagi untuk berangkat bekerja, sehingga ia memutuskan untuk bertamu sejenak sambil mendinginkan pikiran nya.


"Tidak ada. Aku baik baik saja". Balas Felix dengan senyuman


"Kau tidak terlihat sedang baik baik saja. Jika kau sedang ada masalah, katakan saja padaku".Ucap Berli penuh perhatian


"Aku baik baik saja sayang. Kau terlalu berlebihan". Ucap Felix tersenyum lembut sambil meraih tangan Berli yang selalu hangat untuk di genggam.


"Kau yakin?". Ucap Berli penuh selidik


Felix hanya mengangguk sambil tersenyum tipis


"Aku hanya ingin kau selalu ada di sampingku apapun keadaannya. Bagaimana?". Ucap Felix


"Tentu saja. Aku akan selalu untukmu. Kita akan menghadapi apapun bersama sama". Balas Berli penuh kehangatan. Ia membalas genggaman tangan Felix.


Felix menyapu pergelangan tangan Berli dengan sapuan lembut deru nafasnya.


"Kau tidak perlu tahu bahwa ibuku sangat tidak menyukaimu. Aku hanya ingin melihatmu selalu tersenyum bahagia". Felix membatin


......................

__ADS_1


"Kenapa kau terlihat muram Rom? Ayolah, ini masih pagi". Ucap Neel menyiku Romi dengan nada gurau nya.


"Tidak Neel. Aku hanya sedang tidak mood saja". Balas Romi. Namun sebenarnya ia masih memikirkan perkataan Ibunya.


"Tidak biasanya kau seperti ini. Apa sudah ada kabar tentang keberadaan Prianka?". Sahut Adelard yang menebak pikiran Romi


"Tidak. Aku belum mendapat kabar apapun". Balas Romi datar. Ia merasa pikiran nya begitu kacau. Antara memikirkan Prianka dan Ibunya.


"Kau membutuhkan waktu untuk sendiri kan?. Kami akan selalu ada untukmu. Panggil kami saat kau membutuhkan bantuan apapun". Ucap Neel yang memberi isyarat kepada Adelard untuk pergi. Ia mengerti bahwa Romi membutuhka waktu untuk menyendiri.


"Terimakasih". Ucap Romi tersenyum tipis. Neel dan Adelard berlalu pergi. Dengan kedipan mata saja, Adelard sudah mengerti apa yang di maksud Neel. Dan mereka mengerti apa yang harus di lakukan.


"Untuk saat ini biarkan Romi sendiri. Aku yakin, Romi butuh waktu untuk menenangkan pikirannya. Aku pikir, ia bukan hanya memikirkan masalah Prianka, bisa saja keadaan rumahnya sedang sedikit bermasalah". Ucap Neel yang berjalan di koridor bersama Adelard


"Kita pasti akan membantunya. Yang penting kita selalu ada di pihaknya". Neel menjawab.


......................


Tingg,, Bel rumah besar itu berbunyi. Tanda ada seseorang yang hendak bertamu


"Iya Non. Ada perlu dengan siapa ya?". Ucap Bi Esin saat membuka pintu dan mendapati wanita cantik di hadapan nya.

__ADS_1


"Tuan Felix, ada?". Ucap Lathesia dengan wajah sumringah. Wajah cantik itu kini tampak fresh dengan riasan di wajahnya. Gaun pendek selutut menambah aura feminim dalam dirinya.


"Oh, tuan Felix sudah berangkat Nona. Tetapi jika Nona ingin berbincang dengan Nyonya Inez, silahkan masuk. Beliau ada di rumah". Ucap Bi Esin ramah


"Benarkah? Kalau begitu aku ingin menemuinya". Lathesia sumringah


"Baik Non. Silahkan masuk, saya akan panggilkan Nyonya Inez". Ucap Bi Esin mempersilahkan Lathesia masuk.


Lathesia mengedarkan pandangan nya ke sekeliling rumah besar itu. Isi, dan tata letak perabotan di rumah itu masih sama persis dengan dulu, saat ia masih menjalin hubungan dengan Felix. "Semua masih sama. Dan aku harap, semuanya masih sama seperti dahulu". Gumam Lathesia penuh senyuman dan harap


......................


Toktoktok..


Bi Esin mengetuk pintu kamar majikannya. Tentu siapa lagi jika bukan Bu Inez. Meskipun ia tahu tentang kejadian tadi pagi, karena ia tak sengaja mendengar semuanya. Namun ia tetap memberanikan diri untuk menyampaikan tujuan nya.


"Ada apa? Kenapa kau selalu menggangg!". Balas Bu Inez penuh penekanan di dalam kamar, tanpa membuka pintu


"Mohon maaf Nyonya. Tetapi ada tamu yang ingin menemui Nyonya. Saya tidak enak jika harus menyuruhnya kembali pulang". Jawab Bi Esin penuh sungkan


"Siapa yang bertamu saat kacau seperti ini". Gumam Bu Inez

__ADS_1


"Ya sudah, aku akan menemuinya". Teriak Bu Inez di dalam kamar tanpa membuka pintunya


"Baik Nyonya". Bi Esin melenggang dengan perasaan tak menentu


__ADS_2