
"Kemana Sherly, kenapa tidak ada disini?". Ucap Felix yang kini berada di ruangan yang dulu menjadi ruangan Sherly. Namun ia sama sekali tidak melihat keberadaan saudarinya ini
"Aku harus mencarinya sebelum ia mengatakan semua ini pada mama". Ucap Felix yang langsung bergegas keluar ruangan, berharap Sherly masih belum jauh
"Aku harus memberitahukan ini kepada tante Inez. Bagaimana bisa Felix berdekatan dengan wanita miskin itu". Ucap Sherly yang kini tengah bergegas pergi, sontak ia mengeluarkan ponsel nya untuk menghubungi Bu Inez
"Sherly... ". Teriak Felix yang melihat keberadaan Sherly di koridor. Seketika Sherly menghentikan langkah nya
"Ada apa?". Jawab Sherly
"Kau sedang apa?, aku melihatmu disini. Jadi aku datang untuk menyapa". Ucap Felix, ia tidak ingin mengatakan langsung ke intinya. Karena itu akan membuat Sherly curiga
"Aku kesini untuk mengambil barangku yang tertinggal. Itu saja". Jawab Sherly enteng
"Ohh begitu.. ". Jawab Felix dingin
"Ohh iya, aku lihat kau tadi sangat dekat dengan wanita so alim itu". Ucap Sherly di penuhi rasa tak suka
"Tidak, tadi aku hanya sedang memberinya arahan. Itu saja". Jawab Felix berbohong
"Ohh, aku kira kau dekat dengan nya. Tapi aku merasa tidak yakin jika hanya itu saja. Maksud ku.... Kau seperti sangat dekat dengan nya". Ucap Sherly tak yakin
"Lantas kau pikir apa?, dekat dengan nya? Tidak mungkin". Ucap Felix.
__ADS_1
Ia berusaha melindungi Berli, ia tidak ingin Berli terkena masalah karenanya.
"Ya sudah. Tadinya aku akan memberitahu tante tentang ini". Ucap Sherly memalingkan pandangan nya ke sembarang arah
"Apa?, dasar kau tukang mengadu. Bagaimana kalau ibuku salah faham dan sakit lagi hah?". Ucap Felix penuh penekanan
"Ya maaf.... Aku kan belum melakukan nya. Lagipula ya, dia itu sangat bertolak belakang dengan mu, dari segi apapun. Kau sangat tidak cocok dengan nya". Ketus Sherly sambil memalingkan pandangan nya ke sembarang arah
"Ya sudah, jangan asal mengadu jika tidak tahu kebenaran nya". Ucap Felix dingin dan langsung bergegas pergi.
Ingin rasanya ia memarahi Sherly, namun ia takut Sherly akan curiga
......................
"Nak.... Kau tidak boleh seperti itu". Ucap Bu Inez merangkul Prianka untuk bangkit. Tanpa terasa air matanya pun menetes.
"Prianka... Ikhlaskan. Agar ayahmu tenang". Sahut Romi menenangkan Prianka
"Adelard, kau baik baik saja?". Ucap Neel kepada Adelard yang berdiri tepat di samping nya ini. Ia melihat kegusaran di wajah Adelard
"Ya". Jawab Adelard dan berlalu pergi menjauh dari pemakaman itu. Ia menatap nanar ke arah lain. Ia berdiri lumayan jauh dari tempat itu.
'Aku benar benar curiga dengan sikap Adelard. Beban apa yang dia pikirkan sekarang?'. Batin Neel
__ADS_1
'Ya tuhan, aku sangatlah berdosa'. Batin Adelard sambil menyeka air matanya.
"Apa disini ada yang bernama Prianka?". Ucap seorang polisi yang datang menghampiri insan yang sedang berduka itu
"Saya sendiri pak". Jawab Prianka mengarahkan pandangan nya ke arah sumber suara
"Nona, saya turut berduka cita atas kepergian ayah anda. Saya ingin membicarakan hal yang penting kepada anda". Ucap polisi itu
"Baiklah, aku akan pulang. Kita bicara di rumah pak". Jawab Prianka yang hendak beranjak
"Ayah, Prianka pamit pulang. Bakti ku sebagai putri mu kini selesai sampai disini. Kau meninggalkan semuanya di ujung perjalanan hidupmu. Terimakasih atas segalanya ayah, putrimu ini akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Kau tenanglah disisiNya. Sekarang Prianka akan pamit, Prianka akan menghukum siapa saja penyebab ayah pergi. Prianka akan sering datang kesini. Semoga ayah tenang di sana. Assalamualaikum". Ucap Prianka mengecup nisan ayah nya.
"Ma, ayo". Ucap Romi yang sudah mulai beranjak
"Iya nak". Jawab Bu Inez, ia langsung beranjak untuk pergi dari tempat itu.
"Ayo pak". Ucap Prianka kepada polisi yang masih berada di sana.
"Rom, kalian duluan saja... Aku dan Adelard masih ada urusan. Prianka, kau yang kuat ya". Ucap Neel yang masih berada di sana. Ia melihat Adelard yang masih kalut, bahkan Adelard tidak menyadari bahwa mereka akan pergi
"Baiklah, terimakasih Neel". Ucap Romi sambil menepis pundak Neel. Di balas dengan senyuman
"Neel, terimakasih banyak". Sahut Prianka
__ADS_1
"Baiklah". Jawab Neel. Mereka pun bergegas pergi. Hanya tinggal Neel dan Adelard yang tinggal