
"Kau sudah bangun?". Ucap Ozcan saat melihat Felix terjaga. Waktu memang sudah mulai pagi. Dan Felix sudah tidak sabar untuk keluar dari ruangan ini.
"Iya Ozcan. Aku ingin segera pulang saja". Balas Felix sambil berusaha untuk bangkit dan duduk.
"Sabar Felix, kau belum begitu pulih". Ozcan membantunya untuk duduk.
"Maaf, aku sudah merepotkanmu". Ucap Felix menepis pundak Ozcan
"Kau sahabatku. Sudah seharusnya begitu". Balas Ozcan.
"Bagaimana? Apa dia akan datang kemari?". Tambah Ozcan
"Siapa?". Felix bingung
"Kekasihmu. Bukankah tadi malam kau menghubunginya?".
"Tidak. Aku yang akan menemuinya. Lagipula sekarang ia pasti sedang bekerja". Ucap Felix menjelaskan
"Apa dia seorang wanita karir?". Tanya Ozcan
__ADS_1
"Harus ku katakan, dia adalah karyawan biasa di pabrik Orangtua ku. Hubungan kami sepertinya akan di tentang Ibuku. Maka dari itu aku belum bisa memberitahukan siapa sebenarnya aku padanya". Ucap Felix berat hati
"Baik atau buruk nya seseorang tidak di lihat dari pekerjaan yang ia jalani. Tetaplah optimis. Aku tahu dia pasti wanita baik. Pertahankan terus hubungan kalian, aku yakin semua akan indah pada waktunya". Ucap Ozcan menenangkan
"Kau benar. Terimakasih". Ucap Felix tersenyum
......................
"Inez? Apa kau bisa menandatangani berkas itu sekarang?. Perjanjian nya sudah ada di tanganku. Kau tinggal menandatangani nya. Jika kau tidak sibuk, aku akan datang ke rumahmu". Ucap Bu Delli begitu manis pagi ini di sebrang telepon
"Maafkan aku Delli. Sepertinya aku belum bisa melakukan nya. Aku harus menjemput Felix. Ia masih berada di rumah sakit". Ucap Bu Inez. Tadi malam ia memang sudah menceritakan hal ini kepada Bu Delli.
"Delli? Kau tidak keberatankan?". Kembali Bu Inez menyadarkan lamunan Bu Delli di sebrang telepon.
"I.. Iya Inez. Maksudku, kita bisa melakukan nya sebentar saja sebelum kau pergi. Maaf ya, aku belum bisa menemui Felix. Aku masih banyak urusan, dan Jovanka juga masih mengurusi urusan nya". Ucap Bu Delli. Sebenarnya ia dan Jovanka sangat malas jika harus datang ke rumah sakit menemui Felix.
"Tidak apa, bereskan saja terlebih dahulu. Lagipula hari ini Felix pulang. Ia sudah baik baik saja". Balas Bu Inez.
"Lalu bagaimana dengan berkas ini Inez?". Kembali Bu Delli gelisah
__ADS_1
"Begini saja, sepulang dari rumah sakit aku akan menemuimu di cafe anggrek. Kau setuju?". Ucap Bu Inez memberi ide. Membuat Bu Delli kembali bersemangat.
"Baiklah Inez. Segera kabari aku jika kau sudah siap berangkat ya. Aku akan menunggumu disana. Aku akan datang lebih awal. Aku juga akan mengajak Jovanka jika dia tidak sibuk". Ucap Bu Delli merada di beri jalan.
"Baiklah, sampai nanti. Dahh.. ". Bu Inez menutup telepon nya.
"Dahh.. ". Balas Bu Delli.
"Satu langkah lagi. Hari ini akan menjadi hari yang baik untukku. Semua aset Inez akan menjadi milikku. Dasar wanita bodoh". Gumam Bu Delli sambil meletakan ponsel nya di meja.
"Lagi lagi mama membawa bawa namaku". Ketus Jovanka yang sejak tadi berada di samping Ibunya.
"Sudah, kau tidak perlu banyak mengeluh. Hari ini akan menjadi hari keberuntungan kita. Anggap saja ini perjuangan terakhir. Jika Felix bukan jalan kita, maka berkas ini yang akan membawa nasib baik untuk kita". Ucap Bu Delli menyeringai.
"Lagipula aku tidak mau menemui mereka. Bagaimana jika mereka tahu bahwa aku yang menabrak Felix kemarin. Ya meskipun dia baik baik saja. Tetap saja, bagaimana jika ada yang sempat melihatku?". Ujar Jovanka
"Tenang sayang. Kita pura pura tidak tahu saja. Asalkan kau bisa mengontrol sikapmu, semua akan baik baik saja. Pokoknya kau harus ikut dengan mama". Ucap Bu Delli
"Ya, baiklah.. ". Ucap Jovanka yang sudah mulai muak
__ADS_1
Kebenaran nya adalah, Jovanka yang bertanggungjawab atas apa yang terjadi kepada Felix. Hari itu, ia mengendarai mobilnya dalam keadaan mabuk. Sampai akhirnya terjadi kecelakaan, ia melarikan diri karena takut kejaran masa. Sementara itu, Bu Inez dengan segera mengabari Bu Delli tentang apa yang terjadi. Bu Delli yang semula mencemaskan putrinya, ia menutup keresahan nya dengan sikap lugu yang ia tunjukkan. Ia berpura pura khawatir dan panik. Padahal, ia tahu persis siapa yang bertanggungjawab atas kecelakaan itu. Tentu saja, Jovanka putrinya sendirilah yang bertanggungjawab.