
"Ada apa kau menyuruhku datang kesini?". Tanya Laura yang kini sudah berada di cafe tempat mereka bertemu
"Aku ingin membicarakan tentang Berli". Ucap Abian penuh penyesalan
"Ada apa dengan Berli?, cepat katakan!". Ucap Laura khawatir penuh penekanan
"Tidak tidak, ayo tenanglah". Ucap Abian yang ikut panik, sontak ia menenangkan Laura. Kecemasan datang dalam hatinya, ia takut Laura tidak akan berkenan untuk membantunya
"Aku telah menyakiti Berli". Ucap Abian sambil menunduk
"Apa maksudmu Abian?". Ucap Laura penuh penekanan
Dengan rinci dan tanpa menutup nutupi fakta sedikit pun, Abian menjelaskan kepada Laura. Ia mengaku bersalah atas kejadian itu. Laura benar benar geram, dan tanpa terasa ia meneteskan air mata
"Apa yang kau lakukan Abian?, cemburumu sangat keterlaluan". Ucap Laura geram
"Aku memang salah. Aku ingin mendapat maaf dari Berli, tolong bantu aku". Ucap Abian memelas
"Benar kata Felix, kau hanya terobsesi untuk memilikinya. Bukan mencintainya". Ucap Laura penuh penekanan
"Aku tidak tahu itu. Aku tidak mengerti dengan perasaanku, aku mencintainya. Tapi tidak bisa mengendalikan emosi ku". Ucap Abian penuh penyesalan
"Wajar jika Berli akan sulit memaafkan mu Abian". Ucap Laura sambil menyeka air matanya dan mengalihkan pandangan nya keluar jendela. Ia merasa begitu sakit hati mendengar sahabatnya di perlakukan seperti itu
"Aku mohon bantu aku Laura". Ucap Abian penuh permohonan
"Apa yang harus aku lakukan?. Bahkan jika aku menjadi Berli, mungkin aku tidak akan pernah memaafkanmu". Ucap Laura penuh kecewa. Ia benar benar tidak menyangka bahwa Abian akan tega mengeluarkan kata kata menyakitkan itu kepada sahabatnya
......................
__ADS_1
"Terimakasih nak Berli, sudah ingin berkunjung ke panti. Ibu banyak banyak berterimakasih kepadamu, ibu sangat merindukan mu. Kamu tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik, ibu masih ingat jelas bagaimana Berli kecil yang mandiri". Ucap ibu panti yang sudah mengurus Berli sejak kecil. Ia benar benar bahagia karena Berli datang berkunjung
"Aku yang harusnya berterimakasih bu, ibu sudah mengurusku dengan baik sampai bisa seperti ini. Berli sayang ibu". Ucap Berli yang langsung memeluk ibu panti
Felix yang menyaksikan peristiwa di depan nya itu, hatinya benar benar terenyuh. Bagaimana bisa Berli bisa hidup tanpa orangtua sejak usia dini. Meskipun ia sendiri hanya memiliki ibu, ia masih bersyukur masih ada orangtua. Sedangkan Berli hidup sendirian sejak kecil dan menganggap ibu panti sebagai orangtuanya
"Ayo sayang masuk, anak anak pasti merindukan kakak nya yang cantik ini". Ucap ibu panti mempersilahkan Berli masuk sambil menyeka pipi mulus Berli
"Kau tinggal disini sejak kecil?". Tanya Felix yang kini sedang berada di lapangan bola panti asuhan yang Berli tinggali sejak kecil.
"Iya, aku menghabiskan masa kecilku disini. Aku memiliki keluarga, meskipun sebenarnya tidak". Ucap Berli sedih mengingat kedua orangtuanya
"Aku sangat kagum kepadamu". Ucap Felix yang mengakui kekaguman nya
"Untuk apa?". Ucap Berli sambil tersenyum heran
"Jadi kau?". Ucap Berli tidak percaya
"Ya, ayahku mengalami kecelakaan, dan meninggal sejak aku masih kecil. Aku kagum kepadamu, kau bisa sekuat ini. Dulu aku sempat merasa, aku yang paling sedih. Ternyata di luar sana ada yang lebih berduka daripada aku". Ucap Felix sambil mengingat kejadian masalalu nya. Tanpa terasa air matanya menitik di ujung matanya. Dengan sigap ia langsung menghapusnya
"Aku mengerti, menangislah jika itu membuat perasaan mu lega. Aku tahu persis bagaimana rasa sakitnya". Ucap Berli menenangkan Felix. Ia melihat cairan bening itu di ujung mata Felix tentu ini adalah pemandangan langka, seorang Felix yang dingin kini menangis di hadapan wanita.
"Tidak, kau pasti akan menertawakan ku jika aku menangis". Ucap Felix sambil tersenyum berusaha mengembalikan situasi
"Itu tidak akan terjadi, percayalah". Ucap Berli sambil tertawa tipis
"Berjanjilah kau akan selalu disampingku". Ucap Felix pelan
"Apa yang kau katakan?. Kau berbisik aku tidak bisa dengar". Rengek Berli bingung
__ADS_1
"Tidak ada". Ucap Felix sambil tersenyum menyapu kepala Berli
"Ihhh". Ucap Berli yang berusaha menyingkirkan tangan Felix dari kepalanya
'Semakin kau selalu ada dari pandanganku, cintaku semakin bertambah kepadamu setiap harinya. Semoga kau tidak akan pergi meninggalkan aku'. Batin Felix sambil menatap Berli
"Apa yang kau pikirkan?, pasti kau sedang memikirkan kekasihmu kan?". Ucap Berli penuh selidik. Di hatinya ia merasa kesal karena tiba tiba Felix terdiam, ia menyangka bahwa Felix sedang memikirkan pacarnya
"Hmm". Ucap Felix yang mengerjai Berli. Ia tahu persis bagaimana perasaan Berli
"Ya sudah, pulanglah. Aku lupa, bahwa kau punya kekasih. Dia pasti akan marah jika mengetahui kau sedang bersamaku. Ayo pulang lah". Ucap Berli yang dalam hatinya ia benar benar kesal dan cemburu
"Kau mengusirku?. Kalau begitu aku tidak mau pulang". Ucap Felix yang menahan tawa di hatinya
"Pulang sana". Ucap Berli memalingkan wajahnya
"Kau cemburu aku memiliki kekasih?". Ucap Felix sambil tersenyum menyeringai penuh selidik
"Tidak, untuk apa". Ucap Berli gugup tanpa menatap Felix
"Tentu saja kau cemburu. Aku ini tampan, wanita di luar sana tentu mengejarku". Ucap Felix sombong. Ia hanya berniat mengerjai Berli yang galau
"Ya sudah". Ucap Berli singkat
"Aku tidak akan meninggalkanmu". Ucap Felix sambil tersenyum
"Lalu kekas-". Ucap Berli yang belun menyelesaikan perkataannya karena mulut nya di bungkam oleh jari Felix
"Stt, aku tidak mau dengar itu". Ucap Felix yang kini wajahnya berada dekat dengan Berli. Seketika Berli terkejut dan langsung mundur satu langkah
__ADS_1