
"Selamat pagi nona cantik". Ucap Felix di ambang pintu. Saat kedatangan nya langsung di sambut senyuman oleh kekasih nya itu.
"Silahkan masuk tuan.. ". Ucap Berli tersenyum.
Akhirnya Felix masuk, dan duduk di sofa andalan nya. Ia juga membawakan sarapan untuk di santap bersama wanita pujaan hatinya itu.
"Wahh.. Apa yang kau bawa?". Ucap Berli
"Kau pasti belum sarapan kan?. Aku membawakan nya untukmu. Kita makan bersama-sama disini. Lagipula ini masih pagi. Security perusahaan juga pasti masih tertidur". Ucap Felix terkekeh. Ia membuka bungkusan yang sempat ia beli di perjalanan tadi. Isinya komplit, di mulai dari nasi, sampai cuci mulut buah-buahan. Juga tak lupa makanan penutup, seperti cake mini yang terlihat menggiurkan.
"Wahh.. Terimakasih. Ini pasti enak.. Aku akan mengambilkan piring". Ucap Berli melenggang ke dapur.
Selang beberapa menit, Berli kembali dengan piring, sendok dan gelas yang berisi air untuk mereka berdua.
"Sini, biar aku tuangkan. Kau ingin makan yang mana dulu? Biar aku ambilkan". Ucap Berli. Ia begitu telaten melayani Felix.
"Sayang, aku bisa mengambil nya sendiri. Makan saja punya mu". Ucap Felix, terkesima saat di perlakukan demikian.
__ADS_1
"Tidak, aku ingin mengambilnya untukmu juga". Ucap Berli. Tangan mungilnya sibuk mempersiapkan makanan.
"Baiklah...Terimakasih". Ucap Felix tersenyum.
"Kau tidak perlu seperti itu sayang". Ucap Berli tersenyum kembali.
Di sela-sela sarapan nya. Berli sempat menanyakan hal yang mengganjal di hatinya.
"Felix, kenapa kau tidak berterus terang kepadaku?. Maksudnya... Selama ini, mengapa kau tidak ingin aku mengetahui identitasmu?". Tanya Berli
"Aku pikir mendapatkan kebahagiaan itu tidak perlu dengan hal yang mewah. Buktinya, aku mendapat kebahagiaan ku dengan cara yang sederhana. Aku memilikimu , dan itu sudah cukup bagiku". Ucap Felix lembut.
"Ssttt.. Aku tidak mau mendengar perkataan itu dari mulut mu". Ucap Felix sambil menutup mulut Berli dengan jari telunjuknya.
"Tapi Felix.. ". Lagi lagi Berli ingin menyampaikan perasaan yang tidak ingin Felix dengar.
"Tidak ada kata tapi. Kau milikku, dan aku milikku. Kita sama, dan kita satu hati. Kita akan saling melengkapi satu sama lain. Itu cukup, dan aku tidak ingin mendengar kata itu lagi darimu.. ". Ucap Felix.
__ADS_1
Tentu Berli terkesima dan berjanji untuk tidak mengatakal hal itu lagi "Maafkan aku sayang.. Aku berjanji, tidak akan mengatakan hal yang membuatmu tidak suka". Ucap Berli tersenyum
"Ayo, sekarang buka mulutmu.. Agar kau tidak mengatakan hal aneh lagi". Ucap Felix sambil menyodorkan sendok berisi nasi miliknya.
Berli menerima suapan itu. Rasanya begitu bahagiaa..
"Aku juga ingin menyuapimu.. Aaaa... ". Ucap Berli yang tidak ingin kalah. Ia mengikuti yang Felix lakukan tadi.
Felix menerima suapan itu. Ia hanya tersenyum melihat kelakuan wanita nya itu.
......................
"Apa? Lalu tante setuju dengan hubungan mereka? Ini tidak bisa di biarkan!". Ucap Sherly penuh penekanan. Pagi ini ia memang tengah berkunjung ke rumah Bu Inez. Dan Bu Inez pun menceritakan apa yang terjadi.
"Aku? Menyetujui putraku menikah dengan wanita miskin tak berdaya itu?. Tentu saja tidak!. Aku hanya berpura-pura menerimanya di depan Felix, agar Felix tidak sedih. Sementara di belakang Felix, tante akan membuat wanita itu menjauh dari Felix. Lihat saja nanti, dia akan meninggalkan Felix, dan Felix akan membencinya". Ucap Bu Inez tersenyum menyeringai penuh rencana.
"Lalu apa rencana tante?. Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi. Aku ingin hubungan mereka secepatnya selesai. Aku tidak ingin memiliki sepupu wanita miskin tak berguna itu!. Dia bukan level ku". Ucap Sherly penuh kesombongan.
__ADS_1
'Rencana ini harus berjalan lancar, tanpa aku harus memberi tahu Sherly bahwa sebenarnya Berli adalah anak yang orangtua nya menjadi korban kecelakaan karena aku'. Bu Inez membatin.
Sementara Sherly merasa begitu kesal, ia tengah memikirkan cara untuk menyingkirkan Berli dari keluarganya itu.