
"Bagaimana kak, apa sudah baikan?". Tanya Aditya yang kini tengah berada di UKS pabrik. Ia masih setia menunggu Berli yang terbaring lemah
"Iyaa, lagi lagi aku merepotkan mu Aditya, terimakasih banyak". Ujar Berli pelan. Berli berterimakasih kepada Aditya karena hari ini ia benar benar banyak membantunya.
"Bukan kah aku adikmu?, untuk apa berterimakasih". Ujar Aditya sambil tersenyum. Ia memang ingin menganggap Berli kakak nya sendiri
Deggg,, perkataan Aditya benar benar membuat hati Berli terenyuh
"Kau menganggapku kakak mu?". Tanya Berli lembut sambil tersenyum
"Tentu. Aku ingin sekali memiliki kakak. Namun sayang, aku tidak di takdir kan untuk menjadi seorang adik". Ujar Aditya sambil tersenyum
"Baiklah adik, jangan seperti itu. Ada kakak disini". Ujar Berli sambil tertawa tipis. Ia benar benar bahagia karena ada yang menganggap nya sebagai kakak
"Aku jadi merindukan adikku, entah dia masih hidup atau tidak". Tambah Berli, senyuman itu tiba tiba redup di wajah cantiknya
"Jika mungkin kalian di takdirkan untuk bertemu kembali, kalian pasti akan di pertemukan. Percayalah". Ujar Aditya menenangkan Berli
"Terimakasih banyak Aditya". Ujar Berli kembali, ia benar benar bersyukur sudah bertemu orang baik seperti Aditya
......................
"Hai Felix". Ucap Jovanka yang kini tengah duduk di sebelah Felix. Felix kini memang sudah berada di ruangan tempat ibunya di rawat
"Apa". Ketus Felix, sama sekali tidak melirik Jovan
"Aku akan menunggumu". Ucap Jovanka, benar benar percaya diri
"Kalau begitu kau akan menunggu seumur hidupmu". Ketus Felix dingin. Penuturannya ini tentu membuat Jovanka geram. Bu Inez yang menyaksikan itu hanya mampu bersabar
"Sayang, jangan begitu nak". Ucap Bu Inez lembut
"Hmm tante, Jovan pamit pulang dulu ya. Besok Jovan balik lagi kok". Ucap Jovanka yang entah kenapa tiba tiba berpamitan untuk pulang
"Jika saja kau melakukannya sejak tadi". Ucap Felix dingin
"Felix!!". Ucap Bu Inez penuh penekanan
"Jovan sayang, jangan pulang ya, maafkan Felix". Tambah Bu Inez, lembut kepada Jovan
"Maaf tante, Jovan masih ada kerjaan, besok Jovan balik lagi kok". Ucap Jovanka lembut.
Akhirnya Jovanka memutuskan untuk pulang sebelum hatinya benar benar panas karena sikap Felix yang menyebalkan
__ADS_1
"Tunggu saja saat nya tiba, kau akan menyesali perbuatanmu padaku". Gerutu Jovanka di balik pintu ruangan Bu Inez.
......................
"Aku benar benar curiga kepada Neel. Bagaimana bisa dia tiba tiba menghilang". Ucap Romi yang masih berada di tempat motor nya terparkir, tak jauh dari rumah Neel
"Apa mungkin Neel sudah melakukan kesalahan, sampai sampai ia melarikan diri?". Ucap Adelard yang masih bergelut dengan pikirannya
"Apa mungkin dia yang meracuni ibuku?". Ucap Romi penuh kekesalan
"Kita harus menyelidikinya Rom". Ucap Adelard yang kini pikirannya juga sama dengan Romi
"Aku pasti akan menyelidikinya". Ucap Romi penuh kekesalan
......................
"Kak, menurutku kakak pulang lebih awal saja hari ini. Kakak butuh istirahat". Ucap Aditya yang masih setia menemani Berli. Dengan telaten ia memberikan teh hangat dan obat balur kepada Berli
"Aku lembur Adit, tentu aku tidak bisa pulang sebelum waktunya". Ucap Berli yang keadaannya belum begitu pulih
"Aku akan meminta keringanan kepada Bu Sherly, tolong lah kak. Aku mohon". Ucap Aditya yang benar benar peduli kepada Berli.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata sejak tadi melihat kebersamaan mereka berdua. Terlihat sorot mata tajam nya di penuhi amarah dan kekesalan. Ia tak lain adalah Abian, ia benar benar salah faham.
"Bu, saya mohon. Tolong berikan keringanan kepada Berli, ia benar benar harus istirahat". Ucap Aditya penuh permohonan. Ia kini berada di ruangan Sherly
"Baiklah, terimaksih banyak bu". Ucap Aditya. Ia langsung bergegas pergi untuk mengantar Berli pulang.
Berli kini di izinkan pulang sebelum waktunya, ia di antarkan Aditya untuk pulang ke rumah nya. Namun sebelum keluar dari pabrik itu, Berli berpapasan dengan Abian
"Haii Bian". Sapa Berli pelan sambil tersenyum. tenaga nya belum benar benar pulih, namun ia selalu hangat menyapa. Akan tetapi betapa terkejutnya Berli saat menyapa Abian, ia hanya melirik ke arah Berli sejenak lalu berlalu begitu saja tanpa menghiraukan Berli yang menyapanya.
"Apa aku melakukan kesalahan?. Kenapa Bian tiba tiba seperti itu padaku". Ujar Berli dalam hati sambil menatap punggung Abian yang berlalu pergi
"Kak, ayo". Ucap Aditya yang sedari tadi masih setia menemani Berli. Ia tahu betul apa yang sedang Berli pikirkan
"Iyaa, Adit". Ujar Berli yang pikirannya masih di penuhi sikap Abian
......................
Matahari sudah menghilang dan hari mulai gelap. Namun Felix masih setia menemani ibunya di rumah sakit.
"Apa aku harus menanyakan hal ini pada Romi, tapi apakah Romi akan percaya?". Pertanyaan itu masih berputar di kepala Felix. Ia masih memikirkan keberadaan Neel tadi pagi di rumah sakit ini
__ADS_1
Ceklekk,,
Tiba tiba pintu terbuka, tanda nya ada orang yang masuk. Ia adalah Romi yang datang untuk menemui ibunya
"Assalamualaikum ma". Ucap Romi yang baru saja datang
"Waalaikumsalam sayang, anak mama sini nak". Ucap Bu Inez lembut penuh senyuman
"Kak". Ucap Romi sambil menepuk pundak Felix. Felix masih dalam lamunan nya sampai sampai ia tidak menyadari bahwa adik satu satunya ini sudah datang
"Romi, sejak kapan kau disini?". Ucap Felix yang baru tersadar dari lamunannya
"Aku baru datang, dan langsung di suguhkan pemandangan pria tampan sedang melamun hahaha". Ucap Romi menggoda Felix
"Romi, aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu". Ucap Felix serius
"Kau pasti akan membicarakan wanita cantik yang baru kau temui kan kak?, hahaha". Ucap Romi sambil melahap camilan yang ia bawa. Ia tidak begitu menganggap ucapan Felix serius
"Aku serius Romi". Ucap Felix penuh penekanan
"Baiklah baiklah, bicara lah kakak ku yang tampan hahah". Ucap Romi yang benar benar belum serius menanggapi Felix. Ia masih sibuk dengan makanan yang ada di mulutnya
"Kakak mu bicara, ayolah Romi". Ucap Bu Inez lembut
"Ikut aku!! ". Ucap Felix sambil menarik lengan adik satu satunya itu. Ia membawa Romi keluar ruangan itu
"Aduhh mau bicara apa kak, ayolahh". Ucap Romi yang belum menganggap kakak nya serius. Mereka kini tengah berada di kursi koridor rumah sakit
"Apa kau bertemu dengan Fataq hari ini?". Ucap Felix penuh selidik
Deggg,, pertanyaan Felix membuat Romi bungkam dengan candaannya tadi
"U u.... untuk apa kakak menanyakan hal itu?". Tanya Romi benar benar khawatir jika kakak nya ini mengetahui rahasia terbesarnya
"Aku melihatnya di luar sedang berbicara dengan suster tadi pagi". Ucap Felix singkat.
Mata Romi terbelalak saat mendengar penuturan Felix. Bagaimana tidak, Neel sudah dua hari tidak pulang. Sedangkan kakak nya bilang ia melihatnya disini
"Tapi untuk apa dia disini?. Bahkan tadi dia tidak masuk ke kampus". Ucap Romi terkejut mendengar penuturan Felix.
"Itu yang aku tanyakan. Untuk apa dia disini". Ucap Felix sambil kembali dengan lamunan nya
"Aku tidak tahu kak". Ucap Romi. Kali ini kecurigaan nya benar benar memuncak kepada Neel, namun ia tetap berusaha tenang di hadapan kakak nya.
__ADS_1
"Apa kau tahu sesuatu Romi?". Tanya Felix penuh selidik
"Ak aku tidak tahu kak, mana mungkin". Ucap Romi terbata bata karena ia bingung harus menjawab apa. Sedangkan hati nya benar benar menyimpan banyak kecurigaan kepada Neel