
"Kenapa tante Inez tidak mengangkat telpon ku? Ada apa ini..... ". Gumam Prianka saat sama sekali tak mendapat jawaban dari Bu Inez
"Mama tidak berani mengabari Prianka tentang keadaan Romi saat ini. Dia pasti akan sangat terpukul". Ucap Bu Inez penuh keresahan di hatinya
"Ya sudah ma, mama tenang saja.... Felix akan memgatakannya jika keadaan Romi sudah membaik. Sekarang ayo, kita ke kantin. Mama harus makan kan?". Ucap Felix penuh kelembutan
"Mama tidak ingin makan. Mama hanya ingin Romi sembuh". Ucap Bu Inez berlinang air mata
"Iya ma, Romi akan sembuh dan akan pulang bersama kita secepatnya. Sekarang mama jangan banyak pikiran, Romi sudah di tangani dokter. Sekarang pikirkan kesehatan mama. Jika mama sakit, siapa yang akan menyambut kepulangan Romi kan?". Ucap Felix penuh kasih sayang
"Baiklah". Jawab Bu Inez
Ibu dan anak itu akhirnya memutuskan untuk pergi makan malam di kantin. Meskipun pikiran mereka memang benar benar kalut, namun Felix berusaha untuk tegar untuk ibunya
"Romi pasti tidak akan datang. Iya..... Tentu saja. Seharusnya Romi tidak berjanji untuk datang jika pada akhirnya seperti ini". Ucap Prianka penuh kecewa dan berhenti menghubungi Romi. Harapannya kini pupus saat mengharapkan Romi datang
......................
__ADS_1
"Apa aku tidak salah lihat?, tadi itu..... Benar benar paman Indra". Gumam Berli yang kini sudah berbaring di kamar kesayangannya
Drtttt,, tiba tiba terdengar pesan masuk dari ponsel Berli. Ternyata pesan itu di kirim oleh Abian untuk Berli
'Berli, saat ini aku sudah berada di perjalanan, doakan aku agar semua baik baik saja. Aku akan selalu merindukanmu disana, jaga dirimu baik baik, maafkan segala salahku padamu..... Sampai bertemu kembali suatu saat nanti.... Assalamualaikum..'
Pesan itu di tuliskan Abian untuk Berli. Pesan singkat itu benar benar membuat hati Berli terenyuh, ia merasakan sedih saat membaca pesan Abian yang hendak pamit
"Abian...... ". Gumam Berli yang tanpa terasa air matanya menitik di ujung matanya
......................
"Lalu apa yang kau lakukan? Kau membongkar semuanya?". Ucap Kartika cemas penuh selidik
"Aku menghindarinya". Jawab Pak Indra penuh penyesalan
"Bagus". Ucap Kartika tersenyum menyeringai
__ADS_1
'Sampai kapan akan seperti ini?.... Aku memang bukan paman yang baik Berli.. '. Batin Pak Indra dengan pikirannya yang benar benar kalut
......................
"Aku benar benar puas saat melihatnya terkapar bersimbah darah di jalanan haha". Ucap seorang kakak kepada sang adik yang tak lain adalah Bryan. Saat ini Bryan memang sedang berbicara dengan seseorang di sebrang telpon yang tak lain bersama Dio
"Jadi kakak yang sengaja menabraknya?". Tanya Dio di sebrang telpon penuh penekanan
"Tepatnya aku hanya menonton haha". Jawab Bryan penuh kepuasan
"Apa ini tidak berlebihan kak? maksudku.... ini lebih dari setimpal dari apa yang pernah Romi lakukan pada kita. maksudku..... Sebaiknya kakak lebih berhati hati lagi dalam bertindak. Karena ini menyangkut nyawa seseorang". Ucap Dio membantah kesenangan sang kakak
"Sudah ku bilang, aku hanya menonton. Apa masalahnya dengan kita? Seharusnya aku menikmati situasi ini, bukan malah membelanya. Ah sudahlah, tidak ada gunanya aku berbicara padamu, sekarang kau bukan Dio yang dulu, kemana Dio singa ku pergi hah?". Balas Bryan yang tak terima dengan perkataan Dio
"Kak, sadarlah.... Kau terlalu berlebihan". Ucap Dio menjelaskan di sebrang telpon
Seketika Bryan langsung menutup telponnya karena malas mendengar ocehan adiknya yang sudah tak sepemikiran dengannya
__ADS_1
"Dio payah!". Gerutu Bryan sambil membanting ponsel nya ke sembarang arah