
"Neel, aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu". Ujar Romi yang kini tengah berada di taman belakang rumah nya
"Tanyakan saja Romi". Jawab Neel
"Kemana kau setelah kejadian ibuku?, ah maksud ku. Tiba tiba kau menghilang, tanpa memberitahuku ataupun Adelard. Itu suatu kejadian ah maksud ku tidak seperti biasanya". Ujar Romi, ia bingung harus bagaimana menanyakan hal ini kepada Neel. Karena Romi tidak ingin terlihat mencurigainya
"Ah baiklah aku mengerti maksud mu Romi, aku pergi karena ada sebuah alasan yang entahlah menurutku tidak perlu ada yang mengetahui, termasuk dirimu dan Adelard". Ujar Neel menjelaskan. Tentu penuturannya yang tidak beralasan ini membuat Romi kembali mencurigainya
"Tapi kenapa?". Tanya Romi penuh penekanan
"Bukankah setiap orang memiliki masalah yang tidak perlu di ketahui orang lain?. Maksud ku begini Romi, biarlah ini menjadi urusan ku, bukan aku tidak mempercayaimu, tapi mungkin kau tidak perlu tahu". Ujar Neel kembali
"Baiklah aku tidak akan memaksamu". Jawab Romi. Ia benar benar bingung harus bersikap bagaimana, karena tidak mungkin Romi akan berterus terang bahwa sedang mencurigainya
'Maafkan aku Romi'. Ucap Neel dalam hati sambil menatap lekat Romi
"Apa kau sudah menemukan petunjuk terkait kejadian ibu mu malam itu?". Tanya Neel penuh selidik
"Belum. Namun ancaman itu datang lagi, aku tidak tahu siapa dalang di balik kejadian ini". Jawab Romi, namun hatinya masih benar benar kalut karena pernyataan Neel
"Semua akan baik baik saja, tenanglah". Ujar Neel sambil menepuk pundak Romi.
"Hai bro!". Ucap seorang pria yang baru menapak kan kakinya di tempat itu. Ia adalah Adelard yang datang ke rumah Romi untuk melihat keadaan Bu Inez. Namun langkahnya terhenti saat melihat Neel dan Romi ada di taman
"Kau baru datang?". Tanya Romi yang melihat keberadaan Adelard
"Iyaa. Neel?, kau disini juga?. Sejak kapan bro!". Ucap Adelard sambil merangkul Neel
__ADS_1
"Aku datang tadi pagi saat tante baru saja pulang, karena aku tidak bisa menjenguknya kemarin". Ucap Neel kepada Adelard
"Tapi kau darimana saja?. Kami mencarimu". Tanya Adelard penuh selidik
"Dia sibuk berkencan, sudahlah hahaha". Ucap Romi yang berusaha membunuh pikiran negatif nya kepada Neel
"Hahah begitu ya". Ucap Adelard yang langsung ikut bergabung duduk di bangku taman itu.
......................
"Aku sangat merindukan nya. Apa sore ini aku harus menjemputnya ke pabrik?, tapi apa yang akan terjadi jika Sherly melihatku?. Ah pengacau". Gerutu Felix pada dirinya sendiri. Ia benar benar merindukan Berli tapi ia bingung harus bagaimana, sedangkan di pabrik ada Sherly
"Nakkk". Tiba tiba suara teriak Bu Inez terdengar di telinga Felix. Kini Bu Inez sudah di kamar miliknya yang bersebelahan dengan kamar Felix. Felix seketika langsung bergegas menuju kamar Bu Inez
"Ada apa ma?". Tanya Felix khawatir dan langsung menghampiri Bu Inez
"Wanita itu tidak perlu diundang kesini, aku bahkan bisa menemani mama kapan pun mama mau". Ucap Felix kesal karena Jovanka pasti akan datang
"Mama mengerti sayang, tapi mama hanya ingin mengabarinya saja. Dia sangat peduli kepada mama". Ujar Bu Inez menjelaskan lembut kepada Felix
"Ya sudah". Ketus Felix sambil mengambil telepon genggam Bu Inez yang ada di laci
"Tolong beritahu Jovan ya sayang, mama ingin kamu yang memberitahunya". Ucap Bu inez penuh permohonan
"Tapi Felix..... aghhhh. Yasudahlah". Ucap Felix. Rasanya ia ingin menolak permintaan ibunya yang membuat kesal ini, namun ia tidak tega.
Felix langsung mencari kontak bernama Jovanka di telepon ibunya. Ia langsung menekan tombol panggilan suara. Tanpa menunggu lama, Jovanka langsung mengangkatnya
__ADS_1
'Halo. Ibuku sudah pulang, datang lah jika kau mau. Jika tidak, aku akan sangat bersyukur'. Ucap Felix singkat dan langsung mematikan panggilan nya tanpa memberi kesempatan Jovanka untuk bicara
"Sayang, jangan seperti itu. Belajarlah lembut kepada Jovanka". Ucap Bu Inez lembut kepada Felix
"Tidak perlu". Jawab Felix singkat dan langsung berlalu pergi ke kamarnya
......................
"Aditya, bagaimana laporan kemarin?, apa ada peningkatan?". Tanya David kepada anak buah nya yang tak lain adalah Aditya
"Ini laporan nya pak, menurutku penjualan bulan ini benar benar naik signifikan". Jawab Aditya sambil memberikan map berisi laporan pendapatan pabrik bulan ini.
"Bagus". Jawab David sambil tersenyum
"Pak, apa saya boleh melihat monitor cctv kemarin?". Tanya Aditya kepada David, karena Aditya tidak berani melakukan tindakan tanpa seizin David
"Untuk apa?". Tanya David terheran, karena tidak biasanya Aditya meminta hal itu
"Kemarin pintu gudang tiba tiba ada yang mengunci dari luar saat Kak Berli sedang berada disana. Saya hanya ingin tahu siapa yang menuncinya". Ujar Aditya kepada David
"Apa?". Tanya David penuh kemarahan
"Iyaa pak, bahkan Kak Berli hampir pingsan karena kekurangan oksigen". Ujar Aditya kembali. Tentu penuturannya ini membuat darah David mendidih
"Aku tidak akan pernah mengampuni orang itu". Ujar David dan langsung berlalu pergi untuk melihat rekaman cctv kemarin. Tentu Aditya mengikutinya
Namun betapa terkejutnya David saat melihat orang yang dengan sengaja mengunci pintu itu. Ia benar benar geram karena wanita yang begitu ia sayangi di bahayakan oleh orang itu
__ADS_1