DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 277 - Menemuimu


__ADS_3

Pekerjaan selesai, kini sudah waktunya Berli pulang. Namun, ia masih dengan perasaan yang sama. Ia gelisah, karena belum sempat meyakinkan Felix hari ini.


"Apa Felix memang tidak datang?. Mungkinkah ia tidak ingin menemuiku lagi?". Berli bergumam seraya putus asa.


Ia terus saja mengedarkan pandangan nya ke sekeliling, berharap retina nya menangkap sosok yang ia cari itu.


"Aku harus menemuinya hari ini juga. Aku tidak ingin kesalah pahaman ini terus berlarut".


Dengan tekad nya yang kuat, ia berupaya untuk datang langsung ke rumah Felix. Ia yakin, hal ini telah membuat Felix terpukul.


......................


"Nak, bolehkah mama masuk?". Bu Inez meminta izin saat ia tengah berada di ambang pintu kamar Felix.


Feli hanya mengangguk. Sejak tadi ia hanya duduk di sofa kamar nya tanpa melakukan kegiatan apapun.


Bu Inez masuk, ia berusaha berbincang dengan putra sulungnya itu. Ia berlaga pura-pura tak tahu dengan apa yang terjadi.


Ia mendaratkan usapan lembut nya di pundak Felix. "Sayang, ada apa?. Mama perhatikan sejak kemarin kau sering melamun".


"Tidak terjadi apa-apa ma. Aku hanya lelah, itu saja".


Bu Inez menatap penuh selidik. "Benarkah?".


Felix tersenyum, ia mengangguk untuk meyakinkan ibunya.


Lagi-lagi Bu Inez berpura-pura. "Lalu bagaimana dengan Berli?, hubungan kalian baik-baik saja kan?. Kau sudah menemuinya kan?".

__ADS_1


Deggg, Felix bingung. Entah apa yang harus ia katakan kepada ibunya.


"Hubungan kami baik-baik saja. Aku juga sudah menemuinya. Tidak terjadi apapun di antara kami"


Bu Inez hanya tersenyum, seolah bahagia. Namun ia tahu persis bagaimana keadaan sekarang.


'Kau bisa membohongi ibumu, tapi tidak hatimu. Maaf nak, mama hanya ingin yang terbaik untukmu'. Bu Inez membatin.


"Syukurlah kalau begitu. Jika kau butuh sesuatu, panggilah bi esin. Kau harus banyak beristirahat". Bu Inez hendak melenggang.


Felix menggeleng. "Baik".


......................


Setelah melalui perjalanan beberapa menit, akhrinya Berli tiba di depan rumah Felix. Ada banyak keraguan di hatinya, namun ia berusaha untuk pantang menyerah.


Ia mulai mendekat, dan berjalan menuju gerbang rumah mewah itu.


Felix yang tanpa sengaja melihat pemandangan itu dari jendela kamarnya, ia cukup terkejut.


"Untuk apa ia datang kemari?". Kembali kemarahan Felix membuncah.


Ia melenggang untuk menemui Berli, namun kali ini tentu bukan untuk melepas rindu, melainkan untuk mendengarkan alasan nya datang kemari.


"Tuan Felix, ada yang bisa saya bantu?". Ucap Bi Esin yang tengah berjalan di koridor. Ia heran dengan Felix yang berjalan tergesa-geda.


Felix sama sekali tak menghiraukan apapun yang ada di sekitarnya.

__ADS_1


"Untuk apa kau datang kemari?". Ucap Felix.


Nada ucapan penuh cinta itu, kini sudah hilang entah kemana.


Berli tersenyum. Ia tak menyangka Felix akan datang menemuinya. Dengan bergetar, ia berusaha menjelaskan.


"Sayang, aku datang kemari untuk menemuimu. Aku ingin menjelaskan semuanya. Kali ini, aku mohon dengarkan aku". Ucap Berli penuh permohonan.


Felix berdiri di depan nya, tanpa menatap mata nya sama sekali. "Tidak perlu memanggilku dengan sebutan itu, Berli!".


Degg, ucapan itu seketika sangat menusuk.


Berli menatap dengan mata berkaca. "Tapi kenapa?. Aku calon istrimu kan?. Kita bahkan akan menikah dalam waktu dekat. Felix, aku tahu kau marah. Tapi percayalah, aku sama sekali tidak tahu tentang hal ini. Seseorang mungkin sudah membuat fitnah, agar kita berpisah".


Felix menatap nya dengan mata penuh amarah, namun ia tetap bicara tenang.


"Fitnah katamu?. Di saat kau sendiri yang meminta pria itu menemuimu? Kau berkata ini fitnah?. Berli, aku tak menyangka bahwa pemikiranmu akan sedangkal itu!".


Akhirnya pertahanan Berli lolos, air mata itu mulai menyapu mata indah nya, namun dengan segera ia menyeka nya.


"Felix, aku berani bersumpah, aku tidak tahu bagaimana bisa aku mengirim pesan itu"


"Sudah cukup!. Aku tidak menginginkan alasan tidak masuk akalmu lagi Berli. Pergilah, dan lupakan semuanya tentang kita". Felix hendak melenggang, rasanya ia ingin menangis, namun ia berusaha menahan nya. Dada nya terasa sesak.


Berli menggeleng. "Tidak Felix, tidak. Aku akan tetap menunggu sampai kau percaya padaku"


Felix tak menghiraukan nya, ia tetap melenggang meninggalkan Berli, tanpa berkata sepatah katapun lagi.

__ADS_1


Berli menatap Felix yang berlalu, tanpa menghiraukan perkataan nya. Sungguh, ini sangat menusuk hatinya. Namun, ia tahu Felix pasti lebih sakit daripada apa yang ia rasakan.


__ADS_2