DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 50 - Masalah Psikis


__ADS_3

"Apa kau tahu sesuatu tentang masalah ini Romi?. Menurutmu siapa wanita yang mama maksud?". Tanya Felix yang kini berada di luar ruangan tempat Bu Inez di rawat


"Aku tidak tahu kak, apa mungkin Jovanka?". Tanya Romi kembali. Bukan nya memberi jawaban, Romi malah menanyakan balik kepada kakak nya. Ia memang tidak tahu siapa wanita itu. Karena dari ancaman sebelumnya, ia merasa bahwa yang meracuni ibunya adalah seorang pria. Namun kali ini ia di hadapkan dengan seorang wanita yang entah siapa.


"Apa itu mungkin?. Tapi untuk apa, aghh aku benar benar tidak menyukai wanita itu". Ucap Felix geram


"Entahlah kak, untuk mencari tahu pun bahkan di taman kita tidak memasang cctv kan?. Aku rasa ini akan sulit". Jawab Romi bingung


"Apa kau tahu jika mama pernah mengalami masalah psikis?". Tanya Felix kepada adiknya. Tentu pertanyaan nya ini membuat Romi terkejut


"Apa?. Tapi masalah apa?. Setahuku mama baik baik saja". Jawab Romi terkejut


"Itu yang aku tanyakan Romi, menurut dokter penyebab mama pingsan bukan lah luka yang ada di kepalanya. Tapi ingatan masalalu yang membuatnya trauma kini datang lagi. Itu masih kemungkinan, dan entah memang terjadi atau tidak. Kita harus mencari tahu langsung kepada mama". Ucap Felix menjelaskan


"Tapi bagaimana kak?". Tanya Romi cemas


"Kita akan melakukan pendekatan secara perlahan. Mungkin mama akan menceritakan masalalu nya kepada kita". Ucap Felix


"Aku rasa itu tidak akan berhasil kak". Jawab Romi yang tidak yakin dengan ucapan kakak nya

__ADS_1


"Tapi kenapa?". Ucap Felix penuh penekanan


"Entahlah. Aku merasa tidak yakin saja". Ucap Romi yang merasa tidak yakin, ia merasa harus mencari tahu dulu siapa orang misterius itu. Dengan begitu ia bisa menanyakan langsung kepada orang itu. Ia merasa orang misterius itu adalah bagian dari masalalu ibunya, tetapi ia tidak bisa memberitahukan Felix sekarang


......................


"Sepertinya Jovan harus segera pulang tante, ini sudah mulai malam". Ucap Jovanka yang sudah tidak betah berada di rumah sakit


"Biar Felix yang antar ya sayang". Ucap Bu Inez sambil tersenyum


"Tidak tidak usah tante, Jovan akan pulang sendiri, sopir sudah menunggu di luar". Ucap Jovanka berbohong. Ia hanya malas berhadapan dengan Felix, karena ia belum memiliki kekuatan lagi untuk mencoba menarik perhatian Felix


"Iya tante, sampai nanti ya". Ucap Jovanka sambil berlalu pergi. Sebenarnya ia benar benar tak peduli dengan Bu Inez


"Hai Felix, aku pamit pulang ya. Sampai nanti". Ucap Jovanka ramah saat berpapasan dengan Felix di luar ruangan Bu Inez


"Baguslah". Ketus Felix tanpa menghiraukan Jovanka


"Baiklah, lebih baik kita kembali menemani ibu sekarang kak". Ucap Romi yang merasa sudah lama berdiam di luar. Akhirnya mereka berdua kembali masuk ke ruangan Bu Inez setelah Jovanka pergi

__ADS_1


......................


"Sungguh?, kakak benar benar melakukan itu? hahaha". Ucap sang adik kepada kakak nya. Mereka kini tengah berbincang di sebuah taman kota


"Tentu saja, apalagi yang kita tunggu. Tadi itu benar benar kesempatan emas hahaha". Jawab sang kakak


"Aku sangat puas kak". Ucap sang adik sambil tersenyum menyeringai


"Ini sama sekali bukan apa apa di bandingkan perlakuan mereka kepada kita". Ucap sang kakak di penuhi rasa dendam


"Tentu saja, permainan bahkan baru saja di mulai". Ucap sang adik penuh kepuasan


"Tapi kenapa kakak tidak memberitahuku sebelumnya?, aku bahkan menyembunyikan mu sebagai kakak kembarku hahaha". Ucap sang adik


"Kau terlalu banyak mengulur waktu, dan aku sungguh sangat tidak sabar. Makannya aku bergerak sendiri saja". Balas sang kakak


"Kau benar benar hebat kak". Kagum sang adik


"Tentu saja. Kebencian akan di balas kebencian. Nyawa akan di bayar dengan nyawa". Ucap sang kakak

__ADS_1


__ADS_2