DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 180 - Melindungi


__ADS_3

"Pagi ini aku sudah mendapat teguran. Huh Berli.. Kau jangan mengulanginya lagi". Gumam Berli pada dirinya sendiri. Setelah keluar dari ruangan David, ia kembali mengerjakan pekerjaan nya yang terbengkalai tadi.


"Berli. Aku dengar perusahaan kita mengalami masalah ya. Aku khawatir kalau kita akan di PHK". Ucap seorang wanita yang berada di samping Berli. Ia tak lain adalah Rubi


"Apa?. Siapa yang mengatakan demikian?". Ucap Berli terkejut. Pasalnya jika ia di PHK, ia tidak tahu kemana ia akan mencari pekerjaan.


"Banyak sekali gosip beredar. Kau tidak tahu ya?. Maka dari itu, mulai sekarang aku sudah mencari lowongan pekerjaan baru. Ya..Setidaknya aku sudah melakukan persiapan". Balas Rubi


"Mungkin saja itu hanya gosip bukan? Sudahlah, lebih baik kita berpikir positif saja". Ucap Berli penuh kelembutan


"Kau benar". Balas Rubi


"Seandainya yang Rubi katakan benar benar terjadi, bagaimana nasibku?. Selain aku, Felix juga pasti akan kehilangan pekerjaan nya". Berli membatin


......................


"Untuk apa kau datang kesini Sherly? Kau mengganggu pekerjaanku". Ucap Felix dingin. Saat ini ia tengah berhadapan dengan Sherly yang tiba tiba datang ke ruangan nya.

__ADS_1


"Tidak. Aku hanya bosan saja jadi aku datang kemari. Memang nya tidak boleh?". Balas Sherly bingung. Pasalnya, ia tak melihat jam tangan itu melingkar di pergelangan Felix. Padahal ia masih ingat dengan jam yang Felix kenakan tempo hari.


"Terserah". Balas Felix tanpa menoleh. Ia hanya sibuk dengam berkas berkas yang ada di tangan nya


"Emm.. Felix. Bagaimana hubungan mu dengan Jo?". Seketika Sherly tahu bagaimana cara memancing perbincangan itu.


"Untuk apa kau menanyakan hal itu?". Balas Felix ketus


"Tidak ada. Hanya saja aku dengar Tante Inez ingin sekali kau menikah dengan Jovanka. Lalu.. Kenapa sampai sekarang kau belum menikahinya juga?". Tanya Sherly ragu


"Itu bukan urusanmu". Jawab Felix


"Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan Sherly?". Felix sontak menyimpan berkas berkas itu dan langsung menatap tajam ke arah Sherly.


"Itu.. Felix. Apa kau mempunyai hubungan spesial dengan wanita kampungan itu?". Spontan Sherly bertanya dengan gugup


"Wanita kampungan? Siapa yang kau bicarakan?". Felix bingung

__ADS_1


"Dia.. Berli. Aku lihat kau mengenakan jam tangan yang sama persis dengan yang ia pakai. Apa kalian berpacaran?". Tanya Sherly penuh penekanan


Deggg,, tiba tiba Felix merasa tertegung


"Tidak. Ini belum waktunya untuk Sherly mengetahui semuanya. Sepertinya Sherly menyimpan kebencian pada Berli. Aku tidak ingin Sherly melakukan hal buruk padanya. Untuk sementara, sebelum Berli mengetahui siapa sebenarnya aku. Aku akan menyembunyikan hubungan kami. Maafkan aku Berli". Felix membatin. Membuat Sherly semakin curiga


"Apa aku benar?". Sherly kembali bertanya


"Tidak. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya kau katakan. Apa jika jam tangan kami mirip itu artinya kami mempunyai hubungan spesial?. Sudahlah, jam tangan seperti itu kan banyak di pasaran. Mengapa kau bisa berpikir sejauh itu?". Felix berusaha mengalihkan pikiran Sherly


"Tetapi aku rasa.. Aneh sekali". Sherly tak mau kalah


"Apanya yang aneh? Apa jika sebuah pabrik jam memproduksi jam tangan yang sama, itu akan mempengaruhi kehidupan di bumi? Sudahlah, kau terlalu banyak memikirkan hal yang tidak penting". Felix terkekeh. Ia berusaha mengontrol emosinya untuk tetap tenang


"Ya. Itu bisa saja terjadi. Tetapi apa kau tahu? Aku benar benar membenci wanita itu. Dia memang cantik, tetapi aku sama sekali tidak menyukainya. Ah sudahlah, aku malas membicarakan nya. Aku pulang. Bye". Ucap Sherly sambil melenggang pergi. Ia merasa, kecurigaan yang menghantuinya kini sudah hilang


Sementara di balik meja, tangan Felix mengepal. Ia tak tahan saat mengingat saudara dan ibunya membenci wanita yang sangat ia cintai tanpa alasan yang jelas.

__ADS_1


"Sepertinya Sherly sudah mulai mencurigaiku. Berli, Berli, Berli. Kau akan tetap menjadi milikku apapun rintangan nya. Secepatnya aku akan menikahimu". Gumam Felix. Semakin ia mendengar kebencian tentang Berli, semakin besar pula rasa ingin melindunginya.


__ADS_2