
"Nak... Tante turut berduka sayang". Ucap Bu Inez yang baru saja datang ke rumah sakit. Ia langsung memeluk Prianka
"Katakan bahwa ini hanya mimpi tante....". Ucap Prianka menangis sejadi jadinya di pelukan Bu Inez
"Kau yang kuat sayang, kami disini ada untukmu". Jawab Bu Inez menenangkan Prianka
"Terimakasih tante". Jawab Prianka
......................
"Kau lihat pisau ini Indra?, istrimu akan tamat karena ulahmu!". Ucap Kartika penuh penekanan.
Ia mengarahkan sebilah pisau ke lehernya. Karena sejak tadi, Indra selalu berusaha menentang keputusan nya
"Aku mohon Kartika, jangan lakukan itu". Ucap Indra berusaha merebut pisau itu
"Maka dari itu, kau jangan lagi berdebat denganku tentang rencana mu membongkar rahasia yang sudah kita simpan selama ini. Itu sama sama meghancurkan hidup kita. Kalau kau masih menginginkan itu, maka lebih baik aku mati sekarang. Kau tidak mencintaiku!. Kau tidak mencintaiku Indra!". Ucap Kartika penuh amarah
"Baiklah, aku akan menuruti permintaan mu itu. Aku tidak membongkar rahasia ini. Jangan lakukan itu, aku mohon". Ucap Indra penuh permohonan. Sedari tadi ia berusaha menghentikan tindakan istrinya
"Tapi nanti kau akan membicarakan hal ini lagi. Aku tidak suka Indra!". Ucap Kartika penuh penekanan
"Baiklah, aku berjanji. Aku berjanji tidak akan membahas ataupun membicarakan ini lagi. Tolong, lepaskan pisau itu dari genggaman mu. Aku mencintaimu. Aku tidak akan membiarkan mu pergi". Jawab Indra sambil membawa Kartika ke dekapan nya
......................
"Hari ini rasanya sepi sekali. Aditya tidak ada, Laura tidak ada, Abian tiba tiba saja menjauhiku. Dan Pak David..... Ah. Aku tidak merindukan nya, hanya saja aku rasa hari ini banyak sekali yang berubah". Gerutu Berli pada dirinya sendiri. Ia masih setia dengan pekerjaan nya
'Ah iya, malam ini Felix akan mengajak ku kemana?, sampai saat ini aku bahkan belum mengerti dengan ucapan nya. Siapa wanita yang Felix maksud?, ah aku tidak mengerti'. Batin Berli. Ia kembali memikirkan perkataan Felix di kantin tadi
__ADS_1
'Malam ini kau akan bersamaku. Aku benar benar mencintaimu Berli. Aku akan mengatakannya saat aku sudah benar benar yakin dan siap. Aku tidak mau gagal kali ini. Aku ingin kau menjadi yang terakhir'. Batin Felix. Ia kini sedang asyik melamun di ruangan pribadinya.
"Apa aku harus mendatanginya?. Kenapa tiba tiba saja aku merindukannya. Padahal baru beberapa jam lalu aku bersamanya". Ucap Felix sambil tersenyum. Ia tidak mengerti dengan perasaan nya
"Iya, aku harus mendatanginya. Barangkali dia butuh bantuan. Ah tetapi, jawaban apa yang akan ku beri jika dia bertanya mengapa aku datang?. Ah sudahlah, itu urusan nanti". Ucap Felix sambil bergegas pergi ke tempat Berli bekerja
......................
"Adelard, aku pikir kita harus memastikan keberadaan Romi sekarang. Aku takut mereka belum membawa jenazah almarhum ke rumah nya, bisa jadi mereka masih di rumah sakit kan?". Ucap Neel yang masih berada di mobil menuju kediaman Prianka.
Namun ia berfikir bahwa kemungkinan itu bisa saja terjadi. Tetapi saat Neel berbicara, bahkan Adelard masih sibuk melamun sambil menyetir
"Adelard, apa kau mendengarku?". Ucap Neel kembali saat tak mendapat jawaban dari sahabatnya
"Ah iya Neel, kau bertanya?". Jawab Adelard yang baru tersadar dari lamunan nya
"Kau kenapa Adelard?, apa ada masalah? Aku rasa sejak tadi kau hanya melamun". Ucap Neel penuh selidik
"Kau tidak bisa menyembunyikan apapun dariku Adelard". Ucap Neel sambil menatap lekat sahabat nya itu
"Tidak ada Neel, ku mohon, jangan mendesak ku". Jawab Adelard
"Baiklah, maafkan aku". Ucap Neel yang pikiran nya benar benar kalut
'Aku benar benar yakin bahwa saat ini Adelard sedang menyembunyikan sesuatu'. Batin Neel
"Ah iya, apa kita akan langsung ke rumahnya?. Atau mereka masih di rumah sakit?". Tanya Adelard, menanyakan pertanyaan Neel tadi
"Itu yang aku katakan tadi Adelard, aku tidak tahu. Sebaiknya kita mengubungi Romi terlebih dahulu. Karena aku juga belum mengatakan bahwa kita akan melayat". Jawab Neel menjelaskan
__ADS_1
"Baiklah, hubungi saja dulu". Ucap Adelard kembali melamun
Neel segera menghubungi Romi untuk memastikan kepastian nya itu.
......................
"Kau?, untuk apa kesini?". Tanya Berli yang bingung saat tiba tiba pria yang ada di pikiran nya kini ada di hadapan nya
"Aku akan membantu pekerjaan mu". Jawab Felix dingin sambil mengambil kain kain di hadapan nya
"Ehh.. Jangan, kau juga pasti memiliki pekerjaan. Bos ku pasti akan marah karena ada orang asing yang membantu, maksud ku... Kau bekerja di bagian lain kan?". Jawab Berli sambil menghentikan Felix
Felix hanya terkekeh mendengar pernyataan Berli
"Siapa bos mu?". Tanya Felix dingin
"Bu Inez. Dan keponakan nya Bu Sherly, aku mohon... Jangan membuat masalah, nanti pasti aku akan di beri kerja lembur". Ucap Berli penuh permohonan
"Itu tidak akan terjadi". Ucap Felix tersenyum tipis
"Kau hanya sok tahu. Sudahlah... Kalau aku lembur, aku tidak akan bisa bersama mu malam ini". Ucap Berli refleks saat menghentikan Felix. Ia langsung menutup mulutnya
"Jadi kau sangat menantikan malam nanti?". Jawab Felix yang hatinya benar benar bahagia. Namun ia berusaha terlihat biasa saja
"Tidak, maksud ku.... Aku kan sudah berjanji untuk mengikuti permintaan mu untuk malam ini". Jawab Berli gugup
"Kapan aku memintamu untuk berjanji?". Ucap Felix menahan tawa. Pasalnya Berli memang tidak mengatakan berjanji
"Maksud ku.... Ah sudahlah Felix, jika kau ingin membantu. Silahkan saja". Ucap Berli gugup. Ia bingung harus menjawab apa, karena ia sudah mengatakan perasaan yang harus ditutupinya
__ADS_1
"Tadi kau bilang aku tidak boleh membantu?, jadi bagaimana?". Ucap Felix tersenyum tipis
"Tidak... Maksud ku... Terserah kau saja". Ucap Berli kembali gugup. Tak lepas dari tatapan intens Felix