
"Bagaimana ini Felix, kenapa adikmu belum siuman juga?". Ucap Bu Inez sambil menangis di pelukan Felix. Karena sedari tadi dokter tidak menjawab pertanyaan Bu Inez tentang keadaan Romi
"Sabar ma, Felix yakin dokter pasti akan memberikan perawatan yang terbaik. Kita doakan saja kesehatan Romi. Dokter belum mengabari mungkin karena masih harus fokus pada Romi. Sudah ma, tenang...". Ucap Felix menengkan
"Bagaimana jika Romi tidak...". Ucap Bu Inez tak kuasa mengatakan maksud hatinya
"Sssttt.... Romi akan baik baik saja. Felix berjanji, Romi akan baik baik saja". Ucap Felix yang sebenarnya ia pun mengkahwatirkan itu, namun ia ingin terlihat baik baik saja di hadapan ibunya
......................
"Aditya, bagaimana omzet saat aku tidak masuk kemarin? Apa semua baik baik saja?". Tanya David saat mereka berada di satu ruangan kerjanya
"Menurut saya ada sedikit masalah pak, saya tidak tahu kenapa konsumen banyak sekali membatalkan pesanannya, padahal orang orang gudang sudah memuat barang itu ke dalam truk". Jawab Aditya
"Apa? Bagaimana bisa? Apa kita melakukan kesalahan? Apa pelayanan kita yang kurang memuaskan?". Bantah David tak percaya
"Entahlah pak, saya justru sedang mencari tahu apa alasan mereka melakukan pembatalan sepihak". Jawab Aditya
"Baiklah, kau urus itu, sementara aku akan membicarakan hal ini kepada Bu Inez". Ucap David resah
__ADS_1
"Baik pak". Jawab Aditya
......................
"Sekali lagi. Sekali lagi aku hubungi tante Inez. Jika kali ini beliau tidak mengabari juga, aku akan datang ke rumahnya. Ya, aku tak seharusnya marah tanpa sebab, pasti terjadi sesuatu pada Romi. Seharusnya aku tidak berprasangka buruk". Ucap Prianka yang pikirannya benar benar kalut. Kali ini ia sadar bahwa pemikiran buruk nya kepada Romi adalah salah, karena ia mengambil keputusan tanpa tahu alasannya
Kringg,,,, suara ponsel Bu Inez berbunyi tanda ada panggilan masuk, yang tak lain adalah panggilan telpon dari Prianka
"Kenapa ma? Angkat saja". Ucap Felix saat melihat ibunya membisu saat mendapat panggilan telpon
"Prianka". Ucap Bu Inez yang pikirannya benar benar kalut. Ia tak tega jika harus memberitahukan kabar Romi kepadanya. Ia menatap Felix dengan penuh keraguan
"Lambat laun Prianka pasti akan tahu keadaan Romi. Beritahukan saja tentang keadaan Romi sekarang ma, Felix yakin sedari kemarin Prianka pasti mencemaskan Romi saat ponselnya tidak aktif". Jawab Felix meyakinkan
......................
"Sungguh pak, aku bukanlah penabrak itu". Ucap Adelard di sebuah ruangan tempat dimana kejahatan di kurung. Yanng tak lain adalah kantor polisi. Memang sejak tadi mereka langsung membawa Adelard ke kantor polisi
"Silahkan ceritakan apa yang kau maksud". Ucap polisi tersebut
__ADS_1
"Aku memang menabrak seseorang, dan kasus ku sudah selesai pak". Jawab Adelard
"Berarti jelas, kau yang menabrak ayah Prianka Adelard!". Tegas Bryan
"Kau jangan bicara omong kosong ba**ngan". Ucap Adelard yang hampir saja akan menghajar kembali Bryan
"Adelard, tenanglah!". Tegas Neel
"Kami akan melakukan pemeriksaan kepada tersangka. Sementara itu kalian bisa pulang sekarang". Ucap polisi kepada dosen, Neel, dan Bryan
"Aku akan tetap disini". Ucap Neel
"Sekali lagi teman setia tetap membela yang salah". Ucap Bryan tersenyum puas sambil berlalu pergi. Neel mengepal erat tangannya, ingin rasanya ia melayangkan tinjuannya
"Adelard, kau harus bertanggungjawab nak. Jika kau bersalah, maka akui lah". Ucap dosen menepis pundak Adelard sambil berlalu pergi
......................
"Apa? Kenapa aku baru di beritahu sekarang? Sejak kemarin aku mengkhawatirkan keadaan Romi, kenapa tante tega sekali tidak membeirtahuku?". Ucap Prianka di sebrang telpon yang terkejut mendengar penuturan Bu Inez
__ADS_1
"Maafkan tante sayang, tante takut kau terluka. Tetapi lambat laun kau pasti akan tahu nak, tapi tenang saja.... Romi pasti akan segera siuman". Jawab Bu Inez mencoba tenang
"Prianka akan ke rumah sakit sekarang". Ucap Prianka menyeka kasar ai matanya dan segera bersiap untuk pergi