
Kini waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Felix kini sudah siap untuk pergi. Meskipun keberangkatan nya masih satu jam lagi, tetapi ia ingin bertemu dengan Berli terlebih dahulu.
"Rom, kau sudah siap?". Ucap Felix. Saat Romi masih mengenakan jaket nya.
"Aku sudah siap kak. Ayo.. ".
Bu Inez datang dengan wajah bingung. "Nak, bukankah masih satu jam lagi?. Kenapa terburu-buru?".
Felix tersenyum tipis. "Aku dan Romi akan menjemput Berli terlebih dahulu. Ia ingin mengantarku ke bandara".
'Wanita itu hanya menyusahkan putraku. Lihatlah, bagaimana dia bertingkah seperti ratu'. Bu Inez membatin.
"Ma, aku harus pergi.. Jaga diri mama baik-baik. Aku akan merindukanmu". Ucap Felix. Ia memeluk, dan mengecup pipi Ibunya, hendak berpamitan.
Bu Inez membalas pelukan Felix. "Iya sayang. Mama juga akan sangat merindukanmu. Hati-hati disana. Jangan terlalu banyak begadang ya".
"Kalau begitu kami pergi". Ucap Felix. Ia melenggang bersama Romi, hendak menaiki mobil. Namun sebelum ke rumah Berli, ia hendak menjemput Ozcan terlebih dahulu.
Mobil yang di tumpangi Felix dan Romi sudah berlalu pergi.
"Kau begitu mencintai nya, sehingga kau buta anakku. Kau tidak bisa melihat kekurangan wanita itu yang bahkan tak terukir nilai nya. Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan pernikahan itu terjadi". Gumam Bu Inez.
......................
"Kakak, kenapa kau tidak mengajak Kak Berli?. Ini waktu yang bagus untuk kalian kan?". Ucap Romi di sela kegiatan menyetir nya.
"Aku sudah meminta nya. Tetapi Berli tidak ingin ikut. Ia harus bekerja disini".
"Tapi, kak Berli bekerja di perusahaan mama kan?. Setidaknya ia bisa mengambil cuti, bukan?".
"Aku juga berpikir seperti itu. Tetapi, Mama pasti tidak akan sama seperti kita. Sudahlah, lagipula aku akan segera kembali".
Romi mengangguk, mengerti dengan maksud Felix.
"Kau sangat rajin, tuan muda". Ucap Ozcan hendak masuk. Mereka memang sudah sampai di tempat penjemputan Ozcan.
Felix tersenyum. "Tentu saja. Masuklah.. ". Ucap Felix mempersilahkan Ozcan masuk.
......................
"Akhirnya semua nya sudah siap. Semoga Felix suka". Ucap Berli. Ia memang tengah menyiapkan bekal untuk Felix. Meskipun, disana Felix tidak akan kekurangan makanan, tetapi Berli berinisiatif membawakan nya bekal.
Ia akan membekali Felix dengan makanan berat yang sudah ia siapkan di dalam kotak nasi, sebotol juice yang ia letakan di dalam tumblr, dan salad yang sudah ia persiapkan di kotak bekal.
"Semoga Felix suka". Berli tersenyum
Tak berselang lama, suara mobil terdengar di tengah sunyi nya malam.
Berli semangat, mendekati ambang pintu. "Itu pasti Felix.. ".
__ADS_1
Ia menyambar perbekalan untuk Felix, dan tas selempang miliknya. Tak lupa ia mengenakan jaket, karena memang cuaca nya masih dingin.
"Kau tidak menutup pintu nya?". Ucap Felix, heran. Saat pintu rumah Berli terbuka begitu saja.
"Aku membuka nya setelah mendengar suara mobil mu. Dan lihat, aku membuat bekal untukmu. Di makan ya.. ". Ucap Berli, antusias. Sembari menunjukkan kotak bekal yang ada di tangan nya.
Felix tersenyum, ia. mengelus kepala Berli. "Kau tidak perlu repot-repot seperti ini sayang".
"Tidak, aku senang menyiapkan nya untukmu. Kau harus memakan nya nanti".
"Baiklah, kalau begitu.. Ayo, masuk ke mobil". Ucap Felix, ia membantu barang bawaan Berli.
Sesampainya di pintu mobil, Ozcan langsung menggoda Berli.
"Waahh, beruntung nya Felix.. Di saat ia akan pergi, ada yang menyiapkan bekal untuknya. Sedangkan aku.. Ya.. Aku hanya seorang jomblo". Ozcan terkekeh.
Felix tertawa kecil sembari memberi kode kepada Ozcan, untuk pindah ke kursi depan. Tentu Felix dan Berli akan duduk bersampingan di jok belakang mobil.
"Baiklah, aku mengerti.. ". Ozcan keluar dan duduk di samping Romi.
Berli mengernyit. Ia merasa tak enak dengan Ozcan. "Felix, seharusnya tidak perlu seperti itu".
"Sudahlah, tidak masalah". Felix membukakan pintu untuk Berli.
"Haii kak, senang bisa bertemu kembali". Sapa Romi saat Berli sudah duduk di jok belakang.
Berli tersenyum. "Aku juga senang, bisa bertemu denganmu lagi, Rom".
"Baiklah". Romi tertawa kecil.
Mobil mereka pun melaju dengan kecepatan sedang.
"Sayang, kau mengantuk?". Ucap Felix, sembari merangkul pundak Berli. Ia menyandarkan kepala Berli di pundak nya.
"Tidak, aku tidak mengantuk.. ".
"Lalu kapan kau memasak semua ini?. Kau pasti begadang kan?". Ucap Felix sembari menatap kotak makanan itu.
Berli tersenyum. "Tidak, sayang. Aku sudah mempersiapkan nya tadi malam. Jadi, aku hanya tinggal memasaknya saja tadi".
Felix tersenyum, ia meraih pundak tangan Berli, dan sedikit mengecup nya. "Terimakasih".
Sementara, Ozcan dan Romi hanya menyimak kemesraan mereka dari kaca dashboard.
"Ekehmm". Gumam Ozcan. Sontak Berli menjauh dari Felix.
"Kenapa?. Kau pasti iri". Ucap Felix terkekeh.
"Akhirnya, ada yang berhasil memecahkan gunung es". Ozcan terkekeh. Ia menyindir Felix yang berhasil di taklukan oleh Berli.
__ADS_1
Berli tersipu malu.
Felix meraih tangan Berli kembali, ia menggenggam nya erat. "Jangan dengarkan dia". Ucap Felix. Berli hanya tersenyum, malu-malu.
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di bandara.
Mereka turun dari mobil, menuju pintu utama penerbangan. Felix tak melepaskan tangan nya sama sekali dari pundak Berli. Ia merangkul nya sepanjang perjalanan.
"Kau ingin membeli minuman hangat?. Kita akan minum teh sebelum pesawat ku terbang". Ucap Felix.
Berli mengangguk. Mereka memutuskan untuk meminum teh hangat sebelum take off.
"Lihatlah, mereka sepertinya tidak ingin lepas satu sama lain". Ucap Ozcan kepada Romi. Mereka memang duduk di meja yang berbeda. Ozcan dan Romi memberikan kesempatan kepada mereka untuk berdua.
Romi terkekeh. "Biarkan saja. Mereka akan berjauhan untuk sementara waktu".
.
"Aku pasti akan sangat merindukanmu". Ucap Berli merengut.
"Benarkah?". Felix terkekeh, membuat Berli kesal.
"Feliixxx... ". Ucap Berli penuh penekanan.
"Aku juga akan sangat merindukanmu sayang. Tapi aku hanya pergi sebentar. Aku akan sering mengabarimu".
"Kau berjanji?".
"Tentu saja".
Berli tersenyum.
Waktu sepertinya begitu singkat, sekarang sudah saat nya Felix take off.
"Jaga dirimu baik-baik. Aku akan segera kembali". Ucap Felix, ua begitu dekat dengan Berli.
"Kau juga, jaga dirimu baik-baik. Aku akan selalu menunggumu pulang. Kabari jika sudah sampai ya". Berli tersenyum, memberikan senyuman termanis nya.
Felix meraih kedua tangan Berli, dan mengecupnya satu persatu. Berli tersenyum melihat perlakuan Felix padanya.
"Sampai bertemu nanti.. ". Felix dan Ozcan melenggang. Menjauh dari jarak Romi dan Berli berdiri. Mereka sudah berpamitan kepada keduanya. Kini saat nya mereka pergi.
"Dahh Felix.. ". Berli dan Romi melambaikan tangan nya. Begitupun dengan Felix dan Ozcan.
Merekapun menaiki pesawat yang akan di tumpangi nya. Tetapi, tatapan Felix masih terarah ke arah wanita yang di cintai nya itu. Ia membawa bekal yang di siapkan Berli untuknya. Ia akan memakan nya nanti.
Pesawat pun take off dengan lancar tanpa hambatan. Berli menunggu hingga pesawat itu hilang dari pandangan nya.
"Kak, ayo pulang.. ". Ucap Romi
__ADS_1
Berli dan Romi pun melenggang untuk kembali pulang ke rumah nya masing-masing. Tentu Romi yang akan mengantar Berli.
Berli tersenyum dan bergumam. "Semoga perjalanan mu lancar sayang".