DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 224 - Pertarungan


__ADS_3

"Ya ampun..". Berli langsung membawa pan yang mereka gunakan untuk membuat pancake ke bak cuci. Sungguh, pancake yang Lathesia hitam melekat di atas pan itu.


"Berli.. Maafkan aku.. ". Ucap Lathesia merasa bersalah.


"Tidak apa-apa. Kita akan mencobanya lagi. Lagipula ini sudah biasa, kau kan sedang belajar". Balas Berli tersenyum menenangkan


"Terimakasih, kau baik sekali.. ". Ucap Lathesia tersenyum. Berli membalasnya dengan senyuman manis.


......................


"Apa aku tidak salah dengar?. Yang Berli ucapkan tadi adalah nama Lathesia. Apa mungkin Berli mengenal Lathesia?. Tidak Felix. Di dunia ini banyak wanita yang bernama Lathesia. Tapi.. Mengapa rasa nya sangat rumpang?. Bagaimana jika dugaanku benar?". Gumam Felix dengan pikiran nya yang kalut. Ia masih memikirkan ucapan Berli yang tanpa sengaja ia dengar di telpon itu.


......................


'Aku sudah sampai. Dimana kau?'. Bu Inez mengirim pesan singkat itu kepada pemuda yang selama ini berurusan dengan nya.


'Bagus. Masuklah ke gedung tua di depanmu. Aku bisa melihatmu dari sini wanita tua'. Balasan yang Bu Inez dapatkan setelah sepersekian detik ia mengirim pesan.

__ADS_1


"Dasar manusia tidak tahu diri!". Bu Inez bergumam sambil menutup telpon nya. Ia menghela nafas kasar, namun berusaha untuk mengikuti perintah pemuda itu. Tentu ia bersabar karena sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat matang, yaitu membawa anak buahnya untuk melancarkan rencana nya.


"Bagus. Kau datang sendirian nyonya tua". Ucap salah satu pria yang bertudung itu. Lagi-lagi Bu Inez tidak bisa melihat wajahnya.


"Ya. Tentu aku datang. Aku akan memberikanmu uang ini, asalkan kau membuka tudungmu itu!". Balas Bu Inez.


"Mohon maaf nona tua. Tetapi kami tidak se-naif dirimu". Sahut salah seorang pemuda itu sambil terkekeh, begitu juga dengan yang satunya. Mereka mungkin saja adalah saudara kembar.


"Baik. Kalau begitu, ambil uang nya di bagasi mobilku. Aku menyimpan nya disana". Balas Bu Inez enteng. Karena ia yakin rencana nya pasti akan berjalan dengan mulus.


Tanpa basa basi, kedua pria itu melenggang ke arah mobil Bu Inez yang terparkir tak jauh dari tempat mereka menapakkan kaki. Bu Inez berjalan di belakang mereka dengan senyuman menyeringai.


Baru saja bagasi itu di buka oleh salah satu di antara mereka, pukulan keras menampar punggung salah satu di antara mereka hingga membuatnya tersungkur dan tak sadarkan diri.


Seketika salah satu pemuda itu menoleh, saat melihat saudaranya tersungkur. Ia berusaha melindungi diri dan saudaranya dari kedua pria yang tiba-tiba menyerangnya.


Pertarungan itupun terjadi. Satu pukulan keras menimpa kepala sang pemuda yang sedang berjuang. Namun, ia kembali bangkit melawan sebelum mereka membuka tudung yang ia gunakan.

__ADS_1


"Sialan!". Pemuda itu membalas pukulan di perut penyerang itu.


Satu penyerang hampir saja membuka tudung pria yang belum sadarkan diri. Hampir saja, namun dengan sigap saudara nya itu menendang keras kepala si penyerang hingga menjauh dari saudara nya yang tersungkur di tanah.


Pertarungan itu masih sengit, dua banding satu. Yang sebenarnya pemuda itu sudah tak sanggup lagi. Namun ia ingat, akan dendam yang selama ini ia pendam. Seolah di bakar kobaran api, gemuruh di dadanya begitu panas membara untuk melakukan perlawanan. Tujuan nya saat ini adalah melindungi diri dan saudaranya dari mereka. Ternyata, Bu Inez sudah menjebak mereka dalam permainan nya.


Brugg,,, kedua penyerang itu kini lemas tak berdaya. Pemuda itu seolah mengkoyak habis tenaga mereka. Kini, Bu Inez yang tinggal seorang diri, badan nya gemetaran. Karena kini, ia sendiri yang menerima kegagalan.


"Oh, jadi ini permainanmu tua bangka?. Kau berusaha menjebak kami dalam rencanamu bukan?. Apa kau merasa belum puas, setelah menghabisi beberapa jiwa karena keegoisanmu?. Setelah kau menghabisi ayah dan ibuku, Kau ingin menghabisi kami juga?. Kalau begitu, kau akan merasakan kematian yang amat pedih!". Ucap seorang pria yang kini rasanya sudah babak belur karena pertarungan tadi. Ia menghampiri Bu Inez, dan mencekik leher Bu Inez hingga ia kesuliatan bernafas. Ia berbisik mengancam


"T.. Tidak.. Maafkan aku.. ". Ucap Bu Inez dengan nafas terpenggal.


"Aku akan melepaskanmu. Aku tidak akan membunuhmu hari ini. Bagiku, membunuhmu hari ini sama saja seperti membuang kesempatan. Kau tahu?. Aku akan membuatmu menderita, sebelum datangnya kematian mu. Kau akan merasakan bagaimana sakitnya kematian, dan penderitaan yang aku rasakan, kau akan merasakan nya lebih daripada itu!. Dan sampai waktu itu tiba, kedua putramu akan membencimu seumur hidupnya!". Dengan nafas terengah-engah. Pemuda itu berkata dengan penuh penekanan. Membuat Bu Inez pasrah.


Ia melepas kasar genggaman pada leher Bu Inez. Ia melenggang, mengambil koper berisi uang itu dan memapah saudara nya tanpa sedikitpun menampakkan wajah aslinya.


Bu Inez menangis, bukan karena kegagalan. Ia menangis karena ancaman itu seperti sudah nyata dan akan menghampirnya tidak lama lagi.

__ADS_1


Badan nya terasa lemas, ia duduk di tanah dengan pandangan kosong, dan di penuhi ketakutan. Sementara, kedua anak buahnya, terbujur kaku di sekitarnya.


__ADS_2