
"Apa yang terjadi dengan tante?". Tanya Jovan yang kini sudah sampai di rumah sakit
"Saya tidak tahu nyonya, tadi Bu Inez terjatuh lalu pingsan, setelah sadar Bu Inez pingsan kembali". Jawab Bi Esin panik
'Drama apa lagi ini tua bangka'. Batin Jovanka kesal
"Baiklah, tidak apa apa. Tante pasti akan Segera pulih". Ucap Jovanka menenangkan Bi Esin
"Bi Esin menelpon ku beberapa kali?, ada apa". Ucap Felix saat baru saja melajukan motor nya setengah jalan. Entah ada angin apa sehingga Felix ingin melihat ponsel nya saat berkendara
"Bi Esin?". Ucap Felix yang menelpon balik Bi Esin. Ia kini menepikan motor nya untuk mengubungi ulang ponsel Bi Esin
"Tuan Felix, syukurlahh". Jawab Bi Esin dari seberang telepon dengan nada panik nya
"Ada apa bi?". Tanya Felix penuh kecemasan
"Ibu di bawa ke rumah sakit tuan. Tolong segera kesini". Ucap Bi Esin panik
"Tapi kenapa bi?". Tanya Felix penuh penekanan
"Datang saja dulu tuan, nanti saya jelaskan". Jawab Bi Esin sambil menitikan air mata. Ia memang sangat menyayagi majikan nya itu
"Baiklah, jaga ibu ya bi. Saya segera kesana". Ucap Felix yang langsung bergegas pergi ke rumah sakit
'Lagi lagi aku harus di hadapkan dengan keluarga ini, sungguh drama yang ku buat ini benar benar menyusahkan aku. Rasanya ingin sekali tujuan ku cepat cepat tercapai, lalu aku tidak akan berurusan dengan mereka lagi'. Batin Jovanka yang sudah muak dengan keadaan Bu Inez.
"Bagaimana keadaannya dokter?". Tanya Bi Esin saat melihat dokter keluar dari ruangan itu
"Apa ada keluarga nya disini?". Tanya dokter kepada Bi Esin
"Sebentar lagi anak nya datang dokter". Jawab Bi Esin
"Baiklah, jika sudah datang tolong suruh dia menemui saya di ruangan pribadi saya, di ujung koridor sana ya bu". Ucap dokter yang berlalu pergi. Sepertinya dokter itu ingin membicarakan sesuatu kepada keluarga pasien nya ini
__ADS_1
"Baik dokter". Ucap Bi Esin yang masih cemas dengan keadaan Bu Inez
"Felix akan datang kan bi?". Tanya Jovanka saat melihat Bi Esin hanya mondar mandir di depan nya
"Iya nyonya tuan Felix akan datang". Jawab Bi Esin
"Baiklah, tante Inez pasti akan segera pulih ya bi, tenanglah". Ucap Jovanka lembut menenangkan Bi Esin sambil mengelus pundak Bi Esin. Tentu lain di hatinya
'Semangat Jovan, ini tidak akan berlangsung lama'. Batin Jovan yang bosan berpura pura baik di depan orang orang ini
......................
"Aku rasa kita harus pulang, seperti nya hari sudah mulai petang, sebentar lagi jalanan sekitar tempat ini pasti akan gelap". Ucap Neel saat menyadari hari mulai petang
"Iya, ibuku pasti sudah menghubungi ku sejak tadi". Ucap Adelard
"Baiklah, ayo". Sahut Romi setuju
Mereka bertiga pun akhirnya bergegas pergi dari tempat itu untuk kembali pulang.
"Ibu tadi terjatuh dari kursi roda tuan, ia pingsan. Saya mengobati luka nya dan ibu sadar, lalu tak lama ibu pingsan kembali". Ucap Bi Esin sambil kembali menangis
"Apa?, bagaimana bisa bi?". Felix terkejut saat mendengar pernyataan Bi Esin
"Tapi Bu Inez sepertinya ada yang mendorong tuan, karena Bu Inez terjatuh saat Bu Inez duduk di kursi roda". Bi Esin kembali menjelaskan di tengah isakan nya
"Baiklah bi, tidak apa apa. Romi dimana?". Ucap Felix yang melihat ketakutan Bi Esin lalu berusaha menenangkan nya. Tetapi ia tak melihat keberadaan adiknya
"Tuan Romi tadi sedang pergi keluar tuan. Tuan Romi sama sama tidak bisa di hubungi, sampai saat ini tuan Romi pasti belum tahu". Ucap Bi Esin kembali menjelaskan
"Baiklah, sebentar lagi Romi pasti akan kembali. Apa aku bisa menjenguk ibu sekarang?". Tanya Felix yang berusaha tidak menunjukan ke khawatiran nya
"Belum Felix, tapi dokter menyuruhmu menemuinya di ruangan nya". Sahut Jovanka yang keberadaan nya baru di sadari oleh Felix. Seketika Felix menunjukan kembali wajah dingin nya
__ADS_1
"Hm". Balas Felix sambil berlalu pergi ke ruangan dokter yang menangani ibunya
......................
"Bi Esin?, untuk apa menelpon ku berulang kali". Ucap Romi yang kini sudah berada di mobil milik Adelard. Ia memang sudah sampai setengah jalan sehingga ia bisa menemukan sinyal dan membuka ponsel nya
"Ada apa Rom?". Tanya Adelard yang melihat wajah bingung Romi
"Aku tidak tahu, Bi Esin menelpon ku berulang kali. Apa terjadi sesuatu pada ibuku". Ucap Romi khawatir dan langsung berusaha menelpon balik Bi Esin
"Coba kau hubungi kembali mungkin saja itu benar". Sahut Neel yang duduk di jok belakang
Setelah beberapa kali melakukan panggilan telepon kepada Bi Esin, Romi tak kunjung mendapat jawaban
"Apa ini?, kenapa ponsel Bi Esin tidak aktiv". Ucap Romi kembali cemas
"Mungkin saja ponsel nya low bat". Sahut Neel
"Begini saja, aku akan mengantarmu pulang lebih awal". Ucap Adelard yang sama sama panik dan menambah kecepatan mobil nya
"Baiklah, terimakasih Adelard". Ucap Romi yang masih cemas
......................
"Apa?". Ucap Felix terkejut dengan penuturan dokter. Ia kini berada di ruangan dokter itu dan tengah membicarakan keadaan Bu Inez
"Iya tuan, menurut saya Bu Inez pernah memiliki riwayat masalah psikis. Entah itu apa, nanti kita akan menanyakan lebih lanjut kepada Bu Inez secara langsung. Saya rasa, pikiran nya mulai terarah kepada masalah yang pernah di deritanya. Pasalnya, saat terjatuh dan kepalanya terkena benturan tadi, sepertinya Bu Inez mengalami syok, atau trauma dan entah apa yang membuat nya seperti ini. Ini pasti ada hubungan nya tuan". Ucap dokter menjelaskan panjang lebar kepada Felix
'Apa masalah yang mama sembunyikan dariku'. Batin Felix yang benar benar bingung dengan apa yang menimpa ibunya
"Apa yang harus saya lakukan dokter?". Tanya Felix
"Mungkin jika keadaan Bu Inez membaik, besok Bu Inez bisa pulang. Luka nya memang hanya sedikit saja, tetapi yang menyebabkan Bu Inez pingsan bukan lah lukanya. Mungkin bisa saja yang saya sebutkan tadi, kita hanya bisa melakukan pendekatan kepadanya agar ia mau memberitahukan masalah nya, mungkin itu akan berhasil tuan Felix". Ujar dokter memberikan solusi
__ADS_1
"Baik dokter, terimakasih. Saya akan melalukan apa yang dokter katakan". Ucap Felix yang langsung bergegas pergi untuk menemui ibunya. Pikiran nya benar benar kalut