DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 270 - Mengurung Diri


__ADS_3

"Maafkan aku Felix. Aku sudah gagal menjaga cinta kita. Aku sudah tidak utuh lagi. Pria itu sudah menyentuhku. Pernikahan itu, sekarang mungkin hanya tinggal mimpi".


Berli tak tidur semalaman. Ia tak berhenti menangisi hal buruk yang terjadi tadi malam. Ia bahkan sama sekali tak membuka ponsel nya sejak tadi malam. Ia tak kuasa melakukan apapun. Bahkan hari ini, ia memutuskan untuk tidak bekerja.


Kringg,, ponsel di samping Berli berbunyi sejak tadi. Sudah jelas, itu pasti dari Felix.


"Bagaimana aku harus bersikap kepadamu, Felix?". Berli menangis. Ia belum berani mengangkat panggilan itu. Namun Felix terus mengulangi panggilan itu.


Sampai Berli tak bisa menahan, ia memutuskan untuk mengangkat nya.


"Sayang, kenapa lama sekali?. Sejak tadi malam aku berusaha menghubungi mu. Tetapi tidak bisa. Aku khawatir. Apakah kau sedang sakit?". Felix begitu khawatir disana. Ia berbicara penuh posesif.


Berli menyeka air mata, dan berusaha menjawab tanpa suara tangis. "Aku baik-baik saja Felix".


Namun, batin Felix sangatlah kuat. Ia tahu suara gemetar ini. "Kau menangis?".


Berli membelalak. "Tidak, aku tidak menangis. Aku baik-baik saja".


Felix mengernyit tak percaya. "Benarkah?. Lalu, mengapa kau tidak pergi bekerja sayang?. Kau pasti masih di rumah kan?".


"Aku.. Aku akan pergi bekerja". Berli berbohong, ia tak tahu bagaimana cara nya berbicara dengan Felix.


"Sayang, aku akan pulang besok. Aku tidak mau berlama-lama disini. Aku yakin kau sedang tidak baik-baik saja. Aku khawatir". Felix yakin dari suara Berli, bahwa ia sedang sakit.


Berli sontak mencegah nya. "Tidak, tidak.. Aku baik-baik saja. Selesaikan pekerjaanmu disana Felix. Sekarang disana masih dini hari kan?. Pasti kau tidak tidur lagi". Berli berusaha mengalihkan suasana.


"Ya. Aku mengkhawatirkanmu. Aku tidak bisa melihat keadaanmu jika jauh seperti ini. Sejak tadi malam aku tak berhenti memikirkanmu. Aku rasa aku sangat merindukanmu".


Degg, darah Berli berdesir saat mendengar ucapan itu. Tadi malam, ya. Tadi malam akan membuat Felix kecewa selama nya.


"Felix.. ". Ucap Berli lirih. Rasanya bercampur aduk, antara sedih dan terharu.

__ADS_1


Felix tersenyum. "Besok aku akan pulang. Pekerjaanku sudah selesai. Jaga dirimu baik-baik, kita akan segera bertemu".


"Hmm.. Kapan.. Kau tiba disini Felix?". Rasanya Berli belum kuasa untuk bertemu Felix, dan melihat kekecewaan di mata nya.


"Ntah, aku tidak tahu. Ozcan yang mengurus nya. Tetapi secepat mungkin aku akan sampai disana".


"Baiklah, kalau begitu.. Hati-hati di jalan".


"Tentu saja sayang. Setelah mendengar suaramu, aku tenang. Jadi.. Jika tidak ada yang ingin di bicarakan lagi, aku ingin pamit untuk tidur". Felix tertawa renyah.


"Tentu saja...Tidurlah. Kau pasti lelah. Maaf, telah membuatmu khawatir". Berli merasa tak enak dengan Felix.


"Bukan apa-apa. Baiklah, kalau begitu,sampai nanti.. "


"Dahh". Ucap Berli. Namun Felix enggan menutup telepon.


"I love you". Ucap Felix lirih. Membuat air mata Berli kembali mengalir.


Felix menutup telepon nya. Akhirnya ia bisa tertidur, karena telah mendengar kabar dari Berli.


......................


"Lalu, kapan kita akan mengirimkan foto ini kepada Felix, tante?". Lathesia begitu semangat. Ia tak sabar menunggu moment yang sangat di harapkan nya itu.


"Besok Felix akan pulang. Kita akan mengirim nya setelah ia kembali. Jika kita melakukan nya sekarang, aku takut emosi Felix tak terkendali dan menghambat urusan nya. Maka, kita harus melakukan nya dengan hati-hati".


Lathesia mengangguk, mengerti. "Baiklah".


......................


"Berli pasti tidak akan datang ke perusahaan. Aku tau bagaimana perasaan nya. Saat ini ia pasti sangat hancur. Bagaimana caraku menjelaskan nya, bahwa aku sama. sekali tak menyentuh nya?. Aku bahkan tidak pernah mempunyai niat keji seperti ini". David menghela nafas berat. Ia hendak mendatangi rumah Berli, untuk menjelaskan kejadian tadi malam.

__ADS_1


"Semoga Berli memberiku kesempatan untuk menjelaskan".


......................


Sejak malam, Berli hanya terbaring di tempat tidur, sambil sesekali duduk menatap ke luar jendela. Ia merasa hancur, dan rapuh setiap kali mengingat kejadian tadi malam. Untuk keluar rumah saja, ia merasa malu pada dirinya sendiri. Ia merasa diri nya sangat kotor karena sudah ternoda.


"Bagaimana aku harus melanjutkan hidupku?. Kemana hidup akan membawa ku?". Berli merenung. Tak ada air mata lagi. Air mata itu seolah sudah habis dari sumber nya.


Berli meraih potret dirinya bersama Felix di nakas.


Ia membawa foto itu ke pelukan nya, dan menatap nya sedalam mungkin.


"Setelah kau tau semua ini, apakah kau akan masih mencintaiku lagi, Felix?. Apakah kau akan bertahan pada wanita kotor sepertiku?. Apakah pernikahan yang kita impikan hanya akan menjadi kisah kelam masalalu saja?. Felix.. Aku tidak pernah bermimpi, semua ini akan terjadi. Kenapa hidup selalu mengujiku seberat ini?". Berli memeluk foto itu dengan erat nya.


Tak lama, Berli mendengar suara ketukan pintu dari luar. Namun ia enggan membuka nya.


"Berli, tolong buka pintu nya. Aku ingin menjelaskan semua nya". Ucap David lirih.


Berli tak ingin membuka pintu itu. Ia hanya mendengar ucapan David dari luar.


"Berli, aku sama sekali tak menjebakmu".


"Aku tak pernah melakukan apapun kepadamu".


"Aku bersumpah".


"Berikan aku kesempatan untuk bicara. Aku tahu kau sangat marah kepadaku. Tapi percayalah, ini bukan salahku"


Berli yang sudah terlanjur kecewa, ia tak ingin mendengar ucapan David.


"Hentikan, David!". Gumam Berli pelan. Ia kembali menangis penuh kecewa. Ia sama sekali tak ingin membuka pintu untuk David. Sampai David pergi, Berli tak menemui nya sama sekali. Ia mengurung diri di kamar.

__ADS_1


__ADS_2