
Hari hari terus berlalu..
Pagi yang indah kembali menyapa. Seolah semua kembali seperti semula. Kepulangan Romi ke rumah, kembalinya cinta dalam hidup nya. Dan moment berkumpul keluarga di rumah besar itu, membuat kebahagiaan terpancar di dalam senyum mereka
"Nak, mama rasa kau tidak perlu ke kampus hari ini. Biar kau beristirahat beberapa hari lagi". Ucap Bu Inez penuh kasih sayang di meja makan itu
"Romi sudah sembuh ma. Lagipula Romi merasa bosan jika harus di rumah terus". Jawab Romi
"Anak nakal". Sahut Felix sambil mengacak rambut Romi
"Apa Prianka tidak datang untuk sarapan bersama?". Tanya Bu Inez
"A.. Tidak. Prianka bilang ia sudah sarapan tadi. Oh, dan sepertinya aku harus cepat cepat pergi. Prianka pasti sudah menungguku ma". Ucap Romi sambil bergegas pergi ke kamar nya untuk bersiap
__ADS_1
"Dasar tidak sabaran". Gumam Bu Inez tertawa renyah melihat kelakuan anak nya yang berlari kecil terburu buru
"Begitulah Romi". Ucap Felix yang masih setia berada di meja makan itu sambil menyantap hidangan yang ada di depan nya
"Felix. Kapan kau akan menikah?". Tanya Bu Inez yang membuat Felix terkejut
"Kenapa mama tiba tiba menanyakan hal itu?". Jawab Felix yang kembali bertanya
"Mama ingin cepat cepat melihatmu bahagia. Itu saja". Ucap Bu Inez yang sebenarnya ia hanya memancing Felix untuk mengatakam yang sebenarnya.
"Secepatnya". Jawab Felix tersenyum tipis menatap wajah ibunya
"Felix berangkat. Assalamualaikum". Ucap Felix yang hendak bergegas pergi ke tempat Berli bekerja.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan Berli?". Ucap Bu Inez yang kembali membuat Felix tersentak. Seketika ia langsung menghentikan langkah nya
"Apa maksud mama?". Tanya Felix
"Apa kau menyukai gadis itu?". Tanya Bu Inez penuh selidik
"Lalu apa yang akan mama lakukan?". Jawab Felix kembali bertanya. Ia tahu persis apa yang ibunya pikirkan sekarang
"Kau sudah tahu nak. Kau itu anak mama. Kau harus mendapat wanita yang setara dengan kita. Entah itu posisi ataupun har.. ". Ucap Bu Inez yang seketika di elak oleh Felix
"Berhenti mengatakan semua standar sosial mama. Pendampingku kelak, bukanlah berdasarkan posisinya ataupun harta nya. Bagiku status sosial sama sekali tidak penting. Yang terpenting adalah aku mencintainya. Dan aku tidak mempedulikan apapun selain itu. Masa depanku, aku akan menentukan itu sendiri. Maaf jika aku lancang". Jawab Felix sambil melenggangkan kakinya untuk pergi. Hatinya benar benar panas mendengar perkataan ibunya
"Sherly benar. Gadis itu sudah berhasil meracuni pikiran anakku. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyetujuinya. Aku harus bisa menjauhkan mereka. Tidak peduli dengan apa yang akan Felix lakukan padaku. Gadis rendahan itu pasti akan menggerogoti hartaku". Gumam Bu Inez penuh kebencian saat mengingat wajah Berli yang kini membuat putra sulungnya jatuh cinta
__ADS_1
'Bagaimana mama bisa tahu tentang Berli?. Siapa yang mengadukan kedekatanku padanya?. Rintangan sudah di depan mata saat bahkan aku belum bisa memilikinya.'. Felix membatin. Ia kini dalam perjalanan menuju pabrik dengan motor matic kesayangan nya.