
Prianka dan Romi saling menatap lekat, dengan wajah yang pucat pasi.
Mereka sangat tersentak dan terkejut. Hal itu membuat mereka lemas di buatnya. Perlahan mereka mulai mengalihkan pandangan nya ke arah Bryan terbaring.
Prianka menangis, saking terkejutnya. Ia melihat Romi, yang ternyata baik baik saja.
"Kakak?!". Ucap Romi saat melihat Felix berjalan ke arah nya, dengan beberapa polisi dan kedua teman baik nya.
"Syukurlah kami datang tepat waktu". Ucap Felix, ia langsung berjalan mendekati Romi.
"Kakak, terimakasih banyak.. ". Romi langsung berhambur ke pelukan Felix. Ia merasa sangat bersyukur.
"Kenapa kau lakukan ini Romi?". Felix menghela nafas panjang, sambil membalas pelukan Romi.
"Kalian tidak perlu khawatir lagi, kami akan membawa nya ke kantor polisi. Lagipula, dia akan baik-baik saja. Kami menembakkan bius di kaki nya. Sesuai dengan apa yang sudah ia perbuat, kami akan menghukum nya. Perkuat bukti-bukti yang akan di tanyakan di pengadilan, Tuan Romi". Ucap salah satu polisi.
Bryan yang tak sadarkan diri itupun, di bawa oleh beberapa polisi untuk di tindak lanjutin. Beruntung, Bryan tidak sempat melepaskan pelatuk nya. Hingga Romi dan Prianka berhasil lolos.
"Kak Felix, terimakasih banyak.. ". Prianka hampir bersujud di kaki Felix, namun Felix mencegah nya.
__ADS_1
"Prianka, ini memang kewajibanku untuk melindungi kalian. Aku tidak akan membiarkan kalian dalam bahaya". Ucap Felix.
"Romi, syukurlah..". Adelard berhambur ke pelukan Romi. Begitupun dengan Neel. Mereka bersyukur, sudah melewati masa yang menegangkan ini.
"Terimakasih banyak. Aku beruntung memiliki teman seperti kalian". Ucap Romi.
"Tapi, bagaimana bisa kalian sampai disini?. Neel, Adelard, Kakak?". Ucap Romi heran.
"Aku dan Adelard menghubungi kak Felix, tetapi tidak ada jawaban. Jadi kami berniat mengikutimu. Kami juga merekam semua yang telah Bryan lakukan, ini akan menjadi bukti untukmu. Syukurlah kami bertemu kak Felix". Ucap Neel.
"Sudahlah, kalian butuh waktu untuk menenangkan diri. Ayo, sekarang kita pulang. Prianka, ikutlah bersama kami. Kau tidak boleh sendirian". Ucap Felix.
Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Biarkan semua ini menjadi yang terakhir.
......................
Hari mulai petang, waktu sudah menunjukkan jam perpulangan. Tetapi, Felix sama sekali belum kembali.
"Mungkinkah Felix tidak akan kembali?. Aku akan menanyakan nya nanti. Barangkali urusan nya memang sangat penting". Ucap Berli menghela nafas. Ia mulai membereskan pekerjaan nya yang tinggal sedikit. Karena sebentar lagi, ia akan pulang.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara ponsel Berli. Ia langsung merogoh nya.
"Lathesia?". Ucap Berli yang langsung membuka ponsel nya.
"Halloo, Berli..". Ucap Lathesia di sebrang telepon.
"Haii, Lathesia.. Ada apa kau menelponku, hmm?". Ucap Berli lembut.
"Berli, apakah malam ini aku boleh berkunjung ke rumah mu?". Tanya Lathesia.
Sontak Berli merasa senang "Tentu saja. Kenapa tidak?. Aku akan sangat senang sekali". Balas Berli.
"Baiklah, kalau begitu. Malam ini aku akan datang". Ucap Lathesia di sebrang telepon
"Baiklah, aku tunggu ya".
"Baik. Sampai bertemu nanti Berli.. ". Ucap Lathesia hendak menutup telepon.
"Baiklah". Berli tersenyum.
__ADS_1
"Aku akan mencari tahu, sejauh mana kau akan melampauiku Berli!. Aku akan memisahkan kalian berdua, jika memang benar kau telah merebut Felix dariku!. Aku tidak terima dengan perlakuan mu!". Ucap Lathesia, saat setelah menutup telepon itu. Entah apa yang ia pikirkan, sehingga kini ia berubah menjadi musuh dalam selimut.