DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 145 - Makanan Sederhana


__ADS_3

Hari mulai gelap. Temaram lampu menemani sunyi malam ini. Gadis itu masih setia mengobati luka nya.


"Kenapa aku merasa bahwa mobil itu sengaja menyerempetku? Siapa sebenarnya yang berada di dalam mobil itu?. Ah tidak. Aku tidak boleh berprasangka buruk. Ya. Tidak apa apa, lagipula luka nya hanya luka kecil. Ah tapi tetap saja ini menghambat pekerjaanku. Tidak tidak.. Kau jangan cengeng Berli... ". Gumam Berli pada dirinya sendiri


Toktoktok,, ketukan pintu terdengar memecah kesunyian


"Siapa lagi yang datang..". Gumam Berli sambil berjalan terpogoh pogoh ke ambang pintu


"Assalamualaikum.. ". Suara dingin itu kembali terdengar.


"Felix.. Ka.. U..?". Berli terkejut melihat kedatangan Felix yang tiba tiba


"Masuklah.. ". Ucap Berli mempersilahkan Felix masuk. Namun Felix merasa janggal dengan cara berjalan Berli


"Kenapa kakimu? Apa yang terjadi?". Tanya Felix yang sebenarnya cemas


"Tidak apa apa. Tadi ada mobil yang tak sengaja menyerempetku.. Ini hanya luka kecil". Jawab Berli tersenyum


"Sudah di obati?". Tanya Felix


"Sudah.. ". Berli tersenyum


"Kau mau minum?". Tanya Berli saat Felix sudah duduk di kursi panjang rumah nya


"Tidak.. Kau duduk saja. Kau harus banyak beristirahat". Ucap Felix penuh perhatian


"Tidak apa.. Ini hanya luka kecil. Aku akan ambilkan.. ". Berli tersenyum dan bergegas pergi ke dapur.


'Apa Sherly yang melakukan ini? Tapi kenapa ia melakukan nya?. Atau mungkin Jovanka? Tidak mungkin. Tetapi siapa.. '. Batin Felix yang mulai memikirkan siapa pelaku yang menyerempet Berli


"Kau melamun?". Berli kembali dengan secangkir teh dan cemilan kecil di tangan nya


"Tidak. Kau tahu siapa yang menyerempetmu? Apa dia bertanggungjawab?". Tanya Felix penuh keingintahuan

__ADS_1


"Tidak. Pemilik mobil itu kabur. Untung saja disana banyak orang yang menolongku. Dan aku di antar pulang oleh seorang pria yang baru datang ke Indonesia. Sudahlah, aku baik baik saja". Jawab Berli penuh penerangan sambil tersenyum


"Aku menyesal tidak mengantarmu pulang. Jika saja ibuku tidak menelponku untuk segera pulang, kau pasti akan pulang bersamaku. Dan kejadian ini tidak akan pernah terjadi". Ucap Felix penug penyesalan


"Tidak apa apa Felix, ini sama sekali bukan salah mu. Aku yang ceroboh karena menghalangi jalan. Ibumu mungkin membutuhkan mu, kau harus bersyukur ibumu masih ada dan memperhatikan mu. Sedangkan aku, aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya di telpon ibuku". Ucap Berli. Hatinya begitu merindukan ibunya


"Terkadang semua tidak sebaik apa yang kau bayangkan. Kadangkala ia memaksakan kehendak nya kepada anak anaknya". Ucap Felix sambil mengingat kembali kata kata ibunya


"Apa kau sedang marah kepada ibumu sampai sampai kau mengatakan itu?. Mungkin terkadang ia terkesan memaksakan kehendaknya, tetapi Felix. Di dalam lubuk hatinya, ia hanya ingin anak anak nya bahagia. Mereka pasti menginginkan yang terbaik untuk anak anak nya. Ibumu pasti sangat menyayangimu kan? Aku bisa melihat itu darimu. Ibumu pasti sangat baik". Ucap Berli lembut


'Bahkan gadis yang kau benci dan kau hina habis habisan adalah yang paling menganggapmu wanita baik bu. Ia begitu tulus. Kenapa harus harta yang menjadi acuan?'. Felix membatin mengingat kejadian sore tadi


"Ekhm.. Lagi lagi kau melamun". Ucap Berli tertawa renyah membuyarkan lamunan Felix


"Tidak.. Aku hanya sedang berpikir". Ucap Felix mengalihkan


"Apa yang kau pikirkan hm?". Tanya Berli sambil menopang dagu penuh selidik. Ia hanya berniat untuk bercanda


"Memikirkan mengapa kau belum memberiku jawaban untuk kejelasan perasaanku". Ucap Felix tersenyum tipis membuat Berli kalut


"Ya sudah. Kau bisa mengatakan nya nanti setelah kau sudah memikirkan nya dengan matang". Ucap Felix


"Baiklah.. ". Ucap Berli segan


"Felix, apa kau sudah makan?. Aku sudah memasak, barangkali kau lapar". Ucap Berli menawarkan masakan nya. Entah mengapa ia melihat Felix seolah rapuh hari ini


"Apa kau peramal?". Jawab Felix


"Maksud mu?". Berli bingung


"Kau tahu aku lapar. Maka dari itu kau menawariku makan. Tentu saja aku ingin makan masakanmu. Aku merindukan masakanmu". Ucap Felix tersenyum. Hatinya menjadi sumringah saat menemui Berli. Padahal sebenarnya ia datang hanya untuk melepas gundah di hatinya.


"Haha.. Kau ini. Ya sudah, aku akan membawa makanan nya kesini". Ucap Berli yang hampir beranjak dengan kakinya yang terpogoh pogoh

__ADS_1


"Tidak. Kau duduk saja. Biar aku yang mengambilnya. Tunjukan saja dimana tempat nya". Ucap Felix yang langsung ikut beranjak


"Di dapur, di atas meja. Maaf merepotkan mu Felix.. ". Ucap Berli kembali duduk


"Bukan apa apa". Ucap Felix yag segera membawa makanan itu ke meja depan. Ia membawa nasi dan lauk yang sudah Berli masak tadi. Tak lupa ia membawa piring dan air minum untuk mereka berdua.


"Sepertinya ini enak.. ". Ucap Felix saat membuka wadah sayur yang di masak Berli


Meskipun hanya dadar telur, dan sayur sawi yang terkesan sederhana. Namun Felix benar benar menyukainya.


"Itu hanya sayur sawi biasa Felix, bukan makanan mahal yang enak. Aku hanya memasak ini tadi". Ucap Berli tersenyum


"Kau memasak dengan keadaan kakimu seperti itu?". Tanya Felix


"Tidak apa apa.. Sebentar lagi aku akan sembuh". Ucap Berli


"Ayo. Makan lah.. Aku tidak tahu apa ini enak atau tidak. Jika kau tidak menyukainya aku akan memasak yang lain". Ucap Berli sambil menyuguhkan telur dadar yang berada di piring kecil itu. Benar benar menu yang sangat sederhana


Felix langsung menuangkan nasi dan lauk itu ke piring nya. Dengan lahap ia langsung meyantap nya


"Ini sangat enak.. ". Ucap Felix memuji


"Aku pikir kau tidak terbiasa memakan makanan seperti ini". Ucap Berli


"Tidak. Aku lebih menyukai makanan sederhana seperti ini". Ucap Felix yang menyantap lahap makanan nya sampai tandas


"Habiskan saja.. Aku sudah kenyang". Ucap Berli


"Ternyata kau pintar memasak". Ucap Felix sambil meminum air yang berada di dalam teko kecil itu


"Jika aku tidak bisa memasak, aku akan memakan apa?. Kau ini Felix.. Aku tidak terbiasa makan makanan di luar. Jadi aku harus bisa memasak, dan jika kita memasak sendiri, pasti akan lebih hemat bukan? lagipula ini hanya masakan biasa". Ucap Berli tersenyum


"Aku suka gaya hidupmu yang sederhana". Ucap Felix kembali memuji

__ADS_1


"Lagipula tidak baik menghambur hamburkan uang". Ucap Berli


'Wanita sesederhana ini. Mama justru ketakutan karena hidup nya yang sederhana akan membuat harta nya habis. Aku benar benar tidak mengerti dengan pikiran mama. Mama salah menilai Berli. Berli benar benar wanita baik yang di idamkan semua pria. Aku akan memperjuangkan nya. Tidak peduli siapapun menghalangiku'. Felix membatin sambil menatap lekat wajah cantik Berli


__ADS_2