
Kini waktu yang di tunggu tunggu telah tiba. Saat ini jam kerja sudah berakhir, tanpa menunggu lama Felix langsung tancap gas untuk mendatangi kediaman pujaan hatinya.
Hampir saja ia terjebak. Awalnya ia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu ke rumah, namun saat ia membuka ponselnya, ia mendapat pesan singkat dari Romi bahwa ada Jovanka di rumahnya.
"Syukurlah aku sempat membuka ponsel. Jika tidak aku pasti akan terjebak dalam keadaan. Mumpung masih sore hari, aku harus cepat cepat menemui Berli". Gumam Felix. Ia segera bergegas menemui Berli
......................
"Setidaknya jika Felix mengajakku keluar, aku hanya tinggal mengganti pakaian. Jadi Felix tidak akan menunggu lama". Gumam Berli menatap bayang wajahnya yang terpantul di cermin. Ia memoles sedikit bibirnya dengan lipstik berwarna soft, dan sedikit riasan mata yang tak menghilangkan kecantikan aslinya.
Ia hanya menggunakan celana longgar panjang dan kaus panjang serta kerudung instan. Ia masih menggunakan pakaian rumahan karena ia berpikir belum tentu Felix akan mengajaknya pergi ke luar.
Kringg,,, tiba tiba ponsel Berli berbunyi, tanda ada panggilan masuk. Dengan sigap ia langsung membukanya karena ia pikir itu adalah panggilan dari Felix
"Hai Berli.. Sedang apa?". Tanya wanita itu di sebrang telpon
"Aku.. Sebenarnya aku sedang bersiap saja. Sebentar lagi dia akan datang". Jawab Berli malu malu
"Hemm.. Jadi kau akan berkencan ya? Aku tahu. Saat ini pipimu pasti merah". Ucap Lathesia terkekeh
"Kau membuatku malu Lathesia.. ". Balas Berli penuh senyuman
"Berli, sebenarnya ibuku sangat ingin kau datang ke rumah. Kita akan makan bersama disini. Entah waktunya kapan, terserah padamu. Kapanpun itu kau harus mau ya". Ucap Lathesia penuh permohonan di sebrang telpon
"Begitu ya.. Baiklah begini saja. Aku akan melihat waktu yang tepat untuk datang ke rumahmu. Nanti jika aku sudah menemukan waktunya, aku pasti akan datang". Jawab Berli lembut
__ADS_1
"Kau berjanji kan?. Atau kau ajak saja suami mu datang kemari. Itu akan seru bukan". Lathesia terkekeh menggoda Berli dengan menekan nada bicaranya
"Lebih tepat lagi, baru bisa di katakan calon". Jawab Berli yang pipinya memerah
"Sama sama akan menjadi suami bukan?". Balas Lathesia penuh senyuman di sebrang telpon
"Aamiin.. Semoga saja". Balas Berli
Toktoktok,, tiba tiba terdengar ketukan pintu. Tentu saja membuat pembicaraan mereka terhenti
"Emm.. Lathesia. Sepertinya dia sudah datang. Aku akan menghubungimu lagi nanti ya". Ucap Berli hendak menutup telpon
"Baiklah. Sampaikan salamku padanya juga ya. Dan jangan melupakan janjimu untuk datang kemari". Jawab Lathesia penuh semangat di sebrang telpon
"Baiklah. Aku tutup ya. Aku tidak akan menggaggu pasangan yang sedang berkencan". Ucap Lathesia terkekeh sambil menutup telpon
"Haha.. Baiklah. Dahh...". Pamit Berli. Ia langsung bergegas membuka pintu karena sejak tadi pintu itu tak berhenti di ketuk
"Akhirnya di buka juga. Mengapa lama sekali hm?". Felix mencubit hidung Berli sambil menggodanya
"Ihh Felix.. Tadi aku sedang mengangkat telpon". Balas Berli sambil mengusap hidung nya
"Ya sudah. Apa aku boleh masuk nyonya? Rasanya aku lelah sekali". Felix tertawa renyah
"Ah iya aku lupa. Ayo masuklah. Aku akan membuatkanmu minuman". Berli mempersilahkan Felix masuk dengan penuh senyuman
__ADS_1
Felix duduk di sofa panjang yang sudah menjadi tempat ternyaman baginya. Sementara Berli tengah membuatkan teh untuk pria pujaan hatinya itu.
Beberapa menit kemudian, Berli datang dengan segelas teh hangat yang ia buatkan khusus untuk Felix
"Terimakasih nyonya". Felix menggoda Berli dengan canda nya
"Ish. Kau ini". Balas Berli mencubit lengan Felix. Pipinya kembali merona
"Kau baru pulang dari pabrik dan belum pulang ke rumah?". Tanya Berli penuh selidik.
"Iya. Aku merindukan kekasihku dan tak sabar ingin menemuinya". Balas Felix terkekeh
"Jadi sekarang kau sudah bisa menggombal ya?". Berli kembali mencubit lengan Felix sampai meringis
"Aw.. Sudah sudah. Aku hanya bercanda. Tetapi jangan di anggap tidak serius". Jawab Felix terkekeh
"Begitu ya". Berli mengerucutkan bibirnya sambil menahan tawa
"Apa wanita cantik ini marah?". Felix menatap tajam manik mata wanita cantik itu
"Kau merindukanku kan hanya bercanda. Jadi aku marah". Balas Berli seolah anak anak yang sedang marah. Namun ia hanya berniat untuk membalas candaan Felix
"Tidak. Aku memang benar benar merindukan kekasihku. Tetapi sekarang ia sudah berada di depan mataku, ia sangat cantik. Dan aku sangat menyukainya". Felix tersenyum penuh cinta dan mengatakannya dengan penuh ketulusan sambil mengecup lembut punggung tangan Berli
"Felix.. Kau membuatku malu". Berli merona seraya menutup matanya. Felix langsung membawanya dalam rangkulan nya. Perasaan nyaman itu kini hadir di antara mereka berdua.
__ADS_1