
"Sayang, kau tidak jadi berangkat?". Ucap Bu Yuni yang melihat Lathesia masih ada di kamar nya.
"Aku sedang menunggu kabar dari Tante Inez. Jika tante Inez mengabari Felix ada dirumah, maka aku akan pergi". Ucap Lathesia.
"Begitu ya. Ya sudah..". Ucap Bu Yuni tersenyum. Meskipun terkadang ia merasa iba kepada putrinya yang begitu menginginkan apa yang belum tentu kembali menjadi miliknya.
......................
Tingg,, Bel berbunyi tanda ada seseorang yang akan datang di rumah megah nan mewah itu.
"Itu pasti mereka. Biar aku yang buka.. ". Ucap Romi yang begitu antusias. Bu Inez hanya melihat nya dari jauh dengan tatapan tajam ke arah ambang pintu.
"Kakak?. Aku senang sekali". Sambut Romi.
"Wahhh.. Kakak, cantik sekali. Perkenalkan aku Romi, adik kak Felix. Aku sangat berhutang budi kepada kakak". Ucap Romi mengulurkan tangan nya kepada Berli untuk berkenalan.
Berli membalas jabatan tangan dari Romi, sedangkan tangan kiri nya masih erat di genggam oleh Felix. Felix seolah tak ingin melepasnya meskipun di hadapan orang lain.
"Aku Berli. Romi, senang bisa kembali bertemu denganmu lagi. Kau sangat baik". Ucap Berli tersenyum ramah.
"Boleh kami masuk tuan?. Atau masih ada wawancara lain?". Ucap Felix membuat Romi dan Berli terkekeh.
"Maafkan aku kak. Aku terlalu antusias sampai lupa mempersilahkan kalian masuk. Silahkan masuk, kakak kakak ku yang tampan dan cantik". Ucap Romi memberi jalan.
Berli melangkahkan kaki nya untuk semakin masuk ke rumah megah itu, dengan tangan nya yang di genggam erat oleh Felix. Ia mengedarkan pandangan nya ke sekililing, betapa mewah nya semua barang-barang dan furnitur di rumah ini. Semakin di lihat, membuatnya semakin kalap.
"Duduklah, aku akan memanggil Ibuku". Ucap Felix mempersilahkan Berli duduk di sofa mewah nan empuk itu.
Padahal, sejak tadi Bu Inez sudah melihat kedatangan Berli dari kejauhan. Hati nya begitu bergemuruh dan panas. Ia benar-benar tidak suka Berli ada disini. Apalagi, menjadi calon istri dari putra sulung nya.
"Wanita miskin itu!". Umpat Bu Inez penuh kesal sambil mengepal kedua tangan nya. Namun, ia punya siasat lain untuk mengatasi semua ini.
"Felix datang, aku harus berpura-pura tidak tahu". Bu Inez langsung pergi ke kamar nya. Ia akan berlagak tidak tahu tentang kedatangan Berli.
Sesampai nya Bu Inez di kamar, ia berpura-pura tengah melakukan sesuatu. Tak berselang lama, Felix datang mengetuk pintu.
Toktoktok,,,
"Ma?. Apa Mama ada di dalam?". Ucap Felix mengetuk pintu.
"Ah iya sayang, masuklah.. ". Ucap Bu Inez penuh senyuman namun lain di hatinya.
"Ma, bisakah mama segera turun?. Dia sudah datang.. ". Ucap Felix berseri-seri.
"Oh ya?. Baiklah, lima menit lagi mama. turun ya sayang.. Kau tunggu di bawah". Ucap Bu Inez ramah.
"Baiklah.. ". Felix melenggang ke bawah untuk menemui Berli kembali.
Sedangkan Bu Inez tengah mempersiapkan drama bahagia di hadapan Felix.
__ADS_1
"Aku akan berpura-pura menerima nya di depan anakku. Sementara nanti, aku akan memaksanya untuk meninggalkan anakku!". Ucap Bu Inez penuh kebencian. Padahal, Berli tidak pernah mempunyai masalah apapun dengan nya. Hanya saja, Berli terlahir dari kalangan biasa. Bukan keluarga terhormat dan kaya raya seperti dirinya.
"Silahkan di minum Non.. ". Ucap Bi Esin menyodorkan teh hangat untuk Berli dengan ramah.
"Terimakasih ya, tapi tidak perlu memanggilku Nona, panggil saja Berli.. ". Ucap Berli ramah. Ia merasa tidak pantas di panggil dengan panggilan demikian.
"Tidak non, sebentar lagi kan nona juga akan menjadi majikan saya. Saya harus menghormati nona". Ucap Bi Esin.
"Tentu saja, kami kan akan segera menikah bi.. ". Ucap Felix yang tiba-tiba datang dan menyahut.
"Felix.. ". Berli tersipu malu.
"Tentu saja Tuan, jangan menunggu lama lagi. Nona Berli sangat cantik, nanti khawatir ada yang mendahului tuan". Ucap Bi Esin.
Felix terkekeh "Bi Esin ini"
"Kalau begitu bibi ke dapur ya. Sebentar lagi makan malam nya siap". Ucap Bi Esin berpamitan
"Baik, terimakasih bi.. ". Ucap Berli ramah.
"Kakak, ceritakan bagaimana bisa kakak bertemu kak Felix?. Lalu bagaimana bisa kakak menyukai kak Felix?". Ucap Romi yang entah mengapa begitu penasaran. Padahal, Berli masih malu-malu.
"Sttt, diam kau anak kecil. Tidak boleh tahu kisah cinta orang dewasa". Sahut Felix terkekeh. Ia langsung menempati tempat duduk tepat di samping Berli.
"Yaaahh.. Kakak.. ". Ucap Romi. Membuat Berli dan Felix terkekeh.
Tak berselang lama, Bu Inez pun datang dengan senyuman yang merekah di wajahnya.
Ternyata benar, Felix adalah putra dari Bu Inez, pemilik perusahaan yang ia singgahi sekarang.
"B.. Bu.. Inez?". Gumam Berli terbata. Ia kembali gugup. Tangan nya bergetar tak karuan.
"Bukankah kita pernah bertemu?. Kau cantik sekali.. ". Ucap Bu Inez yang berjalan ke arah nya.
Bu Inez mendekatinya. Berli berdiri, dan bersalaman dengan Bu Inez.
"Kau gugup sayang, tenanglah.. ". Ucap Bu Inez yang merasakan tangan gemetar Berli. Ia bergabung duduk di sofa itu.
"I.. Iy.. a". Berli kembali duduk. Perasaan nya campur aduk. Mengapa Felix tidak pernah memberitahunya soal ini. Hal ini akan menjadi pertanyaan besar untuk nya nanti.
'Orang miskin!. Kau akan menyesal sudah datang kesini anak nakal'. Bu Inez membatin.
"Ma. Aku ingin menikahi Berli secepatnya". Ucap Felix lantang. Membuat perasaan Berli seperti naik roller coaster. Bagaimana tidak?. Gugup nya saja belum hilang, tetapi Felix sudah menambah kegugupan nya lagi.
"Memang nya kau sudah siap nak?. Apa ini tidak terkesan buru-buru?". Ucap Bu Inez lembut.
"Tidak ma. Aku sudah memikirkan ini baik-baik. Lagipula aku tidak ingin berpacaran terlalu lama". Balas Felix tegas.
"Waaahh.. Kakak hebat sekali". Sahut Romi
__ADS_1
"Lalu Berli, memang nya kau sudah siap untuk menikah?". Ucap Bu Inez yang mengarahkan pandangan nya ke arah Berli.
"Insyallah.. Aku.. Siap Nyonya". Ucap Berli terbata. Ia memang terkejut saat Felix berkata to the point. Tetapi jika memang itu keinginan Felix, Berli juga akan siap.
"Sayang, jangan memanggil Ibuku Nyonya. Panggil Ibuku dengan sebutan Mama. Ya?". Ucap Felix sambil mengalungkan lengan nya ke pundak Berli.
'Aku benci ini!. Dia sudah mengandalikan putraku!. Aku sangat jijik jika dia akan memanggilku dengan sebutan itu'. Bu Inez membatin.
"Oh ya. Panggil saja aku Mama ya..". Ucap Bu Inez
'Ternyata Bu Inez baik sekali. Ia menerimaku. Semoga ini adalah awal yang baik Ya Allah'. Batin Berli. Ia begitu senang karena ada seseorang yang bisa ia panggil Mama.
"Baik. Mama.. ". Ucap Berli segan.
"Wahhh.. Lalu kapan rencana pernikahan kakak?". Sahut Romi.
"Menurutmu Rom?". Jawab Felix kembali bertanya.
"Satu atau dua tahun lagi?. Sepertinya tidak". Ucap Romi dengan wajah berpikir.
"Dua bulan lagi". Ucap Felix lantang. Membuat semua terkejut. Apalagi Bu Inez yang tengah meneguk teh, ia langsung tersedak.
Uhukk,, uhukk..
Bu Inez tersedak. "Ma, pelan-pelan". Ucap Romi.
"Nak, itu terlalu terburu-buru sayang. Memang nya kau tidak ingin bertunangan terlebih dahulu?". Ucap Bu Inez yang bermaksud untuk mengulur waktu.
"Tidak. Aku tidak ingin bertunangan". Ucap Felix. Ia memang trauma dengan prosesi itu. Maka dari itu, kali ini ia mengambil langkah tegas.
"Lagipula tabunganku sudah cukup untuk acara yang akan kita gelar, aku rasa tidak ada yang harus di tunda lagi". Ucap Felix mengarahkan pandangan nya ke arah Berli. Ia kembali menggenggam tangan Berli.
'Aku benci wanita ini! Aku benci!'. Batin Bu Inez. Ia begitu membara saat melihat putra nya begitu mesra di hadapan nya.
"Felix, Ibumi benar. Itu terlalu terburu-buru". Ucap Berli
"Tidak sayang. dua bulan cukup untuk mempersiapkan semua nya". Ucap Felix.
"Nak, jangan seperti itu. Pikirkan juga Berli, apakah dia sudah benar-benar siap dengan jangka waktu yang dekat ini atau tidak". Sahut Bu Inez.
"Oh ya, apa orangtua mu tahu, kalau kau akan segera menikah?". Tambah Bu Inez kepada Berli.
"Maaf Ma. Tetapi aku adalah seorang yatim piatu. Aku juga bukan orang berada seperti Mama". Ucap Berli menunduk.
"Ah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud sayang. Harta bukanlah segala nya. Kau jangan menghiraukan itu". Ucap Bu Inez. Yang lain di hatinya.
Felix tersenyum mendengar Ibunya begitu menyetujui keputusan nya, dan menerima Berli apa adanya.
"Tidak apa-apa Ma". Ucap Berli tersenyum.
__ADS_1
'Wanita miskin ini, yatim piatu, hidup sebatang kara. Apa yang bisa di harapkan dari dia?. Dia hanya akan menghabiskan seluruh kekayaanku tanpa menghasilkan apa apa. Jangankan dua bulan, kalian bahkan tidak akan pernah menikah'. Batin Bu Inez.
Sementara Berli merasa sangat senang. Kini, ia akan memiliki keluarga baru yang bisa menerimanya. Meskipun, ternyata semua ini adalah tipuan belaka dan masih ada pertanyaan di hatinya tentang Felix.