DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 61 - Sembunyi


__ADS_3

"Begini nak David, jika memungkinkan sepertinya saya akan menyerahkan tanggung jawab perusahaan pada putra sulung saya. Ia sudah menyelesaikan study nya di luar negeri. Tapi, dia belum memutuskan apa bersedia atau tidak. Jika mungkin dia bersedia, maka secepatnya saya akan menyerahkan perusahaan saya. Semakin hari umur saya semakin tua, tenaga saya juga berkurang, mungkin jika perusahaan sudah di teruskan oleh putra saya, saya tidak akan khawatir. Saya minta tolong jika nanti itu terjadi, bantu bimbing anak saya ya".


Ucap Bu Inez penuh permohonan pada David


Setelah berbincang lama mengenai masalah perusahaan Bu Inez, ia memang langsung berfikir bahwa perusahaan nya harus di pindah tangankan kepada putra sulung nya yang tak lain adalah Felix


"Permisi bu, saya ingin mengantarkan air untuk tamu ibu". Ucap seseorang memotong pembicaraan mereka


"Silahkan masuk bi, kemana Jovanka?". Tanya Bu Inez yang tak melihat Jovanka kembali


"Nyonya Jovan sedang menelpon bu, jadi saya yang antarkan". Jawab Bi Esin. Jovanka memang sengaja mencari kesibukan agar tidak bertemu lagi dengan David


'Itu pasti alasan saja agar tidak bertemu lagi denganku haha'. Batin David


"Baiklah bi, terimakasih. Nak David lanjutkan". Ucap Bu Inez. Dan Bi Esin berlalu pergi


"Tentu saja bu, dengan senang hati saya akan membantu anak ibu. Jika berkenan, apa saya bisa bertemu dengan anak ibu sekarang?". Jawab David ramah. Ia memang belum mengetahui bahwa putra sulung Bu Inez adalah Felix


"Tentu nak. Romi.........". Jawab Bu Inez lalu memanggil Romi untuk memastikan Felix sudah pulang atau belum. Karena sedari tadi Bu Inez belum bertemu dengannya


"Kau di panggil mama". Ucap Felix


"Iya, aku akan segera kesana". Jawab Romi yang mulai melenggangkan kaki nya


"Romi, tunggu". Felix menahan langkah Romi


"Ada apa kak?". Tanya Romi


"Kalau mama menanyakan aku, katakan saja bahwa aku tidak ada di rumah". Ucap Felix yang mempunyai firasat bahwa ia akan di pertemukan dengan David


"Baiklah kak, tapi kenapa?". Balas Romi


"Kau katakan saja. Nanti ku beritahu". Jawab Felix


Romi pun bergegas pergi ke kamar ibunya yang tak jauh dari kamarnya.

__ADS_1


"Iya, ada apa ma?". Ucap Romi yang sudah berada di ambang pintu kamar ibunya.


"Apa kakak mu sudah pulang?". Tanya Bu Inez


"Tidak ma, kakak belum pulang". Jawab Romi berbohong


'Apa yang kakak lakukan, aku jadi harus membohongi mama'. Batin Romi


"Baiklah, jika kakak mu pulang, tolong minta dia kesini ya nak". Ucap Bu Inez tersenyum


"Baik ma, Romi kembali ke kamar ya". Ucap Romi dan langsung bergegas kembali ke kamarnya.


"Nak David, maaf ternyata anak saya belum pulang. Jika nanti dia ada waktu luang, saya akan memperkenalkan nya pada nak David dan nak Aditya". Ucap Bu Inez ramah


"Ah iya bu, tidak apa apa. Lain kali saja kami berkenalan. Mungkin kami juga harus segera pulang, karena hari sudah mulai petang. Itu saja yang kami ingin bicarakan bu, sekali lagi maaf kami mengganggu waktu istirahat ibu". Ucap David berpamitan


"Kenapa harus terburu buru nak, tinggal lah saja beberapa menit lagi". Jawab Bu Inez


"Tidak bu, ibu harus banyak beristirahat agar cepat pulih. Kami pun masih harus mengerjakan pekerjaan yang kami bawa ke rumah". Jawab David ramah. Aditya hanya tersenyum


"Bukan apa apa bu, kalau begitu kami pamit.. Assalamualaikum". Ucap David ramah menyalami tangan Bu Inez


"Saya pamit ya Bu, assalamualaikum". Ucap Aditya menyalami tangan Bu Inez


"Baiklah, hati hati ya nak". Balas Bu Inez tersenyum. Aditya dan David pun berlalu pergi


......................


"Apa? Jadi begitu ya hahahah". Ucap Romi terkekeh saat mendengar penjelasan kakak nya. Felix memang sudah menjelaskan tentang alasannya tidak ingin memenuhi panggilan ibunya


"Kau tidak perlu tertawa bocah cilik". Jawab Felix mengacak rambut Romi


"Baiklah kak, temui mama sekarang, dia pasti sudah pergi hahah". Ucap Romi yang tak berhenti tertawa


"Lama lama aku bisa naik darah jika banyak bicara dengan mu". Ucap Felix sambil berlalu pergi ke kamar ibunya

__ADS_1


"Tante, sepertinya Jovan harus pulang sekarang". Ucap jovanka berpamitan setelah memastikan David sudah pergi


"Ah iya, sayang terimakasih sudah menemani tante ya". Ucap Bu Inez berterimaksih


"Sama sama tante. Sampai nanti ya tan". Ucap Jovanka merangkul Bu Inez


"Iya sayang". Bu Inez membalas


"Felix, aku pamit ya.. Sampai nanti". Ucap Jovanka saat berpapasan dengan Felix di ambang pintu


"Ya". Balas Felix tak peduli


'Menyebalkan'. Batin Jovanka sambil berlalu pergi


......................


"Bagaimana hari pertama mu di kota ini nak?". Ucap Pak Ardito yang tak lain adalah ayah kandung Prianka


"Hari ini menyenangkan ayah, aku bertemu dengan teman temanku". Jawab Prianka semangat


"Teman, atau teman hm?". Ucap Pak Ardito penuh senyuman


"Iya ayah, Prianka hari ini bertemu dengan mantan pacar Prian. Ayah ingat Romi kan?". Jawab Prianka menjelaskan


Prianka memang dekat dengan ayahnya. Ia selalu terbuka dan membicarakan masalah pribadinya pada sosok ayah yang selalu mendukungnya, karena ia sudah tidak memiliki sosok ibu yang bisa mengerti perasaannya.


"Romi yang tampan dan tinggi itu?". Jawab Pak Ardito tersenyum tipis


"Iya ayah, sekarang Romi menjadi lebih tampan. Tadi aku pergi ke rumahnya untuk menjenguk ibunya. Ibunya sedang sakit ayah". Ucap Prianka


"Kau masih mencintainya?, sampai sampai kau peduli pada ibunya hahah". Jawab Pak Ardito tertawa tipis


"Ya begitulah". Jawab Prianka


"Jika dia yang membuatmu bahagia, ayah akan mendukungmu nak. Semoga kalian bisa bersama kembali. Kejarlah dia, tapi jangan sampai menghilangkan fitrah mu sebagai wanita ya sayang?". Ucap Pak Ardito mengelus kepala Prianka lembut

__ADS_1


"Baik ayah". Balas Prianka berhambur ke pelukan ayahnya.


__ADS_2