
Romi mengacu mobil nya dengan kecepatan tinggi. Pikiran nya sudah sampai disana. Ia sama sekali tak memikirkan resiko dari tindakan nya ini.
"Prianka, tunggu aku". Guman Romi.
......................
"Felix, kenapa terburu-buru?. Bukankah kita akan makan siang bersama?". Ucap Berli yang tiba-tiba berpapasan dengan Felix di koridor.
"Maafkan aku sayang, ada hal yang mendesak. Aku akan kembali nanti, doakan aku". Ucap Felix, mengusap kepala Berli lalu kembali berlari di koridor.
"Felix, ada apa..?". Berli berteriak. Untung saja tidak ada yang menyadarinya.
"Ada apa?. Masalah apa yang ingin Felix selesaikan?. Kenapa berbicara seperti itu?. Apa semua baik-baik saja..?". Berli ikut cemas. Tidak biasanya Felix berpamitan dengan nada seperti itu.
......................
"Romi tidak bisa di hubungi Neel. Bagaimana jika Romi sudah sampai disana?". Ucap Adelard. Ia dan Neel memang tengah menyusul Romi. Meskipun, Romi melarang nya, mereka tetap khawatir.
Mereka berusaha menghubungi Romi, berharap tindakan ini bisa sedikit mengulur waktu. Karena mereka berdua terjebak kemacetan.
"Jalanan juga macet. Aku pikir Romi juga belum sampai ke tempat itu. Semoga saja, kita yang sampai terlebih dahulu". Balas Neel.
"Aku juga berharap seperti itu". Ucap Adelard.
"Lalu bagaimana dengan Kak Felix?". Ucap Neel
"Entahlah, Kak Felix juga tidak mengangkat telepon nya sejak tadi". Balas Adelard. Yang memang, sejak tadi berusaha menghubungi Felix.
......................
Matahari mulai naik. Sementara Prianka masih tergeletak di atas batuan itu, di bawah teriknya matahari
"Panas sekali. Aku tidak tahan lagi". Prianka membatin. Ia mulai lemas, merasakan haus dan terik matahari seolah mengguyur badan nya.
"Lihatlah pangeran yang akan menyelamatkanmu sudah datang". Ucap Bryan. Sontak Prianka melihat ke arah kedatangan Romi. Ia membelalak. Dan mulai berkata "Pergiiii". Meskipun tak jelas terdengar, ia berusaha meronta. Memberi isyarat agar Romi tidak mendekat ke arah Bryan.
"Prianka.. ". Romi terkejut melihat keadaan Prianka. Emosi nya mulai tak terkendali.
__ADS_1
"Lepaskan Prianka!". Pungkas Romi penuh penekanan.
"Itu mudah saja, tetapi berikan dulu apa yang aku inginkan". Ucap Bryan menyeringai.
Romi melempar koper itu, dan langsung di raih oleh Bryan
"Aku sudah membawa apa yang kau inginkan. Dan kau juga harus mengabulkan apa yang aku inginkan. Sekarang juga, izinkan aku menemui Prianka!". Ucap Romi penuh penekanan.
"Padahal aku baru saja ingin memulai permainan ini. Tetapi, kau malah ingin mengakhirinya. Baiklah, lagipula aku sudah lama menjemurnya di bawah matahari. Aku sangat iba padanya". Ucap Bryan terkekeh. Membuat emosi Romi cepat naik pitam.
Namun ia tak ingin bertarung, ia hanya memikirkan keselamatan kekasihnya itu. Setelah Bryan membuka jalan, Romi langsung menghampiri Prianka
"Prianka, kau baik-baik saja?". Romi melepaskan semua ikatan yang ada di tangan dan kaki Prianka. Ia membawa Prianka agar tak terlalu dekat ke bibir jurang. Karena, sebelum Romi datang, Bryan sengaja membawa Prianka dekat dengan bibir jurang.
Romi melepas semua tali yang mengikat erat pergelangan tangan Prianka, juga melepas kain yang membuat pernafasan nya terganggu.
Seketika Prianka langsung berhambur ke pelukan Romi, ia merasa beruntung karena Romi datang menyelematkan nya, namun di sisi lain ia takut Bryan akan mencelakakan nya.
"Romi, maafkan aku.. ". Prianka menangis tersedu. Tentu Romi memeluk erat gadis rapuh itu. Ia mengerti sakit yang Prianka alami.
"Kau akan baik-baik saja. Ada aku disini". Ucap Romi. Ia memeluk erat, merasakan bagaimana takutnya Prianka saat ini.
Bryan sedang menodongkan pistol ke arah belakang kepala Romi. Memang pada saat itu, Prianka masih memeluk Romi, dan Romi tidak menyadari itu.
"Apa kau merasakan ini?. Sekali aku menarik pelatuk nya, maka hidupmu akan berakhir". Ucap Bryan, sembari menekan ujung pistol yang sudah sangat melekat ke kepala Romi. Akhirnya Romi merasakan tekanan itu.
Prianka melepas pelukan nya, memohon kepada Bryan.
"Bryan, aku mohon.. Jangan lakukan, habisi aku saja. Romi bersalah". Ucap Prianka. Ia khawatir dengan keadaan Romi.
"Apa lagi yang kau inginkan Bryan?. Aku sudah menyerahkan uang itu ". Ucap Romi. Berusaha tenang, karena jika ia melawan, Bryan pasti tidak akan segan menembakan pistol itu.
"Apakah kau pikir aku akan percaya kepadamu begitu saja?. Aku yakin, setelah ini justru kau akan melaporkanku kepada polisi". Ucap Bryan.
"Setidaknya, aku tidak pernah menyerang musuhku dari belakang!". Tegas Romi. Bryan langsung menurunkan tangan nya dari kepala belakang Romi. Membiarkan Romi membalik badan.
Romi membalikan badan nya ke arah Bryan. Ia menatap lekat pria itu.
__ADS_1
"Bukankah yang kau inginkan sudah kau dapatkan?. Selicik itukah dirimu?". Tanya Romi tenang.
"Aku ingin kau menghilangkan bukti yang selama ini kau dan wanita jala*g ini kumpulkan!". Tegas Bryan. Ia ingin bukti yang telah Romi dan Prianka kumpulkan, di berikan kepada nya. Darah Romi mendidih, hampir kehabisan kesabaran dengan perilaku Bryan yang biadab ini.
"Aku tidak mempunyai bukti apapun. Karena kau sendiri yang merusak nya!". Ucap Romi.
"Aghh, kau berkata omong kosong!". Seketika Bryan menarik tangan Prianka, untuk kembali mendekat ke bibir jurang. Kini jarak Prianka dan jurang itu hanya tinggal beberapa senti. Bryan hanya menahan badan Prianka seadanya.
"Rooomiii.. ". Teriak Prianka. Saat melihat pemandangan mengerikan di depan nya.
"Prianka!". Sontak Romi berteriak.
"Jangan mendekat atau aku akan membunuh kalian berdua!". Ucap Bryan. Satu tangan menahan Prianka, dan satu tangan lain kembali menodongkan pistol ke arah Romi.
"Baiklah. Aku akan menyerahkan bukti-bukti itu". Ucap Romi. Ia memberikan ponsel yang ia gunakan untuk mendapatkan informasi terkait kejahatan Bryan tempo hari
"Romi, jangan berikan.. ". Teriak Prianka.
Romi tak mendengarkan permintaan Prianka. Ia meletakan ponsel itu di tanah, dan mengangkat kedua tangan nya.
"Bagus!". Ucap Bryan yang langsung membawa Prianka menjauh dari bibir jurang, dengan hempasan kasar.
Prianka kembali mendekat ke arah Romi.
"Aku sudah menuruti semua keinginan mu!. Uang yang kau minta, semua bukti yang kau inginkan, sudah ada di tanganmu. Sekarang, biarkan aku pergi!". Tegas Romi.
"Oh ya?. Tapi aku menginginkan lagi sesuatu. Bisakah kau memberikan nya kepadaku?". Ucap Bryan menyeringai.
"Apa lagi yang kau inginkan?!".
"Aku ingin kau mati!". Bryan kembali menodongkan pistol itu ke arah Romi dan Prianka. Sungguh, Bryan sangatlah licik.
"Tembak saja aku. Romi tidak bersalah sama sekali". Teriak Prianka.
"Kau benar-benar licik Bryan!". Tegas Romi.
"Ya, aku memang licik. Impianku untuk menghancurkan hidup kalian berdua akan seger terwujud. Kalian saling mencintai bukan?. Kalian akan hidup di neraka bersama-sama. Sekarang, bersiaplah untuk kematian". Bryan menyeringai. Ia mulai menarik pelatuk dan melepaskan nya tepat ke arah mereka berdua. Prianka dan Romi memejamkan mata nya. Suara itu bagaikan kilat, yang menyambar begitu cepat.
__ADS_1
DORRRR
Peluru itu berhasil melukai orang itu.