DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 272 - Memaksa


__ADS_3

Ozcan terbelalak saat mendapati seorang wanita di ambang pintu.


"Gulcin..?".


Gulcin mengarahkan pandangan nya ke sekitar. "Ozcan, Felix nerede?". (Ozcan, dimana Felix?".


"buraya ne için geldin? eve gidiyoruz". (Untuk apa kau datang kesini?, kami akan pulang).


Gulcin menerobos masuk. "Felix'le tanışmama izin ver". (Biarkan aku bertemu Felix".


Gulcin berhasil masuk. Felix dan Ozcan bertukar pandang. Ozcan hanya menggeleng dan menghela nafas. Tentu Felix mengerti.


"beni bırakacaksın". (kau akan meninggalkanku?. Ucap Gulcin, menatap tajam Felix.


Felix heran. "Ne demek istiyorsun" (Apa maksudmu?)


"Teklifimi düşünmelisin. bana geri döneceksin". (Kau harus mempertimbangkan tawaranku. Kau harus kembali kepadaku). Gulcin memaksa.


"Bu asla olmayacak". (Itu tidak akan pernah terjadi). Felix menatap tajam.


"Ben evleniyorum. sevdiğim kadınla". (Aku akan menikah dengan wanita yang ku cintai). Tambah Felix.


Gulcin kecewa, ia marah. "Beni hayal kırıklığına uğrattın!". (Kau membuatku kecewa!). Gulcin pergi dengan tergesa.


"Felix, apa maksud nya?". Ozcan mengernyit heran.


"Ntah, aku tidak pernah memberinya harapan. Ia sendiri yang membuat diri nya kecewa. Aku jadi semakin tidak betah berada disini terlalu lama". Felix kembali berkemas. Rasa nya ingin cepat cepat kembali ke tanah air, untuk menemui keluarga dan gadis yang di cintai nya.


......................


Menit demi menit berganti, siang kini menjadi malam. Sudah saat nya Felix kembali terbang ke Indonesia, tempat asal nya.


"Terimakasih Ozcan. Kau sangat membantuku. Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika kau tidak ada". Felix hendak berpamitan. Ya, ia kembali ke Indonesia seorang diri. Sementara, Ozcan masih harus tinggal disini untuk beberapa urusan.

__ADS_1


"Tidak perlu seperti itu. Kita sudah seperti saudara. Aku akan membantu mu selagi diriku bisa. Hati-hati di jalan Felix"


Felix mengangguk. Ia melenggang untuk menaiki pesawat yang akan mengantar nya pulang.


Felix sudah sampai di kabin pesawat, ia duduk tepat di dekat jendela. Ia menyandarkan punggung nya disana. "Akhirnya kita akan bertemu. Aku sangat merindukanmu. Banyak hal yang sudah ku lewatkan bersamamu". Gumam Felix. Ia tersenyum membayangkan ekspresi Berli yang terkejut jika melihat ia tiba-tiba datang.


"Aku tidak akan mengabarinya. Aku akan membuat kejutan untuknya". Felix tak ingin memberitahu Berli tentang kepulangan nya. Ia sengaja ingin membuat Berli terkejut.


......................


"Ma?. Bukankah kakak akan pulang hari ini?". Ucap Romi.


"Tentu saja sayang. Kakak mu pasti akan sampai esok pagi". Bu Inez sumbringah.


"Hmm, lalu?. Apakah mama sudah mengabari Kak Berli?. Ia pasti ingin menjemputnya di bandara".


Seketika Bu Inez merasa kesal. "Itu tidak perlu, biarkan saja. Pada akhirnya mereka akan bertemu setelah kakak mu pulang kan".


Romi hanya mengangguk. Ia melenggang ke kamar nya.


......................


"Apakah aku sudah siap, jika harus jauh dari Felix?. Jika Felix mengetahui semua nya, apakah ia akan mempercayai ku lagi?. Kepada siapa lagi aku harus berlari?". Berli masih merenungi nasib nya.


Toktoktok,, suara ketukan pintu terdengar.


"Itu pasti David. Aku tidak mau bertemu dengan nya". Berli diam, ia tak beranjak membuka pintu.


"Berli, kau ada di dalam?". Suara wanita itu lirih. Berli tahu persis pemilik suara ini.


"Lathesia..?". Berli memperbaiki muram wajah nya. Ia beranjak untuk membuka pintu. Tentu karena Lathesia yang datang.


"Haii". Lathesia memeluk Berli, saat Berli membukakan pintu untuk nya.

__ADS_1


Berli membalas pelukan itu penuh senyuman. "Lathesia, ayo masuk".


Lathesia masuk, dan duduk di kursi andalan nya.


"Berli, maaf ya.. Saat kau datang ke rumahku, aku tidak bisa menemuimu. Saat itu aku sedang ingin sendiri". Ucap Lathesia berpura-pura menyesal


Berli tersenyum. "Aku mengerti Lathesia. Itu sama sekali tidak masalah".


Lathesia menyodorkan sebuah kantong berisi makanan dan jus. "Ah iya, aku membelikan ini untukmu.. Ini sebagai tanda permintaan maaf ku kemarin"


"Lathesia, itu sama sekali tidak perlu."


Lathesia memaksa. "Terima lah, atau aku akn sedih nanti".


Berli tersenyum. "Baiklah, terimakasih Lathesia".


"Ah ya, Berli kau tidak pergi bekerja?". Lathesia berpura-pura tak tahu.


"Aku sedang kurang fit. Jadi aku mengambil cuti".


'Kau pasti sangat tersiksa, wanita bodoh'. Lathesia membatin.


"Apa kau sakit? Aku akan mengantarmu ke dokter". Lathesia kembali berpura-pura.


Berli tersenyum. "Tidak sama sekali. Aku hanya butuh istirahat sehari"


"Baiklah, Berli.. Maaf. Aku masih ada urusan, jadi aku tidak bisa berlama-lama disini. Meskipun sebenarnya aku masih ingin tinggal". Lathesia berpamitan.


Berli tersenyum. "Baiklah Lathesia, semoga urusanmu lancar. Kau bisa datang kemari kapanpun kau mau".


"Ya sudah, aku pergi.. Sampai nanti Berli.. Dahh".


"Dahh".

__ADS_1


Lathesia melenggang, memasuki mobil nya dan hendak pergi.


"Aku hanya ingin melihat senyuman terakhirmu Berli. Biar saja hari ini kau bisa tersenyum, dan menikmati makanan itu. tetapi besok.. Ck, sayang nya, kau kurang beruntung". Gumam Lathesia. Penuh kepuasan.


__ADS_2