
"Malam ini Romi akan datang, aku harus menyiapkan camilan untuknya, Romi kan spesial hehe". Gumam Prianka saat sedang menyiapkan untuk acara doa bersama di rumahnya
"Ayah, apa kau bahagia saat melihat anakmu ini bahagia?, ayah bilang Romi adalah pria yang tepat, dan ternyata ayah benar. Aku sangat mencintai Romi ayah, dan putrimu ini akan melaksanakan semua harapan ayah dulu. Ayah yang tenang disana, semoga ayah di berikan tempat yang paling indah di sisiNya. Prianka anak kuat ayah, Prianka mengikhlaskan ayah. Suatu saat nanti kita akan bertemu kembali dan berkumpul kembali. Ibu dan ayah pasti sekarang sedang bersama kan? Suatu saat nanti kita akan berkumpul kembali. Prianka akan selalu mendoakan kalian.. Ayah dan ibu yang tenang disana". Gumam Prianka saat melihat foto keluarga yang terpajang indah di dinding itu
......................
"Aku harus pergi. Maafkan aku Berli, aku memang mencintaimu. Tapi aku tidak pantas untukmu. Semoga dengan kepergianku, aku akan bisa melupakanmu. Dan semoga kau selalu bahagia. Aku akan sangat merindukanmu". Gumam Abian yang kini sudah berada di rumahnya. Ia menatap nanar ke arah jendela dengan pikirannya yang benar benar kalut
FLASHBACK ON :
"Abian, ada apa?". Tanya Berli yang menghampiri Abian di ujung koridor menuju pintu luar.
Saat itu mereka memang meninggalkan tempat duduk yang berada di luar ruangan korban kecelakaann itu di tangani, untuk bisa berbicara dengan tenang.
"Berli, aku harus pergi besok.. ". Jawab Abian sambil menatap ke sembarang arah tanpa melihat ke arah Berli
"Tapi kenapa? Dan kemana?". Tanya Berli terkejut
"Aku harus membantu pamanku di Semarang untuk mengelola usahanya. Ya... Memang bukan perusahaan besar, tetapi aku tetap harus melakukannya". Jawab Abian
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu disini?. Bukankah kau sudah bekerja lama disini, pasti akan sulit untuk menyesuaikan diri di tempat kerja baru". Ucap Berli membantah
"Kau tidak perlu khawatir, itu sama sekali bukan masalah". Jawab Abian tersenyum tipis melirik ke arah Berli
__ADS_1
"Apa alasanmu memutuskan untuk pergi Abian?, apa karena sikap ku?". Tanya Berli penuh selidik
"Sama sekali bukan, aku yang bersalah saat itu. Tetapi saat ini, aku pergi karena atas dasar keinginanku. Aku sudah memikirkan hal ini baik baik, dan aku sudah membicarakan ini kepada Bu Inez. Awalnya ia keberatan, tetapi setelah kami bicara, dia mengerti.". Jawab Abian menjelaskan
"Lalu bagaimana denganku? Apa aku temanmu?, kenapa kau pergi.. ". Ucap Berli tak percaya
"Kau temanku yang sangat baik. Berli, dengar. Kau akan bertemu dengan orang yang tepat dan kau akan bahagia, kau tidak akan mengingatku saat itu. Maksudku, bukankah kita bisa berkomunikasi lewat ponsel? Seiring berjalannya waktu kau akan terbiasa tanpa aku. Ingatlah, setelah pertemuan pasti akan ada perpisahan, maka kau harus terima itu". Abian menjelaskan penuh senyuman. Namun lain dihatinya
"Tapi Abian, apa pergi adalah pilihan? Kenapa jauh sekali..... Dan kenapa ini terjadi secara mendadak?". Berli masih tidak percaya pada keputusan Abian
"Berli, dengar. Aku sudah memikirkan hal ini baik baik sedari dulu. Seperti yang aku katakan tadi, kau teman baikku.. Kita masih bisa saling menghubungi lewat ponsel bukan?. Ayolah Berli... ". Jawab Abian penuh senyuman
"Baiklah Abian, apapun keputusanmu, aku menghargainya.... Pergilah jika itu yang terbaik untukmu dan kehidupanmu. Jaga dirimu baik baik disana.. ". Ucap Berli yang pikirannya benar benar kalut
"Hati hati Abian... Berbahagialah disana, aku sudah memaafkan semuanya". Ucap Berli membuat langkah Abian terhenti
"Terimakasih, assalamualaikum". Jawab Abian tersenyum tipis
"Waalaikumsalam". Jawab Berli, kini air matanya lolos begitu saja saat Abian pergi.
Berli menangis saat mengingat pertemanan dengan Abian, kini teman baik itu akan pergi. Meskipun saat itu Abian memperlakukan Berli tidak seharusnya, tetapi itu sama sekali tidak akan menghilangkan kebaikan Abian sebelumnya. Setelah menangis, ia langsung bergegas untuk kembali menunggu di ruangan pasien itu. Ia khawatir keluarganya belum datang. Namun ia terkejut saat mendapati pujaan hatinya berada disana dengan pikiran yang kalut. Ia langsung menghampirinya, dan seketika pria itu langsung memeluknya
FLASHBACK OFF
__ADS_1
......................
"Kemana kedua putraku sebenarnya, kenapa mereka belum pulang?". Gumam Bu Inez sambil meraih benda pipih untuk menghubungi kedua anaknya itu
"Ponsel Romi tidak aktif, sedang dimana anak itu... ". Gumam Bu Inez dan langsung mengalihkan panggilannya ke nomor Felix
Kringggg,,, ponsel Felix berbunyi saat pikirannya benar benar kalut
"Mama... ". Gumam Felix saat mendapati panggilan dari ibunya
"Sayang, kau dimana? Romi juga belum pulang. Dimana kalian? Apa kalian sedang bersama?". Tanya Bu Inez di sebrang telpon
'Bagaimana caraku mengatakannya? Mama pasti akan sangat terpukul'. Batin Felix
"Sayang, kenapa diam?". Ucap Bu Inez kembali di sebrang telpon karena ia tak mendapat jawaban dari Felix
"Romi kritis dan sedang di pindahkan ke urangan ICU". Jawab Felix dengan berat hati
"Apa? Apa maksudmu nak? Romi anakku.. ". Ucap Bu Inez tak percaya
"Mama tenang dulu, Romi mengalami kecelakaan, sekarang dia sudah berada di rumah sakit tak jauh dari pabrik. Dengar ma, jika mama tidak kuat untuk datang sendiri kesini, mama tunggi di rumah saja. Felix akan menjemput mama, Felix khawatir terjadi sesuatu jika mama menyetir sendiri". Ucap Felix
"Tidak sayang, mama kuat.. Mama akan datang sekarang". Ucap Bu Inez dan langsung segera bersiap. Meskipun badannya begitu lemas mendengar kabar anaknya sedang kritis
__ADS_1
"Romi anakku.....". Gumam Bu Inez sambil meneteskan air mata