DIA TAKDIRKU

DIA TAKDIRKU
Episode 199 - Kabar


__ADS_3

Rembulan malam mulai menyapu setiap insan di bumi. Malam ini, begitu gelap dan sunyi. Keresahan mulai menerpa seseorang layaknya deru ombak di laut yang menyapu pantai.


"Dugaanku benar, Felix tidak akan datang. Bahkan ia tidak mengabariku sama sekali". Gumam Berli, yang masih setia menatap nanar ke arah jendela sambil menggenggam ponsel yang sejak tadi tak bersua.


Kringg,,, tiba tiba ponsel berbunyi. Tanda ada telpon masuk.


Dengan segera Berli langsung melihatnya, berharap panggilan itu berasal dari seseorang yang ia harapkan. Namun ternyata dugaan nya salah.


"Aku kira Felix menghubungiku". Berli sedikit kecewa. Namun, ia tetap mengangkatnya karena itu adalah panggilan telpon dari sahabatnya, Laura.


"Lauraa.. Haii.. Assalamualaikum.. ". Ucap Berli bersemangat. meskipun ada sedikit rasa kecewa.


"Waalaikumsallam.. Apa kau tidak rindu kepadaku? Kau tidak menelponku?. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali kita berbincang". Ucap Laura terkekeh di sebrang telpon.


"Sebenarnya aku sangat sangat merindukanmu. Tapi, akhir akhir ini aku selalu merasa lelah, jadi aku tidak sempat menelponmu. Oh ya, sebenarnya kau kemana?. Aku tidak melihatmu bekerja? Ada apa sebenarnya?". Ucap Berli yang sudah merindukan sahabatnya yang satu ini.

__ADS_1


"Berli, maafkan aku. Aku tidak menceritakan nya kepadamu. Sebenarnya, aku sudah tidak bekerja lagi di perusahaan itu. Dan aku sudah tidak tinggal di rumahku lagi, saat ini aku tinggal di Aceh. Maafkan aku, ceritanya panjang sekali. Aku harus segera pergi. Saat itu kami tidak punya pilihan". Balas Laura di sebrang telpon penuh penyesalan


"Jadi maksudmu? Kau meninggalkanku?. Apa kau tidak berniat untuk bertemu denganku terlebih dahulu?". Berli kembali kecewa saat mendengar penuturan Laura


"Sekali lagi, maafkan aku Berli. Ini sangat mendesak. Saat libur bekerjaku nanti, aku berjanji akan datang ke rumahmu. Pokoknya, aku akan datang". Ucap Laura tersenyum di sebrang telpon


"Baiklah tapi kau membuatku kecewa". Berli sedikit merajuk pada sahabatnya


"Haha, maafkan aku. Aku akan menceritakan semuanya nanti ya. Sekarang, ceritakan. Bagaimana hubunganmu dengan Felix?". Tanya Laura di sebrang telpon. Rasanya ia ingin sekali mendengar curhatan sahabatnya ini.


......................


"Ya, aku juga menduga seperti itu. Aku rasa, Bu Delli hanya ingin memperalat Ibumu. Sudah sangat terlihat, ia akan merauk keuntungan yang sangat besar dari investadi ini". Ucap Ozcan penuh pemikiran. Sejak tadi, ia setia menemani Felix di ruangan itu. Meskipun luka yanh Felix dapat tak begitu parah, namun dokter tetap belum memperbolehkan nya pulang. Sementara itu, Ozcan menemani kebosanan Felix disini.


"Bagaimanapun caranya, hal itu tidak boleh terjadi. Aku harus mendapatkan bukti dimana Bu Delli hanya ingin memperalat Ibuku". Ucap Felix geram

__ADS_1


"Aku akan membantumu". Ozcan menepis pundak Felix seraya menenangkan.


Felix yang kalut, benar benar kehabisan kata. Ia terdiam seolah memikirkan masalah yang selalu datang.


"Sudah, jangan pikirkan itu. Lebih baik sekarang kita bicarakan pacarmu. Dimana dia? Dia tidak datang?". Ucap Ozcan mengalihkan suasana. Ia mengedarkan pandangan nya ke sekitar seolah mencari.


"Dia tidak tahu aku ada disini. Dan saat ini, dia pasti sedang menungguku datang. Aku sudah membuatnya kecewa. Seharusnya tadi aku menemuinya terlebih dahulu". Ucap Felix penuh penyesalan. Sontak Ozcan merasa bersalah telah membahas ini. Ia kira hal ini akan mencairkan suasana, namun ternyata tidak.


"Sungguh, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk mengungkit masalah pribadi mu". Ucap Ozcan


"Bukan apa apa". Balas Felix tersenyum tipis


"Pakailah ponselku, kabari dia. Dia sedang menunggumu". Ucap Ozcan sembari memberikan ponselnya kepada Felix.


Felix mengambilnya dengan sedikit segan. Namun ia tetap harus mengabari kekasihnya. Ia tahu, saat ini Berli pasti sedang kecewa.

__ADS_1


__ADS_2