
"Ya sudah, sampai nanti.. ". Ucap Berli menutup telepon dari sahabat nya, Laura. Ia hendak menyimpan telepon nya di nakas.
Kringg,, ponsel itu kembali berbunyi, saat bahkan Berli belum meletakan benda pipih itu dengan sempurna di nakas.
"Hallo?". Dengan enggan, Berli mengangkat panggilan telepon itu. Ia merasa ragu karena nomor itu tidak ada di daftar kontak telepon nya.
"Berli, ini aku. Felix.. ". Ucap Felix di seberang telepon
"Felix..". Gumam Berli. Ia tidak menyangka Felix akan menelpon nya dengan nomor yang berbeda. Ia mulai cemas.
"Maafkan aku. Aku sudah membuatmu kecewa. Tapi semua itu tidak seperti yang kau bayangkan". Ucap Felix. Sejak tadi Ozcan menunggu di luar ruangan. Ia tidak ingin mengganggu privasi sahabat nya.
"Sudahlah, lupakan saja. Lagipula dia sangat serasi deganmu". Ucap Berli dengan nada galau nya. Ia berusaha untuk baik-baik saja. Namun ia belum tahu apa yang terjadi pada Felix.
"Kenapa kau berpikir seperti itu? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?". Tanya Felix heran
"Mungkin seharusnya aku yang menanyakan hal itu". Balas Berli tersenyum palsu.
"Kau cemburu?". Felix terkekeh mendengar tingkah lucu kekasihnya.
"Ti.. Tidak.. ". Berli yang semula galau, kini tersipu malu.
"Lalu kenapa marah sayang?". Ucap Felix di sebrang telepon, berusaha menggoda Berli.
__ADS_1
"Tidak. Lagipula sekarang kau sedang bersama wanita itu kan? Buktinya kau menelponku dengan ponsel orang lain". Ucap Berli mulai merajuk
"Baiklah, sekarang kekasihku yang cantik sedang cemburu. Hanya saja ia sedang berpura pura baik baik saja". Felix semakin gemas dengan tingkah Berli
"Feliixxx..". Berli semakin malu di buatnya. Felix bertingkah seolah Berli begitu overthinking
"Baiklah sayang, dengarkan aku. Aku akan menjelaskan nya nanti. Pertama, aku minta maaf jika membuatmu cemburu, dan aku tidak datang kepadamu untuk menjelaskan. Kedua, aku mohon tetap tenang. Sebenarnya, aku mengalami kecelakaan saat setelah menemui adikku tadi siang. Tetapi kau tidak perlu khawatir, aku baik baik saja. Hanya saja aku belum di perbolehkan untuk pulang oleh dokter". Felix menjelaskan sedikit kejadian yang menimpanya hari ini. Ia akan menjelaskan masalah Lathesia jika mereka sudah bertemu.
"Apa? Kau kecelakaan? Kenapa tidak mengabariku? Dimana kau sekarang? Aku akan datang. Beri aku alamat rumah sakitnya". Berli yang panik, langsung mencerca kekasihnya itu dengan beribu pertanyaan. Seolah kecemburuan nya hilang, perasaan nya kini berganti menjadi penuh ke khawatiran.
"Sudah kuduga kau pasti akan begitu. Kau tidak perlu datang gadis merajuk, besok juga sepertinya aku sudah di perbolehkan pulang. Lagipula hari sudah malam. Aku khawatir terjadi sesuatu padamu di perjalanan". Balas Felix berusaha menahan Berli untuk datang.
"Lalu, dengan siapa kau sekarang? Ada yang menemanimu kan?". Tanya Berli khawatir. Ia kembali berpikir bahwa Felix sedang bersama wanita itu. Sepertinya hari ini ia di penuhi overthinking
"Emm, heem.. Dia menemaniku sejak tadi. Ia memelukku juga seharian". Felix tertawa renyah. Ia masih bisa menggoda Berli untuk membuatnya cemburu.
"Haha.. Tidak sayang. Sejak tadi temanku ada disini. Ia akan menemaniku sampai besok. Dia seorang Pria. Namanya Ozcan. Nanti aku akan memperkenalkan nya padamu". Ucap Felix
"Lalu.. Apa Ibumu tidak ada disana?". Tanya Berli enggan. Ia mulai mengingat kembali perkataan David siang tadi. Tentang siapa sebenarnya Felix.
"Ibuku di rumah. Aku memintanya untuk beristirahat. Lagipula ada Ozcan. Dan aku juga baik-baik saja". Balas Felix.
"Ohh begitu..". Gumam Berli. Namun pikiran nya di penuhi oleh Bu Inez.
__ADS_1
'Apa aku harus menanyakan nya sekarang?. Tidak, aku tidak ingin Felix terbebani'. Berli membatin
"Ekhm. Kau masih disana?". Felix terheran saat Berli tak kembali bersuara.
"Iya, ada apa?". Balas Berli yang lamunan nya kembali buyar
"Kau baik baik saja?". Tanya Felix di seberang telpon
"Aku baik baik saja. Lalu bagaimana denganmu? Apa itu sakit?". Berli mulai menanyakan keadaan Felix dan mengesampingkan ego nya
"Aku baik-baik saja. Apalagi setelah mendengar suaramu". Felix terkekeh
"Ishhh". Berli tersenyum
"Ya sudah, kau beristirahatlah. Aku akan menemuimu besok. Maaf aku sudah berpikir buruk tentang mu". Ucap Berli
"Baiklah Nona, saya akan menuruti ucapanmu. Jaga dirimu baik baik. Jangan cemburu terus". Felix terkekeh
"Ishhh Felix". Berli kembali merona
"Ya sudah, beristirahatlah. Sampai bertemu besok.. ". Ucap Felix
"Baiklah, dahh.. ".
__ADS_1
Merekapun menutup telepon nya masing masing. Berli kembali berpikir atas apa yang ia lakukan. Ia merasa begitu bodoh.
"Seharusnya aku tidak berpikir terlalu jauh. Jadinya, aku menjadi seorang suudzon. Ya Allah maafkan aku". Gumam Berli. Ia menarik selimut nya dan membaringkan diri di kasur. Rasanya ia ingin cepat cepat besok. Ia ingin melihat keadaan kekasihnya itu.